“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan laki-laki dan wanita.” (Bukhari, Muslim). Setiap muslim yang hendak memasuki WC atau kamar mandi disunnahkan membaca...
Read more »
Sampai malam hari, aku terus dihantui rasa bersalah. Aku merasa tidak nyaman dan gelisah. Betapa tidak, aku terus-menerus dihantui rasa takut gila. Petanda-petanda dan isyarat-isyarat yang muncul betul-betul menakutkan. Bahkan, kini, aku betul-betul merasa sudah seperti orang gila. Sudah jelas bahwa berhubungan dengan Yanti adalah sesuatu yang tidak baik, namun ternyata masih saja terus...
Read more »
Malam itu, aku, Wawan, dan Alidrus akhirnya sibuk menafsirkan pesan-pesan leluhurku. Untuk yang pertama, aku harus mencegah orang dekatku yang akan pergi ke luar kota sebelum ia membereskan masalahnya. Pesan ini, mudah ditafsir, tapi sulit ditebak? Siapakah orang dekatku yang akan pergi ke luar kota? Anak, isteriku tentu bukan, aku belum mendengar rencana seperti...
Read more »
Jarak aku dengan Rahman tidak begitu jauh. Hanya gelap malam yang memisahkan kami. Karena itu, ketika ia menoleh, aku tidak sempat menghindar dan memang aku pun tidak mungkin menghindar. Apalagi, aku memang bukan hendak memata-matainya. Dan, agaknya, ia pun merasakan hal itu. Dengan tenang Rahman menyapaku, “Oh, Bapak?”
Read more »
Gara-gara Yanti, pagi itu, akhirnya aku tidak jadi mengajar. Aku menungguinya sampai menjelang siang, mendekati lohor. Barulah setelah kondisinya membaik, aku meninggalkan dirinya. Itupun ia minta aku berjanji untuk menjenguknya nanti malam. Ia, katanya, belum dapat menerima kepergianku secepat ini. Kata Yanti, aku seharusnya tidak pergi dari dirinya. Di daerahnya, di Semarang, banyak sekali...
Read more »
Aku melihat Wawan mengangguk-angguk. Kuhisap rokokku, kuhirup kopiku. Rasa hangat mengalir menyebar ke seluruh tubuh. Wawan juga menghisap rokoknya dalam-dalam. Kamar penuh asap rokok, kamar seakan berkabut. Dalam keremangan cahaya lampu, sesaat kemudian, Wawan terlihat berkonsentrasi, memejamkan matanya dengan posisi duduk bersila bagai orang bermeditasi. Tubuhnya yang kurus kadang tergetar-getar. Mimik wajahnya berubah-ubah. Dan,...
Read more »
Sebenarnyalah jantungku berdegup mendengar ceritanya. Dari nada suara dan cahaya matanya, aku yakin ia tidak berbohong, tapi kuusahakan menenangkan diri. Aku hanya dapat mendengarkan pengaduannya itu sambil sesekali melanjutkan makan sendok demi sendok. Pikiranku melayang, teringat “senjataku” yang diikat para leluhur di sebuah pohon. Mungkinkah dia? Mungkin sebelum para leluhur itu mengikatnya kemarin malam,...
Read more »
Rasa takutku kian menguat. Tidak terpikir seumur hidupku harus berhadapan dengan masalah seperti ini. Jadi, selama ini, ada sosok lain yang menyerupaiku dan menjadi senjataku? Aku betul-betul bingung dan tak mampu berpikir lagi. Terus terang aku takut. Takut pada diriku sendiri. Akhirnya, kuputuskan aku akan berubah dan harus berubah. Tapi, itu hanya kuucapkan bagi...
Read more »