29. KEHILANGAN DIRI

Thursday, 26 November 2009
By Mohammad Fauzy
29. KEHILANGAN DIRI

Wawan baru saja tiba dari Semarang tadi malam. Bersamaan dengan itu, aku juga menerima kabar dari Yanti,  hari ini, ia akan tiba di Jakarta. Yanti minta dijemput. Ia berangkat dari Semarang tadi malam dan akan tiba di Jakarta sekitar pukul 9:00. Karena itu, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Pagi-pagi aku sudah bangun dan...
Read more »

28. DIRI DI DALAM DIRIKU

Sunday, 18 October 2009
By Mohammad Fauzy
28. DIRI DI DALAM DIRIKU

Aku agak terkejut juga dengan pandangan seperti itu. Dada berdebar-debar dengan beragam pertanyaan. Apakah yang aku lihat itu petanda bahwa aku sudah mulai mampu melihat alam gaib sebagai mana Wawan mampu melihat kehadiran-kehadiran para leluhurku? Jika benar, apakah daya penglihatanku sudah mulai menguat sehingga aku mampu melakukan hal itu? Atau, sebaliknya, apa yang telah...
Read more »

27. AIR TERJUN BERTINGKAT TUJUH

Tuesday, 29 September 2009
By Mohammad Fauzy
27. AIR TERJUN BERTINGKAT TUJUH

Sampai pagi, aku tidak dapat tidur memikirkan mimpi aneh itu. Aku jadi ingat pandangan seorang psikiater terkenal Sigmund Freud. Freud adalah penemu  sebuah metode dan sebuah pemikiran dalam psikologi yang disebut Psikoanalisa. Menurut orang Yahudi ini, mimpi merupakan hasil dari proses keinginan atau pikiran-pikiran yang tidak dapat dipenuhi, yaitu keinginan atau pikiran-pikiran yang tidak...
Read more »

26. KENANGAN DAN MIMPI ANEH

Monday, 14 September 2009
By Mohammad Fauzy
26. KENANGAN DAN MIMPI ANEH

Dengan alasan besok aku harus mengantarnya, aku kemudian buru-buru pamit, pulang cepat-cepat dari kos-kosan Yanti. Di sepanjang perjalanan, dadaku tidak henti-hentinya masih berdegup kencang menahan takut. Di langit, bulan tinggal separuh ketika aku tiba di pertigaan Srengseng Sawah. Walau rasanya masih belum larut, ternyata suasana di sana tampak sepi sekali. Toko-toko yang berjejer di...
Read more »

25. SI ORANG GILA

Saturday, 5 September 2009
By Mohammad Fauzy
25. SI ORANG GILA

Bagiku, apa yang dilakukan Ibu Mira Diana itu sudah jauh melampaui grafologi. Grafologi sebagai ilmu jelas tidak sanggup “membaca” masa lampau seseorang. Ia hanya membaca karakter berdasarkan tulisan tangan dan jika kemudian ia menggunakannya untuk membaca tanda tangan, ini  pun sudah luar biasa. Tanda tangan seseorang sebagai identitas menunjukkan informasi yang  sangat terbatas dari...
Read more »

24. PEMBACA TANDA TANGAN

Sunday, 23 August 2009
By Mohammad Fauzy
24. PEMBACA TANDA TANGAN

Akhirnya, tiba juga masa perpisahan. Besok, diklat ditutup. Aku berpamitan dengan teman-teman, khususnya teman-teman dari Banten. Malam itu, aku mendatangi mereka satu per satu. Aku berpamitan dengan Syafrudin, Raenan, Rahman, dan Wan Ahmad.  Dalam kesempatan itu, mereka mengundang aku, pada suatu hari nanti, untuk bertandang ke kampus mereka di Banten. Aku mengucapkan terimakasih atas...
Read more »

Pages

What people are reading right now