About
Assalammualaikum! Catatan Bawah Sadar (CBS) merupakan nama blog sekaligus judul sebuah cerita bersambung. Cerita dirilis pertama kali di wordpress, 6 Mei 2009, setelah secara bersamaan, mengalami uji coba di blogspot. Melihat perkembangan minat pembaca yang cukup besar, pada 18 Juni 2009, CBS pindah hosting dengan alamat sendiri: dari http://www.neurosains.wordpress.com ke http://www.neurosains.com.
Kini, 1 Januari 2010, delapan bulan telah berlalu. Sampai 31 Desember 2009, menurut catatan Google Analytics, CBS telah dikunjungi 1.887 kali dengan pengunjung tetap (Absolute Unique Visitor) 797 orang. Mereka secara kontinyu mengikuti seri CBS dan bolak-balik telah membaca 6.763 halaman (pageview), dengan rata-rata waktu kunjung situs 7 menit 42 detik/hari, dan mengakses CBS dari 60 kota yang terserak di 18 negara.
Sinopsis
Inilah sebuah kisah tentang seorang laki-laki yang memasuki masa-masa paling kritis dalam kehidupannya. Pada suatu malam, tanpa diduga, ia didatangi mahkluk-mahkluk yang mengaku diri sebagai karuhun, leluhurnya. Ia disuruh sholat dan berbersih-bersih. Ia terpaksa harus mengambil keputusan yang cepat dan tepat agar dapat menjalani sisa kehidupan secara lebih baik. Ia harus berubah. Namun, ketidakmengertian tentang diri, keluarga, persahabatan, cinta, dan agama membuat perubahan dirinya penuh tekanan, konflik, dan bahkan pertentangan.
Secara bertahap, terjadi perubahan-perubahan batin dan perubahan-perubahan secara fisik. Sholat-sholatnya menimbulkan ketegangan-ketegangan dalam proses adaptasi dirinya yang dahulu dengan dirinya yang sekarang. Terjadi gangguan pada penginderaannya, pada penglihatan, pada pendengaran, pada penciuman, pada pengecapan, dan pada perabaannya. Muncul gangguan-gangguan persepsi. Muncul apa yang disebut psikologi sebagai “halusinasi”. Ia mulai menginderai perubahan-perubahan yang terjadi, antara lain, secara spasial-penguasaan ruang, secara kinestetik-pengendalian gerak, secara intrapersonal-bahasa batin, dan juga secara hubungan-interpersonal. Namun, sayang, walau ia telah menggeluti psikologi dan filsafat selama 20 tahun lebih, banyak sekali hal yang tidak mampu ia pahami tentang dirinya, apalagi tentang orang lain.
Pada saat-saat itulah, ketika hampir seluruh anggota tubuhnya bergerak sendiri tanpa kendali, ketika jin, syaitan, dan iblis telah menguasai hampir seluruh tubuh dan kesadarannya, agama muncul dalam memberikan penjelasan-penjelasan dan solusi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah hal “gaib” itu tentu harus dijawabnya secara sosial. Kadang, ia membutuhkan penjelasan itu bagi dirinya, juga untuk orang lain di sekeliling. Neurosains adalah salah satu alternatif baginya untuk memahami segala perubahan pada diri. Neurosains membantunya memadukan penjelasan agama dengan penjelasan tentang studi otak dan susunan syaraf manusia. Otak dan sel-sel syarafnya yang kelabu ternyata berperan penting dalam menata kesadaran diri. Kesadaran tingkat tingginya – kesadaran tentang eksistensi diri – yang juga memiliki tempat di dalam otak, kemudian menjadi alat baginya untuk berjuang mencari Tuhan, Allah SWT. Kesadaran itu menuntun dan menjadikannya beralih dari mengidolakan Plato, Aristoteles, John Stuart Mill, kapitalisme, sosialisme, Rolling Stone, dan filsafat menuju ke Islam. Ia menjadi paham, tidak boleh ada idola lain bagi dirinya, kecuali Rasululah SAW. Ia juga menjadi paham, tidak boleh ada yang lain di hatinya, kecuali Allah SWT.
Bertemukah dia dengan Ar Rahman? Siapakah dirinya yang sesungguhnya? Mengapa dalam kurun waktu tiga puluh tahun ini ia telah menjauh dari Allah? Mengapa para jin dan syetan berusaha keras dalam menghalang-halangi perjalanan ibadahnya? Siapa pula wanita-wanita yang selama dalam kurun waktu kehidupannya telah menjauhkan dan mendekatkannya kepada Sang Pencipta? Dan, siapa pula wanita yang sanggup bersabar dan menunggu dirinya yang terus berada dalam pertarungan mempertahankan kesadaran diri dan hatinya? Adakah cinta atau hidup ini hanya ilusi semata?
Fiksi unik dan mengelitik ini ditulis dan diberi judul Catatan Bawah Sadar. Kesamaan nama atau tempat dalam cerita hanya kebetulan. Karena fiksi mengandung unsur-unsur keyakinan terhadap agama, mohon dibaca secara teliti dan bijaksana. Bacalah satu per satu sampai akhir cerita. Terimakasih.
Penulis
Assalammualaikum.
Ini sebuah kisah tentang seorang laki-laki yang memasuki masa-masa paling kritis dalam kehidupannya. Ia harus mengambil keputusan yang cepat dan tepat agar dapat menjalani sisa kehidupan secara lebih baik. Ia harus berubah. Namun, ketidakmengertian tentang diri, keluarga, persahabatan, cinta, dan agama membuat perubahan dirinya penuh tekanan, konflik, dan bahkan pertentangan.
Secara bertahap, terjadi perubahan-perubahan batin dan perubahan-perubahan secara fisik. Sholat-sholatnya menimbulkan ketegangan-ketegangan dalam proses adaptasi dirinya yang dahulu dengan dirinya yang sekarang. Terjadi gangguan pada penginderaannya, pada penglihatan, pada pendengaran, pada penciuman, pada pengecapan, dan pada perabaannya. Muncul gangguan-gangguan persepsi. Muncul apa yang disebut psikologi sebagai “halusinasi”. Ia mulai menginderai perubahan-perubahan yang terjadi, antara lain, secara ruang-spasial, gerak-kinestetik, batin-intrapersonal, dan juga secara hubungan-interpersonal. Namun, sayang, walaupun ia telah menggeluti psikologi dan filsafat selama 20 tahun lebih, banyak sekali hal yang tidak mampu ia pahami tentang dirinya, apalagi tentang orang lain.
Pada saat-saat itulah, ketika hampir seluruh anggota tubuhnya bergerak sendiri tanpa kendali, ketika jin, syaitan, dan iblis telah menguasai hampir seluruh tubuh dan kesadarannya, agama muncul dalam memberikan penjelasan-penjelasan dan solusi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah hal “gaib” itu tentu harus dijawabnya secara sosial. Kadang, ia membutuhkan penjelasan itu bagi dirinya, juga untuk orang lain di sekeliling. Neurosains adalah salah satu alternatif baginya untuk memahami segala perubahan pada diri. Neurosains membantunya memadukan penjelasan agama dengan penjelasan tentang studi otak dan susunan syaraf manusia. Otak dan sel-sel syarafnya yang kelabu ternyata berperan penting dalam menata kesadaran diri. Kesadaran tingkat tingginya – kesadaran tentang eksistensi diri – yang juga memiliki tempat di dalam otak, kemudian menjadi alat baginya untuk berjuang mencari Tuhan, Allah SWT. Kesadaran itu lalu menjadikannya beralih dari mengidolakan Plato, Aristoteles, John Stuart Mill, kapitalisme, sosialisme, filsafat menuju ke Islam. Tidak ada lagi idola lain baginya kecuali Rasululah SAW. Tidak boleh ada yang lain di hatinya, kecuali Allah SWT.
Bertemukah dia dengan Ar Rahman? Siapakah dirinya yang sesungguhnya? Mengapa dalam kurun waktu tiga puluh tahun ini ia telah menjauh dari Allah? Mengapa para jin dan syetan berusaha keras dalam menghalang-halangi perjalanan ibadahnya? Siapa pula wanita-wanita yang selama dalam kurun waktu kehidupannya telah menjauhkan dan mendekatkannya kepada Sang Pencipta? Dan, siapa pula wanita yang sanggup bersabar dan menunggu dirinya yang terus berada dalam pertarungan mempertahankan kesadaran diri dan hatinya?
Fiksi unik dan mengelitik ini diberi judul Catatan Bawah Sadar. Kesamaan nama atau tempat dalam cerita hanya kebetulan. Karena fiksi mengandung unsur-unsur keyakinan terhadap agama, mohon dibaca secara teliti dan bijaksana. Bacalah satu per satu sampai akhir cerita. Terimakasih.
Penulis


