34. JERITAN-JERITAN
Hari ini, ibuku berangkat haji. Aku sangat menaruh harapan pada dirinya agar mendoakan aku sembuh dari segala jenis penyakit yang bersemayam di dalam diri. Dan, tentu saja, aku berharap, ketika pulang nanti, ia membawa air Zam Zam. Bagaimanapun, Air Zam Zam mengandung banyak khasiat. Aku yakin, penyakitku dapat disembuhkan air ajaib itu.
Ibuku mengangguk, mengiyakan, “Tapi, kau jangan lupa,” katanya, “kau juga harus berhati-hati menjaga diri.”
“Ya,“ jawabku.
Ibuku pun lalu berangkat bersama rombongannya. Ketika pulang ke rumah, ucapannya masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku memang harus terus berhati-hati menjaga diri. Setiap saat, setiap detik, segala kemungkinan dapat saja terjadi pada diriku. Setiap saat, kesadaranku dapat hilang, berganti dengan kesadaran lain. Kekuatan-kekuatan asing di dalam diriku tampaknya tidak pernah berhenti hendak mengecohkan pikiran, perasaan, dan segala keyakinanku. Bagaimanapun, mengenang kejadian di Kampung Melayu beberapa waktu yang lalu, selalu membuat diriku was-was dan ketakutan. Was-was dan ketakutan tidak mampu menguasai diri. Tidak pernah terbayangkan olehku, kalau saja aku sampai sholat di trotoar sore itu, jelas tidak ada bedanya aku dengan sejumlah orang gila yang kadang aku lihat sholat di jalanan.
Namun, setiap kejadian yang tidak menyenangkan tentu mengandung hikmah. Sejak kejadian di Kampung Melayu, aku mulai merasakan, dengan cara sholat di Mesjid, ternyata pernafasanku terasa lebih nyaman. Uap-uap air yang memenuhi pernafasanku menjadi berkurang. Namun, setelah sholat, biasanya, pernafasanku menyempit kembali. Dengan tubuh yang masih terus dipenuhi oleh aliran-aliran hangat, aku bagai orang yang kekurangan oksigen. Karena itu, sebagai bantuan, aku terus berzikir dan juga mulai mencari keterangan-keterangan tentang sholat berjamaah. Namun, yang paling penting bagiku ialah terus berupaya mencari penjelasan tentang mimpiku beberapa waktu lalu. Mimpi tentang aku berkepala kerbau dengan beberapa lubang yang harus aku tutupi itu, sungguh amat mempengaruhi pikiranku. Aku yakin, itu merupakan suatu petunjuk. Hanya, lubang apa saja yang harus kututupi, aku belum tahu. Untunglah, ada sebuah buku yang aku peroleh melalui isteriku dapat memberikan gambaran, walau tidak terlalu tepat, namun paling tidak, ia dapat menuntun aku mendekati arti mimpi itu.
Isteriku membelikanku sebuah buku yang menjelaskan titik-titik hawa nafsu yang terdapat pada diri manusia. Kalau lubang-lubang yang harus aku tutupi itu adalah titik-titik lubang hawa nafsu, dalam buku yang dikarang Masruri itu, dijelaskan ada tujuh titik hawa nafsu: Amarah Bis-Su, Kamilah, Mutmainnah, Lawwamah, Mardiyah, Rodhiyah, dan Mulhamah. Masing-masing hawa nafsu itu memiliki tempat tertentu di tubuh manusia. Karena jumlahnya ada tujuh, titik-titik itu pun terdapat pada tujuh lokasi di tubuh manusia. Jadi, bukan delapan sebagai mana yang muncul dalam mimpiku. Karena itu, satu lubang lagi titik hawa nafsu apa? Pertanyaan ini tidak terjawab. Akhirnya, buku Masruri itu pun kuanggap sangat terbatas untuk membantuku memahami mimpi yang terdahulu.
Ketika Wawan pulang kerja malam itu, aku pikir, aku dapat mendiskusikan hal itu dengan dirinya. Namun, melihat situasi dirinya yang tampak lelah, aku mengurungkan niat. Wawan sudah beberapa hari ini bekerja. Aku gembira juga melihat dia mampu berdiri sendiri walau masih sebatas baru mencoba. Karena itu, walaupun tidak dapat membicarakan hal diriku dengan dirinya, aku tidak begitu kecewa. Selama beberapa hari ini, sesungguhnya, ia telah berubah menjadi manusia baru. Wawan telah menjadi seorang pekerja, segala aktivitasnya mulai terikat waktu, termasuk waktunya untuk berbincang-bincang bersamaku menjadi kian berkurang.
Sejalan dengan itu, aku semakin menyadari, telah terjadi perubahan-perubahan yang aku sendiri tidak mampu menduganya. Ada kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan-perubahan itu. Termasuk perubahan pada diri Yanti. Aku tidak tahu, apakah setelah peristiwa di Kampung Melayu itu, ia berpikir positif atau negatif tentang diriku. Aku sendiri tidak begitu menghiraukan penilaiannya. Positif atau negatif, tetap saja aku yang menanggung akibat-akibat perbuatanku. Yang jelas, tidak lama setelah itu, ia mengatakan kepadaku, mantan pacarnya sewaktu SMA hendak melamar dirinya. Aku tidak merasa keberatan dan sama sekali sudah tidak memiliki alasan untuk berkeberatan, malah ada rasa syukur, Allah telah mencarikan jalan keluar yang tepat bagi permasalahan dirinya. Paling tidak, ia telah menemukan tempat yang sesuai dengan situasi dirinya sebagai seorang gadis dewasa. Karena itu, ketika ia minta aku menemaninya bertemu Firly, mantan pacarnya, aku pun tidak menolak. Dengan berbagai macam perasaan, siang itu juga, aku mengantar ia bertemu dengan mantan pacarnya itu di stasiun Gambir.
Yanti mengenalkan mantan pacarnya itu kepadaku. Setelah itu, aku biarkan mereka mengobrol berdua di kantin stasiun. Aku sendiri, dengan tubuh penuh aliran-aliran hawa hangat dan kadang-kadang panas, hanya mondar-mandir memperhatikan kereta api yang lalu-lalang silih berganti, keluar masuk stasiun Gambir. Aku merasakan, gerakan-gerakan di atas kulit kepalaku semakin kuat dan semakin sering. Sebagaimana aku katakan, gerakan-gerakan itu seperti semut, tapi bukan; seperti kutu, tapi juga bukan. Dan, yang lebih menakutkan, setiap kuraba, tidak ada apa-apa.
Lama juga Yanti mengobrol dengan Firly. Setelah senja, barulah ia mengakhiri pertemuannya dan pulang bersamaku. Namun, sejak itu, gerakan-gerakan di kepalaku kian terasa kuat dan “real”. Sangat tidak enak, tapi, dengan pelahan-lahan, beberapa hari ini, aku berusaha mencoba hidup dengan cara itu. Termasuk, ketika menemani Yanti belanja di Blok M, terasa gerakan-gerakan di kepalaku semakin banyak dan satu per satu berjatuhan. Yang paling tidak pernah dapat aku lupakan ialah ketika pada suatu malam, ketika makan bersama Yanti di Blok A, benda-benda yang bergerak itu terasa kian banyak, lalu terasa bergelindingan dari atas kepalaku satu-per satu. Aku merasa ketakutan, tapi aku tidak mampu menjelaskannya kepada Yanti. Lagi pula, bagiku, semua itu masih misteri. Apakah yang berjalan cepat secara mengelinding dan berjatuhan itu?
Jika aku renungkan, walau untuk menjelaskan kejadian-kejadian itu penuh dengan kesulitan, namun aku masih memiliki suatu pemahaman tertentu di dalam batinku. Benda-benda yang bergerak dan kemudian luruh dari kepalaku itu paling tidak dapat aku identifikasi keberadaannya, yaitu sejak aku mulai menyadari hak-hak dan kewajibanku terhadap Yanti dan keluargaku. Sejak aku mulai bersikap proporsional terhadap dirinya setelah aku marah kepada Yanti di rumah makan Padang pada malam itu. Rupanya, kesadaran-kesadaran itu sangat erat kaitannya dengan gerakan-gerakan aneh di kepalaku. Semakin aku longgar dan melepaskan Yanti dengan kemandiriannya, semakin luruh juga benda-benda yang bergerak di kepalaku. Ketika berbelanja di Blok M, aku biarkan Yanti untuk membayar sendiri barang-barang yang dibelinya. Biasanya, aku yang membayar. Kalau ia membayar sendiri, aku marahi dia. Begitu juga ketika makan di Blok A, aku biarkan dia makan sedikit sesuai keinginannya, tidak seperti biasa, aku selalu memarahinya untuk makan yang banyak.
Semua itu ternyata sangat berpengaruh pada keberadaan diriku. Pelahan-lahan, aku mulai merasakan ada “sedikit” kenyamanan dalam diriku. Tapi, sejalan dengan itu, ketakutan akan gila masih terus menghantui diriku. Bukankah semua itu hanya aku yang merasakannya? Tidak ada yang tahu. Jangan-jangan, semua yang terjadi itu hanya halusinasi. Hanya aku yang merasakannya, tidak ada yang mampu memahaminya. Perasaan-perasaan ini tentu saja membuat aku ketakutan. Dengan membaca beberapa pendapat tentang penyakit jiwa, aku coba meyakinkan diriku bahwa aku masih normal. Sama sependapat denganku, Wawan juga menganggap aku masih normal. Malah, katanya, “Abang tidak sakit, hanya tenaga energi Kundalini Abang tampak sedang bangkit.”
“Tenaga apa? Kundalini?”
Wawan mengangguk-angguk. Ia menjelaskan sedikit bahwa tenaga Kundalini ini sangat dicari-cari orang dan sangat diyakini dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain, untuk penyembuhan berbagai macam penyakit dan sebab itu cara membangkitkan tenaga Kundalini ini tentu saja sangat dicari-cari orang. Tidak banyak orang yang mampu mengatasinya. Kebanyakan, kata Wawan, setelah energi Kundalininya bangkit, orang tersebut mengalami gangguan jiwa karena tidak mampu menguasainya.
Aku mendengar Wawan dengan penuh tanda tanya dan karena itu menyimaknya secara seksama. Baru kali ini aku mendengar tentang energi Kundalini. Sambil mendengar ia bercerita, aku menghisap rokokku sebatang demi sebatang. Asap memenuhi ruang kerjaku. Wawan juga sesekali menghembuskan kepulan asap rokoknya sambil menikmati kopi yang telah disiapkan isteriku. Makin malam, ceritanya makin ramai. Namun, yang paling mengejutkanku ialah ketika ia bercerita tentang kejadian yang dialaminya tadi.
Setelah pulang kerja sore tadi, karena gerah, ia mandi. Setelah mandi, ketika melewati dapur yang terletak di belakang, menurut Wawan, ia mendengar suara anak-anak kecil. Semakin ia dengar dengan seksama, suara-suara itu semakin nyata, yaitu suara anak-anak kecil yang menjerit-jerit, “Ramai sekali suara mereka,” kata Wawan, “mereka menjerit-jerit minta tolong.”
“Memangnya mereka kenapa?” (Bersambung)

wah, seru ceritanya gan, ditunggu updatenya…