33. ALIRAN-ALIRAN HANGAT

Tuesday, 9 February 2010
By Mohammad Fauzy

Kejadian malam itu membuat aku semakin hati-hati dalam berhubungan dengan Yanti. Hati-hati, bukan terhadap Yanti, tapi terhadap diriku sendiri. Aku benar-benar kuatir dengan diriku. Dalam beberapa hari terakhir ini, emosiku benar-benar menjadi tidak stabil. Hawa amarah bergolak terus-menerus di dalam diriku. Karena itu, walau menurut Wawan dan Zainan aku telah memperoleh karomah dengan beberapa kemampuan, kini, aku menjadi meragukan hal-hal tersebut. Ketika ingat bagaimana aku sempat tertarik kepada Dewi beberapa hari lalu, aku jadi berpikir, bagaimana mungkin orang yang telah menerima karomah, begitu cepatnya tertarik kepada perempuan lain walau ia telah beristeri? Bagaimana mungkin pula orang yang telah menerima karomah masih memiliki sifat pemarah dan bahkan menjurus pada perbuatan kekerasan secara fisik?

Karena itu, aku lebih tajam lagi untuk mengkritisi diri. Sebaliknya, terhadap Yanti, aku coba bersikap lebih longgar. Semakin jelas, dalam perenunganku, bagaimanapun ia bukan seseorang yang menjadi “hak” bagiku. Ia memiliki keluarga. Ia masih memiliki kedua orangtua. Karena itu, merekalah yang paling berhak terhadap diri Yanti. Terhadap kesulitannya, terhadap kegembiraan, dan juga terhadap pilihan-pilihan hidupnya, mereka yang paling layak menanggungnya. Bukan aku. Aku memiliki hak dan tanggung jawab yang lain. Dengan cara ini, aku berusaha untuk menempatkan diri secara proporsional. Karena itu, aku  pun tidak berhak untuk marah-marah kepada dirinya. Sejalan dengan itu, aku pun tidak memiliki kewajiban apapun terhadap dirinya. Kalaupun aku harus membantu Yanti, harusnya bantuan itu tidak melanggar hak-hak keluarga Yanti dan kewajibanku terhadap keluarga. Karena itu, aku kemudian minta maaf kepada Yanti mengenai kejadian di malam itu, ketika aku memarahinya di rumah makan Padang.

Perubahan-perubahan sikapku itu agaknya dirasakan oleh Yanti. Namun, tentu, aku tidak mungkin menjelaskan semua hal yang terjadi di balik itu. Bersamaan dengan perubahan sikap-sikapku itu, gangguan yang muncul bukannya makin mereda. Terasa sekali pernafasanku terasa menyempit dan dipenuhi oleh “semacam uap air”. Bentuk kepalaku terasa berubah-ubah dan kadang, kurasa ada yang bergerak-gerak di atas kulit kepalaku. Seperti semut, tapi bukan. Seperti kutu, tapi juga bukan..

Yang jelas, setiap kuraba, tidak ada apa-apa. Karena itu, aku semakin tertekan. Selain itu, warna ungu sebesar koin yang kulihat beberapa minggu terakhir ini, kian sering muncul di tembok rumah, terutama setiap aku melewati ruang tengah. Malah, warna ungunya itu kini kian membesar dan membuat mataku kadang terasa tegang. Bagaimanapun, sebagai mana yang telah aku jelaskan, ia sesungguhnya ada di mataku, bukan di tembok tersebut. Sehingga, sering kali aku memikirkan, ada apa sebenarnya di mataku? Apa yang telah aku lakukan?

Semua gangguan tersebut, ditambah dengan gerakan-gerakan asing yang semakin kuat di dalam diriku, betul-betul membuat sholat-sholatku kian menjadi terganggu. Lintasan-lintasan pikiran muncul dengan cepat silih berganti sehingga bacaan dan gerakan sholatku kadang terkecoh. Sholat menjadi lamban dibandingkan dengan orang-orang lain. Hal ini tentu saja sangat mengganggu bila aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting atau berhubungan dengan orang lain. Dan, dalam keadaan-keadaan tertentu, hal ini jelas dapat mengundang pertanyaan. Di antaranya, sekalipun sudah aku coba menutup-nutupi keadaanku, toh masih juga terjadi dan justeru di hadapan Yanti.

Aku masih ingat, pernah ketika sedang berjalan bersama Yanti, — setelah menemani dia membesuk temannya di sebuah rumahsakit, di wilayah Kampung Melayu,— tiba-tiba terdengar azan sholat Asar. Karena itu, aku segera mencari mesjid di sekitar terminal bus Kampung Melayu dan sholat di sana. Yanti menunggu di luar. Karena gangguan yang luar biasa, saat itu, aku sholat sangat lama.  Tidak heran, setelah itu, Yanti mengeluh, “Kok, lama sekali, Pak?”

Terpaksa aku jelaskan, aku agak mengalami gangguan sehingga lupa bacaan dan gerak sholatku. Dia menyarankan, sebaiknya, jika sholat, aku ikut sholat berjamaah saja, “Dengan berjamaah, Bapak ‘kan tinggal mengikuti imam. Sholat bisa jauh lebih cepat,” jelasnya.

Sejak itu, seingatku, aku mulai memperhatikan sholat berjamaah. Aku mulai sedikit lebih tahu tentang hal itu. Selama ini, aku lebih banyak sholat sendiri. Walau sholat di mesjid, aku jarang berjamaah. Begitu juga di rumah, kecuali kalau kebetulan ada Zainan dan saat itu sedang masuk waktu sholat.

Hal-hal semacam itu tidak hanya sekali terjadi bersama Yanti dan aku jelas memang tidak dapat menjelaskan apapun kepada dirinya tentang diriku. Termasuk, sebuah kejadian yang juga terjadi di Kampung Melayu. Waktu itu, aku sengaja mengajak Yanti makan sop dan sate kambing yang terletak di bawah jembatan, dekat terminal. Dari Salemba, kami tiba di sana menjelang Magrib. Setelah memesan sop dan sate, entah mengapa, pernafasanku terasa menyempit dan bersamaan dengan itu, mendadak muncul dorongan yang sangat kuat untuk segera sholat. Ketika terdengar azan, aku betul-betul sudah tidak sanggup mengendalikan diri lagi. Seluruh tubuhku menegang, ada sesuatu yang kurang nyaman di tubuhku. Kepala mulai terasa berat. Karena itu, dengan cepat aku minta selembar koran kepada tukang sate di pinggir jalan itu.

Sempat kulihat Yanti kebingungan. Ketika aku mulai menggelar koran di trotoar, dengan cepat ia memegang tanganku, “Kalau mau sholat, jangan di sini, Bapak!” teriaknya keras di antara gemuruh suara kendaraan.

Aku sempat berontak, namun untunglah masih sedikit ada tersisa kesadaranku. Walau sesaat, aku sempat tersentak, aku tersadar, ada suatu dorongan yang keliru di dalam diriku, sesuatu yang amat mengacaukan kendali diri. Lintasan-lintasan pikiran sungguh luar biasa cepat dan berganti-ganti. Dan, aku rasanya betul-betul telah menjadi orang gila. Karena itu, dengan perasaan galau, penuh ketakutan, aku akhirnya diantar Yanti mencari mesjid  yang ternyata cukup jauh juga masuk ke sebuah jalan kecil di badan jalan Otto Iskandardinata. Tidak heran, ketika tiba di mesjid, nafasku terengah-engah. Tubuh rasanya dipenuhi dengan uap panas. Ada semacam aliran-aliran hangat yang bergerak di sekujur tubuh, turun ke betis dan lepas melalui ujung-ujung jari kaki dan jemari tangan. Aku tidak mampu melihatnya, hanya aku merasakan aliran-aliran hangat itu bergerak halus tanpa henti bagaikan uap.

Dan, aliran-aliran itu semakin terasa cepat dan luruh ketika aku sudah mulai masuk dalam barisan jamaah. Selama sholat, benar-benar baru sekali ini aku merasakan tubuh bagaikan melepaskan uap panas. Dan, makin lama makin kurasakan pernafasanku kembali pulih. Namun, sayang, setelah usai sholat, aliran-aliran hangat di tubuhku itu ternyata tetap tidak berhenti. Bahkan, ketika usai sholat Isa pun, aliran-aliran-aliran hangat di tubuhku itu masih terus bergerak, tubuh bagai dipenuhi asap. Tentu saja aku merasa bingung dan ketakutan. Semua proses tersebut terasakan oleh diriku, tapi hanya sebatas itu, hanya merasakan sesuatu yang tidak mampu aku lihat. (Bersambung)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pages

What people are reading right now