32. AMARAH
Aku tiba di rumah agak siang hari itu. Badanku kurang enak setelah mengajar tadi. Rumah sepi. Tidak aku temui isteriku. Anakku jelas masih sekolah. Ia biasa pulang sangat siang sekali. Karena itu, setelah mengganti pakaian, aku langsung menuju kamar kerja. Terasa hawa dingin menyergap.
Di sana, kulihat Wawan sedang duduk dalam posisi bersamadi. Tangannya yang kurus bergerak ke sana ke mari. Entah apa yang sedang dilakukannya. Yang menarik bagiku, beberapa cahaya kecil bergemerlapan memantul dari kedua tangannya. Kian dekat kuamati, ternyata itu adalah cahaya beberapa paper clip dan jarum yang bergelantungan di tangan Wawan. Benda-benda itu menempel di tangan Wawan yang bagai mengandung kekuatan magnet. Ia sedang sibuk bermain dengan benda-benda itu.
“Oh, udah pulang, Bang?”
“He-eh. Ngapain?”
“Nggak, hanya iseng saja,” katanya.
“Nggak keluar?”
“Udah, tadi abis main ke warung Roso.”
“Lha, itu, kok bisa begitu?” tanyaku sambil menunjuk benda-benda yang menempel di tangannya.
Ketika aku telah duduk di depannya, Wawan menjelaskan, ia hanya coba menguji beberapa enerji. Ternyata, ia menemukan kekuatan sejenis magnet yang mampu menarik benda-benda. Caranya, jelas Wawan, cukup hanya dengan sedikit berkonsentrasi, mengerahkan kekuatan pikiran yang ada, “Abang, tentu juga bisa melakukannya.”
Aku mengulurkan telapak tanganku ke paper clip dan jarum-jarum yang ada di depan Wawan. Dalam sekejap, semuanya tertarik dan menempel satu per satu di tanganku yang seakan-akan memiliki kutub berlawanan. Bahkan, jarum yang ada, menempel, sambung menyambung hingga panjang.
Kami bagai menemukan sebuah permainan. Hal ini tentu saja menggembirakan. Hanya, beberapa saat, ada sesuatu yang terlintas di benakku. Dengan tubuh mengandung kekuatan magnet seperti ini, jelas kami dapat merusak benda-benda elektronik.
“Kenapa, Bang?”
“Ah, nggak,” kataku, “Oh, Ya. Zainan udah datang nyerahin koreksian skripsinya?”
“Belum ada kabar, Bang.”
“Aku hanya takut telat lagi,” kataku.
“Ya, aku juga kuatir,” jelas Wawan, “hanya aku sekalian mau ngomong, nih, Bang.”
“Ada, apa?”
Wawan kemudian bercerita, tadi, di warung Roso, atas jasa Roso, ia diperkenalkan dengan Rusman, salah seorang redaktur suratkabar. Ia ditawari bekerja di sana sebagai layoutman. Aku katakan padanya, hal itu bagus sekali. Tidak percuma selama tinggal bersamaku, ia terus belajar dan berlatih menggunakan Photoshop dan program komputer grafis lain. Kini, tiba saat untuk mengaplikasikan semua kepandaiannya walaupun menurut Wawan, gaji yang ditawarkan masih sangat kecil, bahkan mungkin masih terbatas untuk transport sekalipun.
Aku memberikan dukungan penuh bagi dirinya. Kalau hanya masalah uang transport, aku pikir, walau tidak banyak, aku mungkin masih dapat membantu. Karena itu, Wawan kemudian tampak jauh lebih siap untuk menerima tawaran Rusman tersebut.
***
Aku menuju ruang tengah. Aku lihat ibu mertuaku berdiri di sana. Agaknya, ia sedang menungguku.
“Ada apa, Bu?”
“Waduh, ibu lihat kamu akhir-akhir ini tampak ada masalah sampai kepalamu kadang melintir begitu. Sakit?”
Aku tersenyum, “Nggak, Bu. Nggak apa-apa,” kataku menenangkannya.
“Kalau sakit, ya dibawa ke dokter!”
“Nggak, Bu. Nggak sakit,” kataku, “mungkin cuma kelelahan saja.”
“Lha, waktu itu Anto mau ngajak kamu ke Pak Man, udah?”
Aku menggeleng. Anto adalah suami adik iparku. Sejak dua bulan lalu, ia menawarkanku untuk dipijat Pak Man, tukang pijat kenalannya, tapi sampai sekarang, masih belum berhasil.
“Waktu itu, Pak Man udah dibawa ke sini untuk mijat Bapak, kamu nggak ada,” jelasnya.
“Ya, Bu. Nggak apa-apa.”
“Kalau Pak Man nggak bisa,” katanya, “gimana kalau kamu ke Pak Haji aja?”
Ibu mertuaku kemudian menjelaskan, Pak Haji adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Ia tinggal di sekitar Bojong Gede, antara Depok dan Bogor. Kebetulan, ibu mertuaku mengidap diabetes akut, beberapa minggu terakhir ini, ia berobat ke sana. Di sana, ia diberi Pak Haji sebotol air sebesar botol Aqua. Katanya, air itu sudah diberi bacaan oleh Pak Haji, “Ya, lumayan. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut ibu ke sana,” katanya.
“Nggak usah, Bu. Nanti aja. Kalau saya udah siap, saya pasti bilang.”
“Yah, sudahlah,” katanya, “mana isterimu?”
“Nggak tahu, Bu. Dari tadi belum ketemu.”
***
Aku bertemu isteriku setelah sholat Ashar. Sebagai mana biasa, kami tidak banyak berbicara. Ia hanya melaporkan bahwa anak kami sudah tidak mau mengaji di Mesjid lagi, sebagai mana anak-anak lain. Ia minta dicarikan guru ngaji untuk datang ke rumah. Karena, memang, ia tidak dapat disebut anak-anak lagi, namun juga tidak dapat disebut sebagai remaja. Anak kami merasa risih harus bergabung dan bergaul dengan anak-anak kecil di mesjid. Namun, alasan yang paling kuat ialah karena mengaji di mesjid, ia harus antri. Itupun hanya untuk membaca sekalimat atau dua kalimat saja.
“Ya, kalau begitu maunya, carikan saja guru ngaji untuk di rumah,” kataku, “Udah dapat guru ngajinya?”
“Udah, sih. Mungkin besok dia datang.”
“Ya, diuruslah. Tanyakan juga berapa bayaran untuk bulanannya.”
“Ya, Bang.”
“Oh, ya. Tadi ibu ngajak aku ke Pak haji.”
“Yang di Bojong?”
Aku mengangguk dan menceritakan sedikit tentang ajakan ibunya.
“Yah, terserah Abang. Kalau mau nanti kita coba,” katanya.
Aku tidak menjawab.
***
Aku tidak mungkin menjelaskan kepada Yanti tentang semua yang kualami. Aku juga tidak mungkin secara terus-menerus menolak permintaannya untuk bertemu denganku. Konflik yang luar biasa terjadi dalam batinku. Karena, aku juga tidak mungkin terus berbohong kepada isteriku walau aku sudah tidak memiliki hubungan dengan Yanti. Karena itu, dengan sangat hat-hati aku menemui Yanti. Aku harus super hati-hati menjaga perilakuku. Aku harus berhat-hati, terutama, terhadap Tuhanku karena aku tidak mungkin menutup semua perbuatanku di bawah tatapan mata-Nya.
Malam itu, aku ke indekosan Yanti. Beberapa saat ia mendiamkanku, tapi aku tidak menanggapinya. Barulah beberapa saat kemudian, setelah aku mengecam sikapnya, ia mau berbicara walau dengan muka merengut. Agaknya, ia betul-betul kesal dengan sikapku beberapa hari ini yang tidak datang menjenguknya. Akhirnya, aku mengajaknya untuk makan malam di luar saja, ke sebuah rumah makan di Kelapa Dua yang ujungnya bersimpangan dengan Jalan Raya Bogor.
Malam yang gelap menerpa kami. Tidak banyak yang kami bicarakan. Pertanyaanku hanya dijawabnya pendek-pendek, singkat saja. Ada kejengkelan juga mendengar jawabannya itu. Namun, aku masih berupaya menahan diri untuk tidak marah. Sampai turun dari angkot dan masuk ke salah satu rumah makan Padang yang terletak di pinggir jalan Kelapa Dua, ia masih tetap tidak banyak bicara.
“Mau makan apa?” tanyaku.
“Apa sajalah,” katanya acuh tak acuh.
Karena itu, ketika salah seorang pelayan datang, aku tidak memesan jenis makanan tertentu. Ia pun memerintahkan salah seorang pelayan lain untuk datang dengan membawa berbagai jenis makanan. Sebagai mana lazimnya, di rumah makan Padang, semua lauk-pauk pun disajikan di meja.
Aku mulai menyirami nasi dengan kuah sayur nangka ketika kupersilahkan Yanti untuk makan. Namun, ia tampak diam saja. Ada sesuatu yang menyergapku saat itu. Aku tatap Yanti dengan tajam dan entah mengapa, aku betul-betul tidak mampu mengendalikan diri lagi. Aku pukul meja sambil berteriak keras. Piring-piring beterbangan, jatuh, dan pecah berantakan.
Terdengar suara yang luar biasa mengejutkan.
Aku rasakan beberapa pasang mata memandang ke arahku dengan penuh tanda tanya. Untung, pengunjung rumah makan itu sedang sepi. Sesaat kemudian, aku baru menyadari, tindakanku itu sebagai mana yang aku lakukan di kelas beberapa hari lalu, betul-betul tidak layak. Namun, apa boleh buat, belum sempat aku minta maaf, aku lihat Yanti dengan cepat telah beranjak, lalu ke luar dari rumah makan dengan setengah berlari.
Aku berdiri hendak menyusulnya, tapi tidak aku lanjutkan. Sambil menghela nafas panjang, aku menghampiri salah seorang pelayan rumah makan itu, “Maaf, Pak. Maafkan saya,” kataku pelahan, “Saya salah. Coba dihitung, Pak. Saya ganti semuanya.”
Pelayan itu mengangguk-angguk dan kemudian mendatangi kasir. Mereka berbincang sesaat. Lalu, kira-kira dua puluh menit kemudian, aku telah menyelesaikan semua urusan dengan rumah makan Padang itu.
Aku cepat-cepat keluar dari rumah makan. Malam yang gelap seakan-akan menutup batinku. Aku lihat ke sekeliling jalan, berharap Yanti masih di sekitar rumah makan, namun yang tampak tetap kegelapan. Timbul juga rasa kuatirku terhadap Yanti. Seingatku, dari tempat indekosan, ia tidak membawa dompet. Kalau berjalan kaki, jalanan yang gelap betul-betul rawan untuk seorang gadis seperti dia. Karena itu, ketika sebuah angkot lewat, cepat-cepat aku menghentikannya.
Selama di angkot, aku benar-benar tidak habis pikir, mengapa aku bisa marah seperti tadi. Betul-betul aku tidak mampu mengendalikan diri. Apalagi, ketika ingat hal yang sama juga pernah aku lakukan beberapa hari lalu, aku bukan saja betul-betul menyesal, melainkan juga sangat takut dengan diriku sendiri.
Di sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya aku memperhatikan orang-orang yang dilalui angkot, kuatir kalau-kalau Yanti terlewatkan. Dan, sayangnya, sampai di tempat indekos, pun aku betul-betul tidak menemukannya. Bayang-bayangnya pun tidak tampak. Ia bagai lenyap dalam gelap. Dan, yang membuat aku kuatir, lampu kamarnya masih gelap dengan pintu terkunci sebagai mana saat ditinggalkan tadi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Yanti belum pulang.
Karena itu, aku kemudian memutuskan untuk menyusuri kembali jalan ke rumah makan Padang di Kelapa Dua tadi. Aku betul-betul kuatir. Jika terjadi sesuatu dengannya di jalan, jelas aku yang bersalah. Betul-betul melelahkan.
***
Ketika hampir tengah malam aku kembali ke tempat kos Yanti, dari kejauhan, aku lihat lampu kamarnya telah menyala terang. Aku menarik nafas lega. Berarti ia sudah pulang. Karena itu, cepat-cepat aku ke sana. Aku perlu mohon maaf kepadanya atas tindakanku tadi.
Tidak seperti dugaanku, ternyata ketika aku mengetuk pintu, Yanti langsung membukanya. Tidak ada kesulitan. Hanya, aku terkejut, ruang kamarnya tampak sudah bersih, tidak terlihat apa pun. Di atas kasurnya, tampak sebuah tas hitam besar.
“Aku mau pergi,” katanya seakan membaca pikiranku.
“Ke mana?”
“Ke temanku.”
“Besok sajalah. Ini sudah malam.”
“Tidak apa-apa,” katanya sambil meraih tas hitam di tempat tidur, “aku lebih baik pergi saja!”
Secara reflek, dengan cepat, aku memegang tas hitamnya, menahan langkah Yanti, “Udah malam.”
“Biarkan aku pergi!” katanya setengah berteriak dan menyentakkan tasnya.
Aku mendadak membalas mendorong tubuhnya ke tempat tidur. Yanti terhempas dan dengan cepat berusaha bangun.
Entah bagaimana, aku kembali mendorong tubuhnya hingga ia kembali terhempas di tempat tidur. Kali ini lebih kencang. Ia memandangku dengan tajam. Namun, aku betul-betul sudah tidak mampu mengendalikan diri. Aku memegang kedua tangan Yanti dan menekannya ke tempat tidur. Ketika ia masih mengadakan perlawanan dengan kuat, aku menelikung tangannya sehingga tubuhnya terputar menghadap ke tempat tidur.
“Lepaskan! Biarkan aku pergi!”
“Tidak!” kataku balas berteriak, “Apa kamu tidak tahu ini sudah malam, he?”
Ia tidak menjawab, ia meronta, tubuhnya kurasa menegang, ia mengadakan perlawanan. Dan, aku menekan kedua tangannya lebih kuat sampai akhirnya, aku dengar ia mengisak. Ia menangis pelahan-lahan. Saat itulah, aku tersentak, sadar bahwa aku telah menyakiti dirinya secara fisik.
Aku menarik nafas panjang. Pelan-pelan aku mengendorkan peganganku. Aku biarkan dia menangis. Aku beranjak ke samping pintu kamar dan menyalakan rokok. Di luar, langit kian gelap. Tidak ada bintang yang tampak. Hanya suara angin yang kencang dan udara yang dingin terasa menggelepar di permukaan kulit.
Suasana hening. Sampai beberapa saat kemudian, aku baru menyadari, ada sesuatu yang aneh telah terjadi. Suara isak Yanti sudah tidak terdengar lagi.
“Yanti.”
Tidak ada jawaban. Aku memanggil namanya sekali lagi dan sekali lagi. Tetap hening.
Cepat-cepat aku mendatanginya. Aku balikkan tubuh Yanti yang setengah menelungkup. Matanya terpejam rapat. Aku panggil namanya. Tetap tidak ada jawaban. Barulah setelah kuguncang tubuhnya tiada reaksi, aku menjadi sadar bahwa Yanti telah pingsan.
Sesaat aku gelagapan. Secara reflek, aku arahkan telapak tanganku ke kepalanya. Udara yang hangat aku rasakan mengalir. Namun, tetap saja Yanti belum sadarkan diri. (Bersambung)