31. SKIZOFRENIA
Masih menatapku, ia tersenyum. Sesuatu mendadak membuat aku terpaku. Cahaya lampu di koridor langsung meredup kekuning-kuningan. Gadis yang cantik sekali berada di depan mataku. Cahaya lampu yang kuning kejinggaan menerpa wajahnya. Cahaya itu tampak memberikan tekstur tertentu pada wajah gadis tersebut. Tekstur yang indah. Hal ini jelas bukan baru sekali terjadi. Hal yang sama, sebagai mana pernah aku ceritakan, juga sering terjadi kalau aku melihat Yanti.
Aku menarik nafas. Mahasiswi tersebut masih tersenyum. Jantungku berdetak kencang. Ketika kutatap matanya sekali lagi, ada cahaya yang aneh di sana, sebuah cahaya yang agaknya tidak asing lagi bagiku. Aku merasa mengenal sosok gadis ini.
Ya! Aku langsung teringat saat-saat Yanti pingsan beberapa waktu lalu setelah kusampaikan bahwa kami harus mengakhiri hubungan. Waktu itu, panggilannya kepada diriku mengalami perubahan, dari panggilan “Mas” ke panggilan “Bapak”. Saat itu, sebagai mana yang telah aku kemukakan, sebetulnya, aku sudah merasakan ada sebuah kekuatan yang tidak kupahami seolah-olah telah meninggalkan diri Yanti dan berganti dengan kekuatan lain. Jelas, kekuatan pertama memanggil aku “Mas” dan kekuatan kedua menyebutku “Bapak”. Ada sesuatu yang merasuk ke dalam raganya secara bergantian. Dan, sekarang, cahaya mata mahasiswi ini menunjukkan cahaya mata Yanti sebagai mana saat sebelum aku mengakhiri hubungan dengannya. Bagai mana “ia” bisa merasuk ke tubuh gadis di depanku ini?
“Pak, mau nanya. Apakah pembagian kelompok tadi, satu kelompok boleh lebih dari lima orang?”
Aku gelagapan, “Boleh. Boleh. Ng…siapa namamu?”
“Saya Dewi, Pak.”
Ia sekarang tepat berdiri di depanku, “Boleh, Dewi. Boleh lebih dari lima orang.”
“Wah, terimakasih, Pak! Saya jadi nggak perlu repot-repot lagi cari kelompok baru.”
“Ya, nggak perlu. Memang ada kelompok yang pas lima orang, ada juga yang mungkin enam orang.”
“Yang lain memang udah lima orang per kelompok, Pak. Kelompok saya kelebihan satu orang,” katanya sambil menatapku dengan tajam.
Aku balas menatap matanya. Mendadak, ada rasa takut yang luar biasa memacu jantungku, “Ya, sudah. Tidak apa-apa,” kataku.
Kemudian, dengan sekuat tenaga, aku memaksakan kaki melangkah ke teras depan. Dengan langkah berat dan kaku, pelahan-lahan aku melepaskan diri dari pengaruhnya yang memukau.
“Kok, buru-buru, Pak?” tanya Dewi yang ternyata masih melangkah di sampingku.
“Tidak apa-apa. Udah kemalaman. Takut nggak kebagian kereta.”
Dia diam.
Akhirnya, kami tiba di teras dan ia segera mohon pamit kepadaku, “Terimakasih ya, Pak! Selamat malam!”
“Selamat malam!”
Aku menarik nafas panjang, lega, merasa nyaman dapat mengendalikan diri untuk lepas dari pengaruh tatapan matanya yang memukau. Jadi, kalau memang benar “ia” telah merasuki raga Dewi, paling tidak, aku sudah mampu untuk melepaskan daya asmaranya.
Aku menyalakan sebatang rokok. Masih di teras depan kampus, di kejauhan, kulihat Dewi menyeberang ke arah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di sana, sosok tubuh menyongsongnya, seorang laki-laki. Dewi menggandeng tangan laki-laki itu. Aku lihat mereka masuk ke halaman RSCM dan pelahan-lahan menghilang di keremangan malam, di antara para pedagang makanan yang berjejer di sana.
Sekali lagi, aku menghela nafas. Ada sesuatu yang terasa menyayat hati. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa iri melihat “kemesraan” mereka. Aku cepat-cepat bertasbih. Di sepanjang jalan, tiada henti-hentinya aku merasa keheranan dengan perasaanku yang tidak patut itu. Ada sesuatu yang tidak beres di hatiku. Aku harus mengakui, ada sesuatu yang kosong di batinku. Walau sudah berkeluarga, isteri dan anak ternyata masih belum mampu menutupi segala sisi hati.
***
Meski Yanti bersikeras minta aku mengunjunginya, lewat telepon, aku menolak secara halus. Peristiwa beberapa hari lalu membuat aku berhati-hati dalam berperilaku. Berhati-hati dalam mengatur pergaulanku dengan Yanti. Tampaknya, tidak ada toleransi bagi diriku untuk tetap menjalin kontak dengannya walaupun aku sudah tidak lagi memiliki hubungan dengannya. Tubuh dan jiwa tampak memiliki hukum tersendiri, hukum yang tidak tunduk kepada keinginanku. Hukum yang juga tidak tunduk pada keinginan Yanti atau mungkin juga pada kemauan semua orang. Bila kulanjutkan kontak dengan Yanti, aku harus menanggung risiko seperti kemarin, bila bersinggungan dengannya, tubuhku dapat melintir dengan tangan mengeluarkan semacam uap panas. Sebaliknya, jika aku menjauh, ada kenyamanan lain pada tubuh dan jiwa. Risikonya, Yanti bisa benci kepadaku.
Aku tidak mungkin menjelaskan kepada Yanti tentang keanehan-keanehan yang muncul pada diriku belakangan ini. Tidak mungkin dia dapat menerima ceritaku. Ia bukan tipe yang mudah percaya begitu saja pada hal-hal gaib. Bagaimana mungkin aku dapat mengatakan kepada Yanti tentang perubahan yang terjadi pada dirinya? Ia tentu tidak dapat menerima kalau kukatakan bahwa sebelumnya, aku telah menangkap, ada kekuatan yang merasuk ke dalam dirinya, yang menyebutku “Mas”. Kekuatan itu lalu berganti dengan kekuatan lain yang memanggilku “Bapak”. Dan, yang lebih utama, aku memang tidak harus membuktikan apapun kepada dirinya, juga mungkin kepada orang lain, dan atau juga kepada semua orang. Siapa yang dapat mempercayai cerita-ceritaku? Siapa yang mau perduli dengan segala ketakutan dan kesakitan tubuh dan jiwaku?
Bagiku, jelas ini dilemma. Jangankan Yanti, isteriku saja yang sering terlibat langsung dengan diriku, terlibat dalam kejadian-kejadian terakhir ini, masih terlihat kurang dapat mempercayai apa yang terjadi. Hal ini terlihat jelas bila aku coba menjelaskan kepadanya tentang apa-apa yang kualami. Dia hanya bisa diam mendengarkan dengan tatapan mata yang rmengandung ketidakmengertian dan keraguan.
Karena itu, aku tidak dapat mendiskusikan hal-hal semacam itu dengannya. Terlalu pelik. Bahkan, aku sendiri, pun hampir-hampir tidak dapat menerima semua kejadian itu. Secara psikologis, aku dapat disebut telah mengalami halusinasi. Aku menderita gangguan secara individual. Hanya aku yang dapat melihat, mencium, menyentuh, mendengar, dan mengecap: menginderai seluruh kejadian-kejadian itu. Orang-orang tidak. Orang lain tidak dapat melihat apa yang aku lihat. Mereka tidak dapat menginderai apa yang aku inderai.
Dalam psikologi, ilmu yang makin kudalami sepuluh tahun terakhir ini, jelas aku dapat digolongkan sebagai penderita skizofrenia. Penderita skizofrenia adalah orang-orang yang dikatakan telah mengalami kesalahan-kesalahan persepsi. Misal, penderita dapat melihat benda-benda dan suara-suara tertentu yang tidak dapat dilihat dan didengar oleh orang lain. Atau, ia juga dapat melihat sebuah benda secara berbeda dengan bentuknya yang asli. Misal, melihat gundukan tanah sebagai harimau atau buah nangka sebagai burung atau yang lain-lain lagi.
Kalau ciri-ciri atau pendapat-pendapat itu diterima, jelas Wawan adalah penderita skizofrenia akut. Ia dapat melihat leluhur-leluhurku, leluhur-leluhur Zainan. Ia juga mampu menangkap jin. Atau, melihat-lihat dan mendengar apa-apa yang aku tidak mampu lihat dan dengar. Begitu juga dengan Rahman dan Raenan, kedua orang Banten itu juga jelas dapat digolongkan penderita skizofrenia. Aku masih ingat Rahman yang mampu menangkap serangan-serangan jarak jauh dan aku juga masih ingat pada Raenan yang katanya mampu mendeteksi, mengidentifikasi, dan memetakan kehadiran batu-batu berharga. Mereka, secara psikologis, dapat disebut penderita skizofrenia. Hanya mereka yang mampu menginderai kejadian-kejadian yang mereka inderai, orang-orang lain tidak. Demikian juga dengan Tono yang menolongku, Suripto yang mengaku dan kadang memang “dirasuki” leluhurnya, dan Ibu Mira Diana yang dapat “membaca” melalui tanda tangan seseorang. Mereka pun dapat disebut penderita Skizofrenia. Hanya, bedanya, mungkin skizofrenia mereka “terkendali”, mereka tidak dalam situasi skizofrenis sepanjang waktu, hanya sesekali saja dalam kondisi tertentu. Dan, yang penting, beberapa di antara mereka yang skizofrenia ini didatangi banyak orang, misal Suripto dan Mira Diana, untuk dimintai petunjuknya.
Mungkin di situ kelemahan dari batasan skizofrenia, namun kelemahan itu juga merujuk ke hal yang lebih luas lagi, psikologi sangat terbatas dalam memahami beberapa kejadian jiwa. Hal ini yang mungkin membuat aku menjadi kurang puas dengan penjelasan psikologi, yang mungkin saja berasal dari ketidakpuasanku sendiri dalam memahami diri. (Bersambung)
Tahun 2004-2008 istri saya pernah divonis oleh dokter menderita skizofrenia, telah dirawat di RS khusus lebih dari 3 kali dan tidak boleh putus minum obat dari dokter. Alhamdulillah setelah mencoba obat herbal selama 1-2 bulan istri saya telah sembut 100%. Tidak sulit tidur lagi, tidak ada bisikan lagi, bisa mengantar jemput anak sekolah, mengajar mengaji dan bahkan berjualan. Saat ini istri saya tidak lagi minum obat dokter dan obat herbal tersebut (selama lebih dari 1 tahun).
Semoga bermanfaat.
Komarudin (081380323526) http://komarudin90.blogspot.com