30. IDENTITAS KEDUA
Sampai malam hari, aku terus dihantui rasa bersalah. Aku merasa tidak nyaman dan gelisah. Betapa tidak, aku terus-menerus dihantui rasa takut gila. Petanda-petanda dan isyarat-isyarat yang muncul betul-betul menakutkan. Bahkan, kini, aku betul-betul merasa sudah seperti orang gila. Sudah jelas bahwa berhubungan dengan Yanti adalah sesuatu yang tidak baik, namun ternyata masih saja terus kulakukan. Bukankah ini dapat digolongkan sebagai perbuatan gila?
Tudingan-tudingan itu terus berkumandang di dalam diriku. Apalagi, ketika mengambil wudhu untuk sholat Magrib di mesjid Al Barokah sore tadi, peristiwa yang sama di indekosan Yanti kembali berulang. Ketika kubasuh muka, kepalaku berputar, berkali-kali, melintir ke kanan dengan kuat setiap air wudhu menyentuh wajah. Seperti biasa, dengan cepat aku menahan putaran itu, namun rasa-rasanya, kekuatan “asing” yang berada di dalam diriku semakin menjadi kuat. Perbuatanku di indekosan Yanti seakan-akan memberinya tambahan tenaga untuk mengendalikan diriku. Sebaliknya, kekuatan-kekuatanku semakin memudar. Dosa membuat diri semakin lemah.
Sungguh melelahkan dan sungguh menakutkan. Aku merasa memiliki dua kepala dengan dua wajah. Yang satu mau berwudhu, yang satu lagi menghindari air wudhu. Begitu juga ketika aku melanjutkan wudhu dengan membasuh tangan sebatas siku. Tanganku dipenuhi busa dan pelahan-lahan pori-porinya mengeluarkan semacam uap. Selain itu, ia bergerak-gerak tanpa kendali menghindari wudhu, sementara aku menahannya dan terus membasuhnya dengan air. Tubuh ini sungguh benar-benar bagaikan terdiri dari dua identitas yang tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan. Karena itu, ketika sholat, di samping menjalankan gerak-gerak sholat, aku juga sibuk mengendalikan jasadku yang terkadang seakan-akan hendak terpental.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam diriku. Gerak yang semakin cepat seiring lintasan pikiran yang meloncat-loncat dan berganti-ganti. Berbagai persoalan muncul dalam sholatku. Kadang aku terpaku, lalu kembali fokus dengan bacaaan, lalu muncul Yanti, muncul Wawan, rasa takut, bayangan-bayang leluhur, dan….
“Ada apa, Bang?” tanya Wawan membuyarkan lamunan.
Hening sejenak.
Sejak kedatangannya kemarin malam, aku memang belum banyak bercerita tentang kejadian-kejadian yang menimpa diriku selama kepergiannya. Begitu juga Wawan, ia belum sempat menceritakan perihal dirinya selama di Semarang. Ketika tiba di rumah kemarin malam, Wawan memang sudah tampak lelah dan setelah mandi, ia langsung terlelap. Sedangkan, pagi tadi, karena hendak menjemput Yanti, aku juga sudah buru-buru meninggalkan rumah.
Karena itu, aku pikir, ini adalah saat yang tepat untuk bercerita kepada Wawan. Pertama, aku ceritakan padanya tentang perubahan-perubahan pada diriku. Ia mendengarkan dengan hati-hati dan sesekali mengomentari ceritaku. Kedua, aku ceritakan kejadian siang tadi kepada Wawan. Aku ceritakan peristiwa aku kehilangan tas yang berisi buku dan Yanti yang kehilangan tas berisi pakaian. Ia juga masih mendengarkan dengan hati-hati. Lalu, memberikan pertimbangan bahwa aku sebaiknya menafsirkan kehilangan-kehilangan tersebut dengan memperhatikan segala sisi. Ia juga menambahkan, kehilangan pakaian bisa jadi berhubungan dengan raga Yanti secara fisik. Ketiga, aku menyampaikan keinginanku untuk bertanya mengenai semua kejadian itu kepada leluhurku. Karena itu, aku minta Wawan untuk menghubunginya.
Dengan gayanya yang khas, Wawan mengangguk-angguk, “Bisa. Bisa,” katanya, “aku akan coba menghubunginya.”
Wawan meletakkan rokoknya di asbak. Setelah menghirup seteguk kopi, ia segera duduk bersila di hadapanku. Aku memandang Wawan dengan penuh harap. Bagaimanapun, beberapa waktu lalu, selama puasa 2001, para leluhurku memang agak sulit dihubungi ketika dipanggil. Mereka bagaikan lenyap ditelan bumi.
Suasana hening memenuhi ruang kamar. Sekitar pukul 22:00 saat itu, ketika akhirnya Wawan memberi isyarat bahwa ia telah dapat memanggil para leluhur itu. Dengan setengah mendongak, Wawan memandang ke arah sudut ruang, di atas pintu kamar yang seperempat terbuka. Aku mengikuti pandangannya, namun tidak melihat apa-apa, kecuali merasakan desir udara dingin memancar dari sudut ruang itu. Entah karena pancaran kehadiran leluhurku atau karena angin yang mengalir dari pintu yang seperempat terbuka, aku tidak tahu.
“Apa yang ingin kau tanyakan, Bang?”
Aku tercenung sejenak, “Tolong tanyakan, apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi semua persoalan yang terjadi pada diriku dan bagaimana akhir semua ini?”
Wawan memejamkan matanya dan sebagai mana biasa, ia mengangguk-angguk. Lalu, sesaat kemudian, ia menatapku dengan agak ragu.
“Apa jawabnya, Wan?” tanyaku tidak sabar.
“Katanya, apakah Al Quran itu belum cukup buatmu?”
Ada sesuatu yang luar biasa melintas di hatiku saat mendengarkan kata-kata itu. Sesuatu yang tidak dapat kusebut sebagai apa, selain mendatangkan ketakutan yang luar biasa, namun juga seakan-akan mengingatkan kebodohanku. Karena itu, tanpa banyak berkata-kata lagi, aku katakan kepada Wawan bahwa semua ini sudah cukup.
“Udah?” tanyanya seakan tidak percaya.
“Ya, sudah cukup, Wan! Sudah cukup!”
Wawan memejamkan matanya dan sesaat kemudian menghela nafas panjang.
“Udah pergi?”
“Ya, dia sudah pergi, Bang.”
Aku menghisap rokokku dalam-dalam.
“Abang ngerti apa maksudnya tadi?”
Aku jelaskan kepada Wawan, perkataan leluhurku tadi merupakan suatu peringatan bahwa jawaban terhadap semua pertanyaanku ada di dalam Al Quran. Aku harus mulai membaca Al Quran untuk menemukan jawaban dari persoalan-persoalan yang ada. Namun, yang paling penting, yang tidak mungkin kujelaskan kepada Wawan, aku juga menangkap ada semacam kemarahan dalam pernyataan leluhurku tersebut. Marah bahwa aku tidak mau berpikir dan yang paling jelas, agaknya ia sudah tidak mau diganggu lagi dengan pertanyaan-pertanyaan.
Kami terus mengobrol sampai larut malam. Semakin malam semakin asyik. Apalagi, ketika menjelang tengah malam, Zainan datang bergabung. Rupanya, Wawan sudah mengkontak dirinya tadi siang.
Zainan memberi salam dan masuk ke kamar, “Wah, lama juga tidak bertemu, Bang!” katanya.
Setelah menyalamiku dan Wawan, Zainan duduk bersama kami. Ia tampak lebih segar dan ceria. Walau tidak jadi ikut sidang ujian skripsi tahun lalu, ia tampak belum berputus asa. Zainan sekali lagi menyampaikan niat bahwa ia akan berusaha menyelesaikan skripsinya agar menjadi sarjana. Namun, di samping itu, ia juga mengemukakan, sekarang, ia sudah menjadi penyanyi di beberapa klub malam. Ia telah berhasil membentuk sebuah grup band, “Yah, namanya berusaha, Bang.”
Aku dan Wawan hanya mendengarkan saja cerita Zainan. Tentang yang terakhir itu, bagiku bukan hal aneh. Zainan memang memiliki suara yang bagus. Sejak ia menjadi imam dan membacakan surat Al A’la beberapa bulan lalu, aku sudah mengagumi suaranya yang bersih. Hanya, saat itu, aku tidak pernah menduga bahwa pemuda asal Banten itu akan menjadi penyanyi.
“Keadaan Abang sendiri gimana?” tanya Zainan kemudian setelah puas bercerita.
Aku menceritakan apa yang terjadi pada diriku. Kujelaskan pada Zainan, ada sesuatu yang asing di dalam diriku, sesuatu yang geraknya kadang bertentangan dengan diriku, terutama bila pada saat-saat sholat.
“Wah, apa Abang pernah berguru pada seseorang?”
“Maksudmu?”
“Yah, mungkin abang dulu pernah menuntut ilmu atau apa?”
Aku menggeleng pelahan, “Setahuku, sampai sekarang aku tidak pernah menuntut ilmu apapun.”
Zainan diam sejenak. Lalu, ia mengatakan, agaknya aku harus membersihkan diri. Ia kemudian menceritakan tentang seorang ulama di Banten yang dapat membersihkan diri orang. Ulama itu dapat melihat orang-orang dalam berbagai wujud hewan sesuai dengan amal mereka. Ada yang berbentuk kera, ada yang berupa harimau, dan ada juga yang berwujud buaya. Lalu, ia menolong mereka dengan kekuatannya. Namun, yang paling menarik bagiku ialah ketika Zainan menceritakan tentang salah seorang saudaranya. Di kantor saudaranya itu, kini, sedang ada “pembersihan” diri yang dilakukan oleh seorang kiai, “Dia menyerukan agar semua orang di kantor saudaraku berbersih diri,” jelas Zainan, “maksudnya, kita semua pernah berbuat salah. Mungkin ada yang secara sengaja atau tidak telah mengisi tubuh dengan sesuatu. Mungkin ada yang menuntut ilmu tertentu, memasang susuk, dan sebagainya. Hal itulah yang harus dibuang,” lanjut Zainan.
“Gimana membuangnya?”
“Nah, itu dia, Bang. Katanya dia punya amalan khusus untuk itu.”
“Wah, kalau kau dapat memperolehnya, enak juga. Kita bisa menggunakannya.”
Wawan mengangguk-angguk sambil kembali meneguk kopinya. Sementara Zainan masih terus bercerita. Ia menjelaskan lebih lanjut, kiai itu jauh lebih mudah untuk membersihkan diri seseorang sebelum ia meninggal. Kalau setelah meninggal baru dibersihkan, kiai tersebut agak sulit untuk mengeluarkan atau mengusir “simpanan” orang tersebut. Karena itu, mumpung masih hidup kita dihimbau untuk mengeluarkan semua kebatilan yang ada pada diri kita, “Hampir semua karyawan di kantor saudaraku dibersihkan oleh kiai tersebut,” tegas Zainan.
***
Malam itu, aku mengajar di Salemba. Walau kelas masuk jam 17:00, kuliah baru efektif setelah pukul 18:00, setelah sholat Magrib. Karena itu, wajar bila kadang kala kuliah baru usai menjelang pukul 21:00. Itu kalau lancar, kalau mahasiswa ribut, biasanya kuliah bisa memanjang hingga pukul 21:30. Hal ini tentu saja tidak diharapkan semua pihak. Karena itu, aku perlu tegas dalam bersikap, apalagi dengan mahasiswa sekitar 50 orang di kelas, sesekali aku juga harus keras untuk menertibkan mereka.
Entah mengapa, justeru yang terakhir ini yang malah muncul malam itu. Aku betul-betul tidak mampu mengendalikan diri. Ketika suasana kelas begitu gaduh dan tetap gaduh walau kuperingatkan berkali-kali, aku pun memukul meja dengan punggung tangan sambil berteriak keras. Terdengar suara “dentuman” yang luar biasa sehingga kelas langsung sepi.
Hening. Beberapa saat kemudian, aku baru menyadari, tindakanku itu betul-betul tidak layak dan tidak terkendali. Namun, aku juga heran, mengapa aku mendadak bisa seperti itu bagaikan bukan lagi diriku. Dan, aku tidak sempat berpikir-pikir lagi kecuali segera meneruskan perkuliahan. Akhirnya, tepat pukul 21:00, aku pun mengakhiri kuliah.
Satu per satu mahasiswa meninggalkan kelas. Sebagai mana biasa, setelah sebagian besar dari mereka keluar, aku baru mulai beranjak. Seiring dengan itu, beberapa mahasiswa mendekati aku.
“Wah, bapak, ampun, Pak. Saya kaget sekali tadi, Pak.”
Aku tersenyum sambil menahan langkah, “Yah, saya juga tidak mengira sekeras itu bunyinya!”
“Saya, sungguh, Pak. Hampir pingsan,” kata seseorang lagi.
“Kenapa?”
“Saya menderita jantung, Pak.”
“Apa?” aku agak terkejut, “Wah, maafkan, saya, ya. Maafkan saya,” kataku.
“Ya, nggak apa-apa, Pak,” katanya.
“Terimakasih! Terimakasih!” kataku.
“Oh, ya, Bapak, boleh nanya juga, nggak?” seseorang menimpali.
Aku melihat ke asal suara itu. Seorang mahasiswi. Ia menatapku.
“Ada apa?”
Masih menatapku, ia tersenyum. Sesuatu mendadak membuat aku terpaku. Cahaya lampu di koridor langsung meredup kekuning-kuningan. Gadis yang cantik sekali berada di depan mataku. Cahaya lampu yang kuning kejinggaan menerpa wajahnya. Cahaya itu tampak memberikan tekstur tertentu pada wajah gadis tersebut. Tekstur yang indah. Hal ini jelas bukan baru sekali terjadi. Hal yang sama, sebagai mana pernah aku ceritakan, juga sering terjadi kalau aku melihat Yanti. (Bersambung)