29. KEHILANGAN DIRI
Wawan baru saja tiba dari Semarang tadi malam. Bersamaan dengan itu, aku juga menerima kabar dari Yanti, hari ini, ia akan tiba di Jakarta. Yanti minta dijemput. Ia berangkat dari Semarang tadi malam dan akan tiba di Jakarta sekitar pukul 9:00. Karena itu, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Pagi-pagi aku sudah bangun dan sarapan bersama wawan. Setelah berbincang-bincang sebentar, menghabiskan segelas kopi dan sebatang rokok, aku segera ke stasiun Lenteng Agung. Untung kereta api segera tiba sehingga aku tidak perlu menunggu terlalu lama.
Aku meloncat ke dalam kereta api menuju Gambir. Karena sudah agak siang, kereta sudah tidak begitu ramai, namun aku juga tetap tidak memperoleh tempak duduk. Dari Lenteng Agung, kereta melaju cepat melewati beberapa stasiun kereta. Aku berdiri dekat pintu kereta, memperhatikan gubuk-gubuk liar dan rumah-rumah yang betebaran di sepanjang rel. Sebuah pemandang yang tidak asing bagiku sebagai pelanggan kereta yang telah bertahun-tahun melintasi jalur Depok-Jakarta Kota. Begitulah, pemandangan itu tidak berubah, dari tahun ke tahun, tetap kumuh dan menyedihkan.
Lama juga aku merenungkan hal itu sampai ketika melewati stasiun Cawang, mendadak sesuatu menyergap diriku. Aku tersentak, sesuatu yang mirip “gelembung” udara menekan tubuhku dengan kuat. Nafasku mendadak pendek dan kesadaranku pun mendadak menurun. Aku berusaha menghirup oksigen lebih banyak, namun tekanan “gelembung” itu sungguh kuat. Dalam sekejap, aku pun tidak sadarkan diri.
Mungkin hanya beberapa detik atau beberapa menit atau mungkin juga dalam beberapa jam aku tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu. Yang jelas, ketika tersadar, aku temukan diriku telah tersandar di pintu kereta api.
“Untung, Bapak tidak berdiri di tengah-tengah pintu. Kalau tidak, bisa jatuh ke luar kereta,” kata seorang kepadaku.
“Lama nggak saya pingsan?”
Orang itu menggeleng, “Hanya beberapa detik, barusan saja, Pak,” katanya.
Aku menatap laki-laki separuh baya itu dengan tatapan kosong. Lalu, pelahan-lahan aku mulai berdiri. Kereta api masih terus meluncur. Aku merasa bagai orang yang baru terbangun dari tidur. Kunyalakan rokok dan kuhisap dalam-dalam.
***
Aku tiba di Gambir. Yanti sudah menunggu. Ia berdiri dengan dua tas besar-besar yang entah apa isinya. Aku lihat dia agak sedikit lebih kurus dari pada sebelumnya.
“Udah lama?” tanyaku.
“Ya, kali ini, tumben kereta tiba lebih cepat,” katanya sambil menyodorkan tas, “biasanya terlambat.”
“Udah sarapan?”
Ia menatapku dan menggeleng, “Ya, namanya sarapan di kereta, Bapak ‘kan tahu sendiri kayak apa.”
Aku mengajak dia makan di sebuah restoran cepat saji di stasiun Gambir. Lalu, setelah beberapa saat beristirahat di restoran yang terletak di lantai dua itu, kami pun menunggu kereta api jurusan Depok. Tidak banyak yang kami percakapkan. Ketika kereta yang kami tunggu telah tiba, dengan cepat kami meloncat masuk. Sesaat kemudian, aku dan Yanti pun telah berada di kereta dan meluncur ke arah Depok.
Sekali lagi, aku harus berdiri. Yanti sendiri berdiri di sampingku dengan kedua tasnya. Tasku yang berisi buku-buku kutaruh di tempat penyimpanan barang yang terletak di atas tempat duduk. Sebagai mana biasa, aku kemudian melempar pandangan ke luar jendela, kembali melihat deretan gubuk-gubuk liar yang kumuh, melewati stasiun demi stasiun, dan sesaat kemudian, mendadak aku terkejut. Kuperhatikan, lewat jendela, beberapa stasiun yang kami lewati bukan stasiun-stasiun yang menuju Depok. Ternyata, kami berdua memang telah naik kereta api yang salah, tidak ke arah Depok, sebaliknya ke arah Stasiun Kota. Terpaksa, di stasiun kereta berikut, kami turun.
Yanti cemberut. Aku menghela nafas dan dada terasa berdebar ketika aku menyadari, tasku yang berisi buku-buku tadi tertinggal di kereta. Aku betul-betul kesal dengan kelalaianku. Rupanya, penyakit lupaku masih saja belum sembuh. Terjadi kekacauan dalam ingatanku. Daya ingatku bagai dihijab sesuatu. Dan, dengan perasaan masih setengah kesal akhirnya aku dan Yanti kembali meluncur, naik kereta api ke arah yang berlawanan, menuju depok.
Kami turun di Stasiun Tanjung Barat dan naik bis menuju tempat kost Yanti. Bis itu tidak ramai. Hanya kami berdua, seorang penumpang, seorang kondektur, dan supir. Ketika bis baru meluncur beberapa menit, mendadak, penumpang yang duduk di seberang kami itu terengah-engah. Matanya mendelik dengan tubuh mengejang. Aku dan Yanti saling berpandangan.
Aku mengangkat bahu. Kami tidak memperdulikannya. Tapi, beberapa saat kemudian, sejalan dengan lari bis yang kian cepat, orang itu mulai muntah-muntah, butir-butir keringat menghias wajahnya dan lalu lemas.
Akhirnya, aku berdiri, berjalan mendekati kondektur,“Mas, Mas, Bapak itu kayaknya perlu ditolong.”
“Apa?”
“Bapak itu perlu ditolong!” seruku setengah berteriak, mengatasi suara mesin.
Kondektur itu dengan tergesa-gesa memeriksa penumpang tersebut. Ia memijit-mijit tengkuknya. Yanti melihat dengan tatapan cemas. Akhirnya, atas saranku, bis berhenti di sebuah klinik, sebelum Stasiun Lenteng Agung.
Dengan terengah-engah, aku dan kondektur memapah penumpang itu ke dalam klinik. Tapi, klinik masih sepi. Lengang, tidak tampak seorang petugas pun. Meja penerima pasien masih tertata rapi. Kamar-kamar berjajar di sepanjang ruang. Karena itu, kami mendudukkannya di sebuah kursi secara hati-hati. Tubuhnya terkulai lemas.
Yanti yang mengikuti dari belakang segera mencari petugas klinik dari satu ruang ke ruang lain. Ketika ia kembali dengan seseorang perawat, dengan cepat – tanpa banyak tanya lagi, — perawat itu memapah penumpang tersebut ke dalam ruang dokter. Yanti ikut membantu, memegang lengan penumpang tersebut. Aku mengikuti mereka. Kondektur yang berdiri di sampingku tidak ikut masuk. Ia menatap kami dengan pandangan bingung.
Selanjutnya, beberapa saat kemudian, secara bersamaan, aku dan Yanti saling berpandangan. Secara reflek kami berdua meninggalkan suster perawat yang sedang memeriksa penumpang tadi. Aku dan Yanti berlari ke depan klinik. Sial! Bis yang kami tumpangi tadi sudah tidak ada. Dua buah tas Yanti yang besar-besar terbawa bis tersebut.
***
Tiba di kamar kos, Yanti menghempaskan tubuh, kesal. Di sepanjang jalan, ia mengomel tanpa henti. Aku coba terus menghibur. Bagaimanapun, kehilangan dua tas pakaian bukan hal yang mudah diterima. Bagi diriku sendiri, ada semacam ketakutan yang muncul dengan kejadian-kejadian itu. Tidak hanya sebatas hilangnya kedua tas Yanti, melainkan juga, dengan hilangnya tasku yang berisi buku-buku pelajaran, aku menangkap suatu pertanda. Ada sesuatu petanda yang telah dikirimkan kepadaku (atau juga buat Yanti?). Semacam isyarat-isyarat halus. Tidak begitu jelas memang, namun kehilangan tas yang berisi buku-buku buatku dan kehilangan tas yang berisi pakaian-pakaian buat Yanti jelas suatu fakta yang berbeda. Kehilangan buku-buku buat diriku, kalau dihubungkan dengan pesan leluhurku sebelumnya bahwa aku harus mempertahankan mahkota, sudah tentu membuat aku menjadi was-was juga.
Mempertahankan mahkota dalam tafsirku adalah menjaga bagian-bagian kepalaku karena sebuah mahkota letaknya di kepala. Yang menjadi masalah, ada apa dengan bagian kepalaku? Terlintas bayangan orang gila, baik yang beshalawat maupun orang gila yang kutemui di pertigaan Srengseng sawah. Tangkapanku, aku harus menjaga mahkota di kepalaku agar aku tidak menjadi gila. Aku tidak boleh kehilangan kehormatanku. Dan kini, bukan tidak mungkin buku yang hilang di kereta tadi juga berkaitan dengan masalah (isi) kepalaku. Buku adalah lambang pengetahuan, lambang ilmu. Apakah aku telah kehilangan pengetahuan, kehilangan pikiran atau dengan kata lain, telah menjadi gila? Kehilangan tas berisi buku-buku itu tadi bukan lagi hanya peringatan, melainkan telah merupakan suatu pesan: karena aku terus berhubungan dengan Yanti, berati aku telah menjadi gila. Mendadak, syaraf-syarafku menegang. Bukan tidak mungkin, sekarang para leluhur itu juga sudah berada di sekitarku, mengawasi segala perbuatanku dengan Yanti. Dan, yang paling menakutkan dan tidak nyaman, aku merasa Allah SWT memandang seluruh perbuatanku.
Aku menghela nafas. Dua orang, aku dan Yanti, dalam waktu yang hampir bersamaan, mengalami kehilangan secara bersama, jelas merupakan sesuatu yang luar biasa. Aku tersentak ketika merasa Yanti memegang sikuku. Ia telah duduk di sampingku. Hampir saja secara reflek aku menarik tanganku, tapi untunglah, aku masih sempat menahan diri. Bagaimanapun, ia pasti merasa tersinggung bila kulakukan itu. Namun, ini jugalah kelalaianku. Karena, sesaat kemudian, Yanti bukan saja memegang sikuku, ia bahkan telah memeluk lengan kananku dengan setengah bergelendot.
“Kangen, lama nggak ketemu Bapak.”
Aku menatapnya. Ada sesuatu yang seakan menghijab kesadaranku. Pelahan aku bergerak memeluknya tubuhnya.
Suasana hening. Agak lama kami terdiam sampai sesuatu menyentak kesadaranku. Kulepas pelukan.
“Ada apa?”
Aku berdiri, “Belum sholat Lohor.”
Yanti menunduk. Aku menuju ke samping kamar untuk wudhu. Aku memutar kran air. Air memancar. Kuraup air dan membasahi seluruh muka sambil membaca niat. Rasa dingin dan segar menjalar ke seluruh tubuh. Bersamaan dengan itu, terasa kepalaku berputar, melintir ke kanan. Dengan cepat aku menahan putaran itu. Sangat kuat. Sampai-sampai aku harus berpegang ke pipa kran agar tidak terhuyung.
Aku melanjutkan wudhu, namun ketika aku membasahi lengan kanan sampai siku, tampak gelembung-gelembung udara memenuhi lengan. Air mendadak mengeluarkan busa yang banyak. Kucoba membersihkan busa-busa air itu, namun aku menjadi terkejut ketika melihat air yang kusiramkan ke lengan sampai siku itu terlihat bagai mendidih. Pori-poriku bagai mengeluarkan uap panas.
Dadaku bergetar, rasa takut yang mencekam seakan menghentikan aliran darahku. Cepat aku beralih menyiram ke lengan kiri, namun kejadian yang sama membuatku tambah panik hingga terdiam beberapa saat. Aku bertasbih. Rasa penyesalan mendadak muncul dalam diri. Semua amalku selama beberapa bulan ini terasa hilang dan lenyap bagaikan uap hanya karena memeluk Yanti. Ada rasa marah pada diri, namun semua telah terlambat. Aku meneruskan wudhu sampai selesai. Aku harus mulai dari awal lagi. (Bersambung)
Salam dari Malaysia.
Blog baru? atau masih baru tukar templatenya?
Bagus ceritanya, cerita dari pengalaman sendiri?
Jumpa lagi ya.
Salam kembali. Blog ini memang baru, baru 6 bulanan. Ceritanya dari pengalaman sendiri dan berbagai pengalaman orang lain. Terimakasih comment-nya.