28. DIRI DI DALAM DIRIKU

Sunday, 18 October 2009
By Mohammad Fauzy

diri copy

Aku agak terkejut juga dengan pandangan seperti itu. Dada berdebar-debar dengan beragam pertanyaan. Apakah yang aku lihat itu petanda bahwa aku sudah mulai mampu melihat alam gaib sebagai mana Wawan mampu melihat kehadiran-kehadiran para leluhurku? Jika benar, apakah daya penglihatanku sudah mulai menguat sehingga aku mampu melakukan hal itu? Atau, sebaliknya, apa yang telah aku lihat tadi, itu berarti bertambah pula gangguan pada mataku? Bisa jadi, peristiwa tadi itu berlangsung hanya pada mataku, bisa juga ia memang terjadi sebagai bagian dari dunia di sekelilingku. Yang jelas, selain di WC, malam itu, cahaya tersebut sempat juga muncul di tembok ruang tamu menjelang tengah malam. Dalam kegelapan, cahaya itu muncul dalam bentuk yang lebih besar dan benderang.

Sejenak aku berhenti menantapnya. Kini, agak jelas, cahaya itu ternyata bukan berada di tembok, melainkan ia berlangsung di mataku. Tembok itu jelas tidak sobek atau merekah sebagai mana yang kulihat terjadi pada seng di pintu WC tadi sore. Tidak. Cahaya ungu itu ternyata berada dalam pandanganku. Semakin aku secara terfokus menatap ke tembok, cahaya itu semakin membesar dan memudar. Sayang, aku tidak tahu cahaya di mataku itu cahaya apa. Ia seakan-akan menempel di mataku, mengikuti pandanganku ke segala arah. Lalu, pelahan-lahan memudar.

***

Walau hari Natal dan Tahun Baru 2001 telah berlalu, ternyata Yanti belum juga muncul dari Semarang. Hal ini tentu saja membuat aku merasa lega. Namun, entah mengapa, ketidakhadiran dirinya, di sisi lain, juga membuat aku agak gelisah. Ada sebagian perasaan yang kosong dengan ketidakhadiran dirinya. Perasaan ini jelas negatif. Perasaan kehilangan dan mengharapkan kehadirannya ini jelas merupakan sesuatu yang buruk bagi diriku, apalagi sebagai seseorang yang telah beristeri. Namun, aku betul-betul tidak mengerti, beberapa hari terakhir ini, perasaan-perasaan itu semakin menguat. Apalagi, kadang-kadang, bila aku melihat pasangan-pasangan lain. Bayangan-bayangan Yanti langsung muncul seketika. Lalu, mengapa yang muncul tidak bayang-bayang isteriku?

Hal ini tentu saja membuat aku merasa was-was dan waspada. Apalagi, gambaran-gambaran bersama Yanti makin sering muncul secara visual dalam lintasan-lintasan pikiranku. Ia menyeruak ke dalam sholat-sholat dan zikirku. Padahal, bukankah aku telah memutuskan hubungan dengan dirinya? Kalau saja aku masih terus memelihara perasaan-perasaan ini, menurutkan gambaran-gambaran yang melintas dalam pikiranku, aku akan mundur kembali ke belakang. Karena itu, beberapa hari ini, aku berupaya menguatkan diri, menepis semua gambaran-gambaran yang muncul. Semakin indah gambaran-gambaran tentang Yanti, semakin sungguh-sungguh aku berusaha menepis kehadirannya. Sesuatu yang berat bagi diriku.

Harus diakui, walau tidak begitu cantik, Yanti masih sangat muda. Ia baru berusia sekitar 25 tahun. Secara fisik, ia pasti menarik bagi orang setua aku. Gadis-gadis yang masih muda umumnya memiliki daya asmara yang masih kuat. Dan, kerinduan-kerinduan yang bercampur daya asmara ini sungguh menghantui batinku. Sampai-sampai, beberapa malam lalu, sempat aku terpikir untuk menikahinya saja. Untung, di sisi lain, aku menyadari bahwa lintasan-lintasan pikiran itu hanya gambaran-gambaran semu. Tidak realistis. Kalau aku menikahinya, secara sosial, aku harus menghadapi tekanan-tekanan dan konflik dengan dan di dalam keluargaku. Secara ekonomi, berumah dua berarti ekonomi biaya tinggi. Situasi dan kondisi diriku jelas sangat tidak mendukung. Penghasilan saja masih morat-marit karena status yang tidak jelas. Apalagi, sebagai pegawai negeri, tentu aku  harus mengundurkan diri atau terancam dipecat. Tapi, yang paling utama, kalaupun aku menurutkan hasratku untuk menikahi Yanti, aku tidak dapat memberikan jaminan bagi diriku sendiri bahwa di kemudian hari tidak akan ada Yanti yang lain. Lalu, penderitaan sejenis ini menjadi tidak pernah berakhir di sepanjang kehidupanku. Pasti aku akan berselingkuh lagi, mencari daya-daya asmara lain yang jauh lebih kuat. Sampai kapan semua ini akan aku akhiri?

Sekali lagi, aku tidak mampu memberikan jaminan bagi diriku sendiri bahwa aku akan berhenti hanya dengan cara menikahi Yanti. Mengevaluasi jejak rekamku dalam berhubungan dengan wanita, tidak dapat dipungkiri, aku memang sangat lemah dalam hal ini. Bagaimanapun, sebelum bersama Yanti, aku juga pernah menjalin hubungan dengan Natalia. Boleh dikata, menjalin hubungan dengan Yanti adalah “perselingkuhan” keduaku setelah berumah tangga. Belum lagi ketika masih bujangan, jejak rekamku juga tidak begitu menggembirakan, ketika masih menjalin hubungan dengan Natalia, aku sudah pula menjalin hubungan dengan Meiti.

Karena itu, ada sesuatu yang tidak beres di dalam diriku. Padahal, menurut diriku sendiri, aku tidak pernah punya niat untuk berkhianat dengan pasanganku. Bagiku, tidak ada alasan atau dasar yang kuat untuk mengkhianati pasanganku karena mereka semua secara umum tidak pernah berbuat salah pada diriku. Apalagi terhadap isteriku, tidak ada satu dasar pun yang kuat bagiku untuk mengkhianatinya. Ia, dalam pandangan beberapa temanku, adalah sebaik-baiknya isteri. Jelas, diriku yang bermasalah. Dorongan apa kiranya yang begitu kuat sehingga aku selalu “beredar” dari satu wanita ke wanita lain? Apa yang aku cari dari setiap diri mereka itu? Dan, dorongan ini tiba-tiba saja bergejolak lagi, justeru kembali tertuju pada diri Yanti yang dalam keadaan jauh dari diriku. Semakin aku berusaha menolaknya, semakin besar pula daya asmara yang menyergap diriku. Sampai akhirnya, karena tidak mampu menahan lagi, aku kemudian coba untuk menghubungi Yanti. Malam itu, aku meneleponnya.

“Hallo?”

“Yanti?” tanyaku ketika mendengar suaranya.

“Ada ada, Bapak?”

“Nggak ada apa-apa,” aku coba menghindari perasaanku sendiri, “Ng. Baik aja?”

“Ya, iyalah. Aku baik-baik aja.”

Aku mengerutkan kening dan coba memfokuskan pendengaran. Di belakang suara Yanti  terdengar suara ramai sekali, “Lagi, ngapain? Kok, ramai sekali?”

“Oh, iya. Lagi ada teman-teman kakakku. Aku juga jadi ketemuan lagi sama Firly, teman SMP dulu.”

Dadaku berdegup. Aku rasa-rasanya cukup akrab dengan nama yang disebut Yanti itu. Kalau tidak salah, Firly adalah salah satu teman kakaknya yang dulu pernah menjadi pacar Yanti,  “Bekas pacarmu itu?”

“Aku ‘kan udah cerita dulu sama Bapak.”

“Iya. Ya. Yang penting kamu baik-baik saja,” ucapku tergagap.

“Bapak baik?”

“Ya, baik. Baik. Hanya batuk-batuk sedikit.Udah dulu, ya?”

“Ya, terimakasih, Bapak. Terimakasih udah mau nelepon ke sini.”

Kututup telepon. Ada yang aneh. Tidak biasanya ia membiarkan aku menutup telepon begitu saja. Biasanya, Yanti menahanku beberapa saat untuk tidak cepat-cepat mengakhiri pembicaraan. Mendadak, ada rasa panas mengalir di dadaku. Mungkinkah semua ini karena Firli?

***

Ketidakhadiran Wawan menimbulkan kegelisahan lain di dalam diriku. Sama seperti Yanti, hingga awal tahun ini, ia belum juga kembali ke Jakarta. Padahal, aku sangat membutuhkannya untuk menghubungi para leluhurku. Banyak sekali hal yang hendak aku tanyakan pada mereka sehingga rasa-rasanya dadaku kian sesak dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Tubuhku, bagaimanapun, terasa semakin sakit. Malangnya lagi, ketika suami adik iparku Anto membawaku ke Pak Man, tukang pijat kenalannya itu sedang tidak ada di rumah. Ternyata, ketika didatangi pagi-pagi, ia sedang sibuk mengurus dagangannya di pasar dan ke pelanggan-pelanggannya.

Tidak ada jalan lain, aku pun terus menjalankan sholat-sholatku. Aku mulai memperhatikan dan mempelajari beberapa sholat sunnah sebagai tambahan ibadah. Aku juga terus-menerus membaca zikir-zikir di setiap kesempatan. Di kereta, di bis, di kampus, dan di mana saja aku berada dan luang, aku berzikir. Selain itu, karena perkuliahan masih belum mulai, waktu aku habiskan untuk terus membaca hadis-hadis dan  karena belum mampu membaca Quran, aku pun coba mengimbanginya dengan terus mendengarkan bacaan Quran. Aku membeli murotal-murotal. Setiap malam, aku mendengarkan murotal-murotal itu.

Secara terbatas, aku hanya mendengarkan beberapa surat sebagaimana yang dicatat Alidrus ketika leluhurku meninggalkan pesan sebelum bulan puasa kemarin. Beberapa surat itu kudengar satu per satu dengan khusuk. Kadang, bergetar juga batinku mendengar surat-surat itu. Namun, yang membuatku semakin gelisah ialah di sekeliling tubuhku, kadang, bagaikan dipenuhi uap air. Nafas terasa sempit dan pendek. Biasanya, aku coba mengatasinya dengan berzikir dan sesekali coba mengamalkan apa yang diajarkan Rahman ketika diklat dahulu. Aku berdiri tegap, menahan nafas, dan membaca zikiran. Setelah itu, aku melepaskan nafas pelahan-lahan. Dengan cara itu, aku mampu menolak serangan dari luar dan “menembak” mahkluk-mahkluk gaib yang mengganggu. Namun, karena kesulitan pernafasan, cara ini akhirnya tidak kupergunakan lagi.

Hari itu, aku bangun pagi-pagi sekali. Isteriku yang membangunkan mengingatkanku untuk mempersiapkan diri menghadiri undangan di sebuah kampus, di Pal Merah. Karena mereka akan memulai perkuliahan semester yang baru, aku diundang untuk rapat dosen. Selama beberapa tahun ini, aku membantu mengajar secara part timer di sana. Karena itu, aku memastikan diri untuk memenuhi undangan mereka.

“Jangan lupa, Bang!” isteriku mengingatkan lagi, “acaranya jam lima sore.”

Karena itu, pagi ini, aku dapat membereskan beberapa urusan di kantor dahulu. Setelah berurusan dengan para mahasiswa yang bimbingan tugas akhir, tanpa berlama-lama di kampus lagi, aku segera pulang. Kebetulan, karena rumah dekat kampus, aku dapat pulang dengan cepat dan beristirahat di rumah. Barulah setelah terdengar azan Asar, aku segera bersiap-siap menghadiri undangan di Pal Merah. Tentu saja, aku akan berangkat setelah sholat Asar.

Aku sholat Asar di mushola kecil dekat dapur. Pada mulanya, biasa saja. Aku mulai dengan komat. Aku membaca niat dan segera takbir. Aku memulai rakaat pertama dengan membaca Al Fatihah. Setelah itu, aku ruku, dan kemudian i’tidal. Setelah itu, aku kemudian bersujud di sajadah. Saat itulah, mendadak terasa kepalaku berputar pelahan dengan sendirinya sehingga dengan cepat aku menahan putaran itu. Tapi, putaran itu terasa amat kuat sehingga aku pun menekankan keningku ke lantai dengan lebih kuat lagi. Sesaat hening dan aku mengakhiri sujud.

Dadaku berdebar, namun aku teruskan sholatku memasuki rakaat kedua. Terasa kepalaku kembali bergerak sendiri. Ada kekuatan yang mendorong aku untuk  menoleh ke kanan. Kepalaku bergerak, terasa berputar ke kanan. Namun, kutahan semua itu sampai sujud kembali. Kali ini, keringat mengucur di tubuhku.  Dan, ketika sujud itulah, kepalaku terasa kembali bergerak, memutar sendiri. Aku makin terkejut, ketika kutekan kepalaku ke lantai menahan putaran itu, kepalaku tetap terasa berputar dan terasa, semakin jelas, di dalam kepalaku terasa ada kepala yang lain. Kepalaku tidak berputar, tapi yang berputar kepala lain di dalam kepalaku yang kalau tidak kutahan, kepalaku pun akan berputar mengikutinya.

Dengan menahan rasa takut dan terkejut, aku meneruskan sholat Asar. Kali ini, sholatku memang terasa lebih lama karena aku harus sekuat tenaga mempertahankan seluruh gerak sholatku agar tidak bergerak secara menyimpang mengikuti gerak lain yang ternyata telah menembus  ke raga dan sukmaku. Setelah selesai sholat, cepat-cepat aku menuju ke ruang kerjaku. Aku tutup pintu ruang agar tidak ada yang dapat masuk.

Aku perhatikan seluruh tubuhku. Suasana mencekam membuatku merasa tertekan dengan ketakutan yang luar biasa. Kuraba seluruh bagian kepalaku. Terasa ada semacam uap panas menyelimutinya. Berbagai pertanyaan betul-betul mencuat dalam hatiku. Aku baca zikir pelahan-lahan untuk menenangkan diri. Namun, sekali lagi aku terkejut, tubuhku mendadak berputar ke belakang. Aku hampir terjengkang menahan hempasan tubuhku sendiri. Tidak dapat dipungkiri, kini, tubuhku pun, walau hanya sebagian, terasa dikuasai oleh kekuatan lain. Dan, aku tidak menghentikan zikirku. Akibatnya, tubuhku berputar-putar pelahan di kamar. Aku terus berzikir dan baru berhenti ketika kudengar suara isteriku memanggil.

“Bang! Cepat, Bang! Nanti telat!”

Aku baru ingat bahwa aku harus segera berangkat ke Pal Merah. Aku cepat-cepat berganti pakaian. Dari pintu belakang, kulihat langit dengan perasaan sedih.  Siapakah aku ini? Siapa pula yang bergerak di dalam diriku? Mana yang sebenarnya diriku? Astagfirullah hal azhim. Astagfirullah hal azhim. Astagfirullah hal azhim. (Bersambung)

Tags: , , , , , , , , ,

3 Responses to 28. DIRI DI DALAM DIRIKU

  1. heri on Monday, 14 December 2009 at 09:18

    bagus

    • Mohammad Fauzy on Saturday, 19 December 2009 at 13:38

      Terimakasih.

    • yanti on Friday, 25 June 2010 at 22:35

      life news in neraca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Pages

What people are reading right now