27. AIR TERJUN BERTINGKAT TUJUH
Sampai pagi, aku tidak dapat tidur memikirkan mimpi aneh itu. Aku jadi ingat pandangan seorang psikiater terkenal Sigmund Freud. Freud adalah penemu sebuah metode dan sebuah pemikiran dalam psikologi yang disebut Psikoanalisa. Menurut orang Yahudi ini, mimpi merupakan hasil dari proses keinginan atau pikiran-pikiran yang tidak dapat dipenuhi, yaitu keinginan atau pikiran-pikiran yang tidak pantas. Secara khusus, bisa berupa keinginan-keinginan yang tabu. Juga, — sebagian besar— dapat berupa pikiran-pikiran tentang seksualitas. Keinginan-keinginan ini tidak mungkin ditiadakan begitu saja, kita tidak mungkin menghidarinya, melainkan ia hanya dipindahkan dari area kesadaran ke area tidak sadar. Istilahnya, terjadi represi.
Pada anak-anak, sebuah mimpi sering begitu terang benderang dan tidak memerlukan penafsiran. Maknanya dapat dilihat dari keinginan-keinginan anak yang tidak dapat dipenuhi sehari sebelumnya. Mimpi makan permen, bisa jadi karena kemarin mau permen, tapi tidak dibelikan bapak atau ibu. Mimpi bermain boneka bisa jadi juga karena keinginan atau pikiran tentang boneka yang tidak mungkin terbeli. Pada orang dewasa, mimpi sering menjadi tidak sejelas mimpi pada anak-anak. Mimpi orang dewasa sering mengalami distorsi, pengaburan, berkedok, sulit dikenal, salah satunya karena resistensi dari orang bersangkutan. Ada hambatan dari dalam diri seseorang untuk membiarkan mimpi muncul secara benderang. Antara lain, karena kenyataan itu merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan, traumatik.
Mimpiku jelas mengandung distorsi, buram, dan berkedok. Sebagai mana yang aku lihat, di dalam mimpi, aku berkepala kerbau, berkulit hitam, dan bersamadi, jelas itu bukan kepala dan kulitku yang sesungguhnya, kecuali bersamadi yang memang aku lakukan. Atau sebagai mana yang aku dengar, yaitu aku harus menutup delapan lubang yang ada, jelas itu bisa jadi lubang-lubang apa saja, mungkin lubang-lubang pada diriku, mungkin juga lubang-lubang yang ada di luar diriku.
Karena itu, mimpiku memang memerlukan suatu penafsiran. Namun, caranya tentu tidak sebagaimana yang diajukan Freud. Sebelumnya, aku tidak pernah menginginkan berkepala kerbau atau berkulit hitam atau ingin mendengar suara yang berbicara tentang delapan lubang yang harus aku tutupi sebagai mana anak-anak menginginkan sebuah permen atau boneka. Selain itu, sudah belasan tahun ini aku tidak pernah bermimpi. Bisa jadi karena aku tidak mengalami represi atau memang resistensi dalam diriku sudah terlalu kuat sehingga bermimpi pun aku tidak sanggup. Lagi pula, bagiku sendiri, mimpi itu walaupun mengandung distorsi yang tidak jelas, namun beberapa bagian sudah mengandung kejelasan, yaitu kondisiku sekarang sudah sangat mengkhawatirkan, aku sudah mirip kerbau hitam dan aku harus menjaga lubang-lubang yang terdapat pada diriku: panca indera, pusar, dan kemaluanku. Dan, yang jelas, sejak itu, aku tidak pernah lagi bertelanjang dada. Walaupun di rumah, aku selalu mengenakan baju meski hanya kaos oblong. Aku tidak pernah lagi membiarkan pusarku terbuka.
***
Anto duduk di depanku. Sejak tadi, suami adik iparku ini menawarkanku untuk dipijat Pak Man, tukang pijat kenalannya. Akhirnya, karena memang tubuhku sudah sakit semua, aku mengiyakan saja tawarannya. Alhasil, besok pagi-pagi, ia akan mengantarku ke rumah Pak Man yang letaknya tidak jauh dari rumah,”Pokoknya, Bang, pijatnya betul-betul mantap. Aku yakin Abang akan puas dan merasa enak.”
Aku mengangguk-angguk. Anto pun segera beranjak dan sesaat kemudian, terdengar suara gemericit yang mengilukan. Seseorang membuka pintu pagar di depan rumah. Aku mengintip dari tabir. Kulihat seseorang sedang berada di teras. Cepat aku membuka pintu, namun bersamaan dengan itu juga, bau amis yang sangat kuat menyengat hidungku. Dengan menahan rasa mual, aku menatap orang itu, ternyata Marhan, teman lamaku. Aku mempersilakannya masuk, “Masuk-masuk. Wah, sudah lama sekali kita nggak ketemu.”
“Yah, beginilah awak,” katanya, “sibuk sekali, tapi juga selalu bokek.”
Ketika ia duduk, cepat-cepat aku masuk ke dalam, menuju ke belakang dapur, dan termuntah-muntah di sana.
“Kenapa, Bang?” tanya isteriku.
Aku menggeleng, “Ndak apa-apa,” jawabku sambil kembali ke ruang depan. Beribu-ribu pertanyaan muncul dalam benakku, mengapa kedatangan temanku ini disertai bau amis yang luar biasa, mirip bau udang busuk. Namun, yang paling membuatku heran, kenapa pula secara mendadak aku sampai mencium bau seperti itu dari dirinya?
Pertanyaan-pertanyaanku di benakku terpaksa terhenti ketika Marhan menyampaikan maksud kedatangannya. Ternyata, ia memerlukan sejumlah uang dan ia minta aku untuk menguruskan honor mengajarnya beberapa waktu lalu. Memang, ketika aku sedang prajabatan kemarin, aku minta Marhan untuk membantu diriku sebagai dosen pengganti. Dialah yang sibuk mengajar beberapa waktu lalu semasa aku sibuk mengurus prajabatan di Kuningan.
“Baik-baik, nanti aku urusin. Kalau udah beres, nanti kutelepon,” kataku sambil mempersilakan ia untuk minum.
“Tapi, jangan lama-lama.”
Aku mengiyakan dan kami pun mengobrol ke kiri ke kanan. Dan, entah bagaimana, bau amis itu tercium lagi walau tidak sekuat pertama kali Marhan datang. Untunglah, sebelum menghabiskan kopi yang disediakan isteriku, ia segera pamit. Aku pun menarik nafas lega karena rasa mualku perlahan mereda tidak sampai membuatku muntah kembali.
Ketika hal ini kusampaikan pada isteriku, ia hanya keheran-heranan mendengarnya. Bagaimanapun, penciumanku ternyata juga mulai terganggu. Akhirnya, dengan putus asa, aku menghela nafas. Aku minta isteriku untuk menuangkan kembali segelas kopi.
“Apa ndak kebanyakan, Bang? Udah tiga gelas, lho. Apa nanti malah nggak kena maag-nya?”
“Sudah! Sudahlah! Siapkan saja!” kataku.
***
Akhirnya, berita yang kutunggu-tunggu itu datang juga. Isteriku mengabarkan bahwa barusan sepupunya yang tinggal di Tanggerang menelepon dan memberitahu, air terjun bersusun tujuh yang aku cari itu memang ada. Air terjun itu terletak di daerah Cisarua, Puncak. Namanya, air terjun Cilember atau dalam bahasa Sunda: Curug Cilember. Bila dari arah Jakarta menuju Puncak, air terjun itu di sebelah kiri jalan jalur Ciawi-Puncak, di Cisarua, sekitar 15 Km dari pintu tol Gadog (Jagorawi). Karena itu, aku putuskan bersama isteriku, kami akan ke sana pada hari Minggu. Sekalian, ia dan anakku berliburan.
Perjalanan ke sana, cukup lama juga. Walau sudah pagi-pagi berangkat naik bus dari terminal Rambutan, kami masih juga sedikit terjebak macet di Puncak. Untung, sebelum tengah hari kami sudah tiba di sana. Ada perasaan takjub memandang area Curug Cilember yang merupakan panorama bukit dengan hamparan pinus merkusi. Suasana sejuk dan menggetarkan hati. Di sana-sini beberapa kelompok pengunjung bergerombol di kawasan hutan lindung, di ketinggian sekita 800 meter, di atas permukaan laut itu.
Beberapa saat aku mencari informasi tentang air terjun itu dengan bertanya-tanya beberapa kali. Memang, ada tujuh air terjun di sana, terletak di ketinggian berbeda. Kebanyakan pengunjung hanya mampu menikmati keindahan air terjun di curug tujuh yang berlokasi paling bawah. Untuk mencapai air terjun ke enam sampai ke satu, medannya sangat berat, harus melalui jalan yang terus menanjak. Untuk melalui semua curug, mulai dari curug tujuh sampai curug satu yang tertinggi, membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam.
Karena itu, ketika akan menuju curug enam, kubiarkan isteri dan anakku menunggu di bawah. Aku akan mendaki dan mandi sendiri di sana. Aku berharap sampai ke curug satu, tapi melihat medan yang terbentang menuju curug enam, aku ragu bisa tiba di sana. Jalanan betul-betul menanjak dan kadang berbatu. Baru sekitar dua puluh menit aku tiba di curug enam dan mandi di bawah air terjun itu. Hanya dengan bercelana pendek dan bertelanjang dada, aku membiarkan tubuhku dihantam derasnya curahan air terjun yang menderu-deru. Tubuh sesekali terhuyung ke kiri dan sesekali terhuyung ke kanan.
Terasa dingin sekali. Terasa aneh sekali. Terasa asing sekali. Terasa sedih sekali. Namun, keinginan untuk sembuh dan lepas dari rasa sakit membuatku untuk mengabaikan semua rasa itu. Dingin memang menyengat tubuh, tapi rasa aneh mengusik kebiasaan hidup. Seumur-umur, baru kali ini aku mandi di bawah air terjun bagai orang menuntut ilmu. Dan, aku menjadi asing dengan diriku sendiri. Rasa sedih pun menggerus hati dan perasaan, setelah melangkah jauh dari kebenaran, betapa sulitnya untuk mencari jalan pulang. Lalu, tanpa berlama-lama, aku menuju curug lima. Cahaya gemerlap air yang warna-warni dalam bias matahari sangat memukau. Di depan mata, terjadi pelangi dalam bentuk mini. Luar biasa indah dan menggetarkan.
Selanjutnya, aku menuju curug empat dan melanjutkan mandi di sana. Sampai di sini, aku menghentikan perjalanan karena medan semakin sulit dan sepi. Aku segera berganti pakaian dan sholat Lohor. Aku sholat di atas bebatuan di tengah alam raya, di curug empat. Setelah itu, aku turun ke curug satu menemui anak isteriku yang ternyata sedang mandi di bawah air terjun itu. Setelah beristirahat sejenak dan menyaksikan Taman Kupu Kupu, kami pun pulang. Walau tidak puas hanya mandi sampai di curug empat, aku terpaksa harus menerima kenyataan, memang tidak ada petunjuk yang jelas harus mandi sampai di curug berapa, kecuali sebagai mana dikemukakan Ibu Mira Diana, mandi di air terjun bersusun tujuh.
***
Selama beberapa hari, tidak ada efek apapun yang kualami setelah mandi di Curug Cilember. Tidak ada perubahan. Badan tetap sakit. Namun, walau begitu, tidak apa-apalah. Bagiku, ke Curug Cilember, hitung-hitung sudah membawa anak isteri berlibur. Beberapa tahun terakhir, aku memang tidak pernah mengajak mereka pergi berjalan-jalan, apalagi ke luar kota seperti ke Curug Cilember. Bagaimanapun, aku merasakan juga, sejak Wawan dan Yanti tidak ada, memang ada waktu lebih banyak yang dapat aku manfaatkan bersama keluarga. Beberapa hari ini, aku sempatkan membonceng puteriku naik sepeda, menerobos hutan-hutan di lingkungan Universitas Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, hal ini memberikan perasaan nyaman padaku, paling tidak mengurangi rasa berdosa pada dirinya. Namun, sejalan dengan itu, tidak dapat kupungkiri juga, secara fisik, staminaku ternyata sudah sangat payah. Nafasku pendek dan tenagaku pun lemah. Tidak heran, sesekali aku harus berhenti dan lalu berjalan bersama puteriku. Biasanya, sore-sore, menjelang Maghrib, kami baru pulang.
Hari itu, selesai berjalan-jalan dengan puteriku, isteriku menyiapkan beberapa lembar daun Ginseng yang telah dibersihkan. Ia menaruhnya di piring dan diletakan di meja. Aku mengunyahnya sampai habis. Beberapa tahun ini, di belakang rumah, pohon Ginseng memang tumbuh dengan subur di celah-celah beberapa pohon pisang. Biasanya, setelah mengunyah beberapa lembar Ginseng, aku merasa agak nyaman. Karena itu pula, selama dua minggu terakhir ini, isteriku rajin memetik dan membersihkannya untukku.
“Ya, tidak ada salahnya mencoba, Bang,” jelas isteriku, “siapa tahu, daun-daun ini dapat memulihkan tenagamu.”
“Ya, mudah-mudahan. Rasa-rasanya sih, cocok,“ kataku, “tapi, aduh, aku kok mules, ya?”
Tanpa memperdulikan isteriku yang sedang menuangkan kopi, aku cepat-cepat ke WC yang terletak di belakang rumah. Namun, baru beberapa saat di dalamnya, mendadak aku lihat cahaya ungu sebesar koin pelahan-lahan muncul di pintu WC. Pintu yang berlapiskan seng itu seakan merekah, bolong mengeluarkan cahaya ungu. Aku mengedip-ngedipkan kelopak mata untuk meyakinkan pandanganku. Cahaya itu tetap tidak bergeming. Malah, di pinggirnya, muncul lapisan tipis warna hijau muda. Lalu, beberapa detik kemudian, memudar. (Bersambung)