26. KENANGAN DAN MIMPI ANEH

Dengan alasan besok aku harus mengantarnya, aku kemudian buru-buru pamit, pulang cepat-cepat dari kos-kosan Yanti. Di sepanjang perjalanan, dadaku tidak henti-hentinya masih berdegup kencang menahan takut. Di langit, bulan tinggal separuh ketika aku tiba di pertigaan Srengseng Sawah. Walau rasanya masih belum larut, ternyata suasana di sana tampak sepi sekali. Toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan, di ujung pertigaan itu, telah tutup semua. Suasana tampak remang-remang, hanya bergantung pada cahaya sebuah lampu di ujung jalan.
Kunyalakan rokokku sambil melihat ke kiri ke kanan, mencari ojek. Tidak ada. Tidak ada seseorang pun. Dan, mendadak di kegelapan malam, di teras sebuah toko di pertigaan itu, tampak sesuatu bergerak, sesosok tubuh. Sosok itu tampak duduk dan aliran darah ke jantungku rasanya mau terhenti ketika melihat pakaiannya yang compang-camping dan hampir telanjang, jelas itu adalah orang gila. Ia menatapku sambil menyeringai. Aku merinding.
Aku mempercepat langkah melewatinya, hampir-hampir saja aku berlari kalau tidak ingat hal itu mungkin justeru dapat membuat ia mengejarku. Barulah sekitar lima menit berjalan tanpa menoleh, aku memperlambat langkah. Dadaku masih berdebar-debar dan nafas terengah-engah bercampur dengan asap rokok yang terus kuhisap tanpa henti. Akhirnya, karena tidak menemukan ojek juga di sepanjang jalan, aku berjalan kaki sampai ke rumah.
***
Aku mengantar Yanti ke Gambir. Waktu terasa lamban bergerak. Entah mengapa, aku menjadi kian kuatir bila berada di dekat Yanti. Takut diriku dan atau dirinya tidak mampu menahan diri. Aku benar-benar merasa gelisah dan sungguh-sungguh merasa berdosa. Pertama, aku tidak dapat lagi berperilaku seenaknya seperti dulu terhadap Yanti. Kenyataan menunjukkan, hidup ini memiliki batasan. Batasan-batasan membuat kehidupan menjadi lebih teratur dan bermakna. Kedua, aku takut terjadi peristiwa seperti kemarin malam. Gara-gara aku ingin menjaga perasaannya, bayangan-bayangan orang gila yang menakutkan itu muncul menghantuiku. Dan, yang paling tidak menggembirakan, kata Yanti, setelah lebaran, ia akan ke Jakarta lagi. Aku jelas tidak dapat melarang dan mengusirnya begitu saja. Apalagi, ia mengemukakan alasannya adalah mencari pekerjaan. Namun, apapun nanti yang terjadi, sekarang, aku paling tidak sedikit dapat bernafas.
“Oh, ya. Wawan nggak pulang?” tanya Yanti memecah kebekuan di antara kami.
“Pulang, tapi kapan waktunya, masih belum jelas.”
“Mudah-mudahan masih dapat tiket kereta.”
“Ya. Mudah-mudahan.”
“Kemarin, aku membeli tiket aja sudah antri dari pagi,” jelas Yanti, “itupun sudah sampai pada tiket untuk kereta api cadangan.”
Aku mengangguk. Beberapa hari lalu, aku juga memang sudah bertanya kepada Wawan, apakah ia akan pulang atau tidak ke Semarang. Ia mengatakan, ia akan pulang, tapi wajahnya masih membayangkan keraguan. Aku tentu saja dapat memaklumi keraguan Wawan. Bahkan, jauh-jauh hari, sebelum para leluhurku datang kepadanya untuk berhubungan denganku, ia telah mengatakan niatnya hendak pulang ke Semarang. Hanya, karena ada sesuatu yang terjadi dengan keluarganya, Wawan waktu itu menjadi ragu dan meminta pertimbanganku.
“Tolong, nanti salam aja ke Wawan,” kata Yanti.
Aku mengangguk kembali.
Ketika terdengar pemberitahuan kereta akan segera berangkat, aku bantu Yanti mengangkat tas kopernya. Aku mengantarnya sampai ke dalam kereta. Kusuruh dia berhati-hati di jalan dan jangan lengah. Ia mengangguk. Kami tidak banyak berbicara lagi. Ketika pemberitahuan kedua terdengar dan pengantar penumpang disuruh turun, aku segera meninggalkan Yanti. Ada sesuatu yang menyeruak dalam diri. Tapi, aku tidak mau menoleh ke belakang. Aku terus menuju pintu keluar kereta.
Tidak lama kemudian, kereta bergerak pelahan meninggalkan stasiun Gambir. Kulambaikan tangan ke pada Yanti. Samar-samar wajahnya tampak di balik kaca jendela. Secara bersamaan, mendadak terasa sesuatu keluar dari tubuhku dengan cepat. Aku tidak mampu melihatnya, namun aku merasakan benda itu bagaikan sejenis gelembung udara yang mengandung uap air. Tubuh, terutama bagian dada sampai perut, terasa resik dan lebih kering. Terasa nyaman dan pernafasanku pun menjadi lebih lancar.
Sejenak aku coba menduga-duga apa yang terjadi pada diriku, namun aku tidak mampu memahaminya. Akhirnya, aku tidak memikirkan hal itu lagi. Langit Jakarta telah gelap gulita digelayuti mendung. Aku cepat-cepat meninggalkan Gambir.
***
Aku menghabiskan waktu-waktu terakhir Ramadhan bersama Wawan karena kuliah mulai libur. Para mahasiswa dan juga sebagian besar penduduk Jakarta mulai mudik. Di sela-sela waktu itu, sesekali kuminta Wawan memanggil leluhurku, namun mereka tidak dapat dihubungi. Para leluhurku bagaikan lenyap ditelan bumi justeru ketika aku membutuhkan mereka. Aku menjadi cemas juga karena tidak memperoleh petunjuk. Berbagai persoalan yang masih mengganjel menjadi mengambang tanpa solusi. Bagaimana kalau mereka benar-benar pergi?
Wawan juga tidak mengerti mengapa para leluhur itu menjadi sulit dihubungi. Setiap kali kutanya, ia menjawab tidak tahu. Karena itu, waktu-waktu yang tersedia kuhabiskan untuk membaca terjemah Al Quran, Hukum Islam, kumpulan hadis Riyadhus Shalihin milik mertuaku, dan menghafal surat-surat pendek, Juz Ama.
Membaca terjemahan Al Quran tidak lama kulakukan. Mungkin, karena terjemahannya kurang begitu baik, aku akhirnya lebih banyak membaca tentang hukum Islam. Tentu saja yang menarik bagiku adalah masalah hubungan suami isteri, masalah perzinahan, perlakuan terhadap isteri, dan hal-hal yang berhubungan dengan keluarga. Membaca semua itu, bagai orang bodoh, baru aku paham bahwa apa yang kulakukan selama ini, termasuk hubunganku dengan Yanti adalah sesuatu yang betul-betul dilarang dan dibenci Allah. Karena itu, aku bersyukur dapat mengakhiri hubungan dengan gadis itu walau dalam kenyataan masih tersendat-sendat.
Setelah itu, kumpulan-kumpulan hadis dalam Riyaduhus Shalihin sebanyak dua jilid kubaca sampai habis. Aku juga coba menghafal surat-surat pendek yang ada, terutama, melancarkan membaca surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas. Bagaimanapun surat-surat ini lebih mudah kuhafal dan memang tidak begitu asing lagi. Sejak kecil, ketika berusia lima-enam tahun, nenekku setiap malam selalu mengajariku untuk menghafal surat-surat tersebut. Setiap mau tidur, aku selalu diajarnya menghafal Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas. Karena itu, ketika dalam kondisi “genting” seperti sekarang, surat-surat itu yang bergaung lebih dahulu di dalam diriku. Surat-surat itulah yang selalu kubaca dalam sholat-sholat selama ini. Bahkan, seingatku, jika menghadapi kesulitan dalam persoalan sehari-hari, surat Al Ikhlas yang paling sering muncul dalam ingatan dan kubaca walau kemunculannya hanya setahun atau dua tahun sekali!
Ketika malam itu kami berdiskusi membahas persoalan-persoalan yang muncul pada diriku dan juga para leluhur yang sulit dihubungi, aku mengatakan kepada Wawan, aku sangat bersyukur telah dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan rumah besar yang penuh dengan tradisi bercerita. Dengan cara itu, agama memperoleh jalan untuk disampaikan secara mudah dari generasi ke generasi sejak anak masih kecil, ketika anak belum mampu membaca.
Waktu itu, antara 1960 sampai 1970, aku dan keluargaku tinggal di sebuah rumah besar yang sangat ramai dengan keluarga, terutama orang tua-tua. Di rumah besar itu, tinggal nenek dari pihak ibuku, ayahku, ibuku, kakakku, adikku, dan termasuk sepupu-sepupu dari pihak ayahku, kakak angkat ibuku, dan beberapa pembantu rumah tangga. Di rumah itu, tinggal banyak orang dan masa kecilku kuhabiskan bersama mereka, termasuk nenek dari pihak ayahku yang biasa menginap beberapa malam. Mereka, terutama orang tua-tua, selalu menemani dan menghantar aku tidur. Sebelum tidur itulah kami, termasuk kakak dan sepupu-sepupuku, biasa memperoleh cerita-cerita yang penuh dengan nasihat dan doa-doa. Mulai dari cerita Nenek Gergasi, Batu Belah Batu Bertangkup, sampai dengan cerita-cerita sejenis Malin Kundang.
Teringat olehku pada malam itu, sekitar 34 tahun silam, ketika nenek mengajarkanku untuk menghafal surat-surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas, “Jangan lupa, baca surat ini setiap mau tidur, kau pasti akan selamat.” Aku tidak memahami apa maksud ucapannya saat itu, bahkan sampai usia remaja belasan pun tidak. Barulah sekarang, aku dapat memahami ucapan nenek itu. Ternyata, masa lalu bersama nenek dengan doa-doa itulah yang muncul begitu jelas di saat-saat aku dalam keadaan goyah seperti sekarang. Selain itu, kenangan-kenangan lain juga muncul secara tersamar. Aku juga heran, ada rasa yang begitu kuat untuk membaca Barzanjie ketika teringat perayaan-perayaan Isra Mi’raj dan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Hampir setiap tahun, pada waktu perayaan-perayaan itu, keluargaku mengundang puluhan orang untuk tahlil di rumah. Rumah besar menjadi penuh dan ramai, puluhan orang diundang duduk bersila mendengarkan pembacaan Barzanjie dan diakhiri dengan makan nasi Kebuli. Biasanya, kami anak-anak, duduk bercampur dengan orang-orang tua, lalu ikut-ikutan bershalawat. Suasana jadi ramai penuh dengan teriakan-teriakan shalawat dari kami.
“Kalau tidak ada pengalaman seperti itu, aku tak tahu, gambaran apa yang bakal muncul dan bergaung di dalam diriku saat ini.”
“Ya, kalau sekarang, kayaknya setiap menemui kesulitan, memori Abang bisa langsung searching ke doa-doa itu sebagai referensi,” jelas Wawan, “tapi bagi yang tidak punya pengalaman itu, ia akan mengalami kesulitan.”
“Sekarang, aku baru paham, mengapa sewaktu baru lahir, anak-anak perlu dibacakan azan di telinganya.”
***
Bacaan-bacaan yang kuhafal bagaikan medan magnet yang luar biasa membangkitkan segenap kenangan tentang bacaan-bacaan itu di masa lalu. Sepotong demi sepotong, ayat-ayat dalam setiap surat mulai kurekonstruksi kembali dan dengan sangat cepat aku hafalkan. Sejalan dengan itu, ada sesuatu yang hangat terasa mengalir di segenap peredaran darahku. Kini, aku mengerti, di dalam diriku, ada sesuatu yang kalau aku membaca surat-surat itu, ia akan aktif bagaikan pusaran magnet yang mempercepat seluruh metabolisme tubuh sebagai mana yang terjadi ketika hari pertama berbuka puasa. Tubuh menjadi kian hangat. Namun, secara bersamaan, perubahan-perubahan fisikku juga semakin mengkuatirkan. Tubuh semakin terasa berat dan gangguan cahaya juga semakin kuat, apalagi jika aku memejamkan mata baik ketika berzikir maupun sholat. Pusaran-pusaran cahaya yang muncul bergekombang-gelombang tanpa henti bagaikan ombak. Lintasan pikiran yang muncul makin sering.
Tentu saja aku kadang menjadi kebingungan dan penuh dengan tanda tanya, namun para leluhur yang coba kupanggil lewat Wawan juga tidak muncul-muncul. Malah, yang paling mengkuatirkan, justeru Wawan sendiri kemudian pulang ke Semarang. Maka, terputus sudah hubunganku dengan para leluhur. Akibatnya, tiada jalan lain, walau dengan rasa takut yang mendalam dengan segala peristiwa itu, aku meneruskan sholat-sholatku dan terus berzikir, menghabiskan Ramadhan sampai akhirnya tiba Hari Raya Iedul Fitri.
Setelah sholat Iedhul Fitri, aku mohon maaf kepada mertuaku dan ipar-iparku, setelah itu, aku dan anak isteriku ke Radio Dalam untuk menjenguk ibuku. Ketika kuceritakan keadaanku, tampak ia agak kuatir, namun ia kemudian menyuruhku untuk berhati-hati dengan masalah leluhur-leluhur itu. Ia juga sempat mengemukakan, pada tahun depan nanti, insya Allah, ia akan naik haji. Aku turut bersuka cita mendengarnya. Dan, aku hanya dapat menitip doa agar aku sembuh dari penyakit-penyakitku, “Jangan lupa, terus sholat,” nasihatnya, “baca selalu shalawat.”
Malamnya, setelah sholat Isa, aku berzikir kembali. Sampai larut malam, aku coba merenungkan berbagai kejadian yang kualami selama ini. Paling tidak, ada lima hari puasaku batal karena ketidakmampuanku menahan emosi. Rencananya, besok aku hendak membayar semua utang puasaku itu. Tapi, bagaimanapun, aku sangat bersyukur. Dibandingkan dengan tahun-tahun yang lampau, puasaku tahun ini adalah yang terbaik. Karena itu, untuk menambah pahala-pahalaku, setelah puasa wajib selesai, aku segera melanjutkan puasa selama seminggu dengan puasa sunah Syawal.
Alhamdulilah, puasa-puasa Syawal itu pun berhasil kuselesaikan dengan baik. Setelah berbuka, hari itu, aku lanjutkan dengan sholat-sholat wajib. Lalu, sampai larut malam aku berzikir sendiri. Agak terasa sepi juga karena tidak ada Wawan. Sebab itu, setelah menghabiskan sebatang rokok dan segelas kopi, aku mulai merasa kantuk. Tanpa terasa, aku pun terlelap dan tertidur di lantai kamar kerja.
Saat itulah, aku terkejut karena kulihat diriku tampak sedang duduk bersila di sebuah ruangan luas tanpa bertepi. Aku duduk dengan posisi bersamadi. Tubuhku hitam, kepalaku berwujud kepala kerbau. Dan, sebuah suara dengan jelas berkumandang, “Ada delapan lubang yang harus kau tutupi!”
Suara itu jelas dan kencang sekali sehingga saat itu juga aku terbangun. Hanya tembok kamar yang kutemui. Mimpi yang sungguh menakutkan! Karena itu, lama juga aku merenung-renungkan makna mimpi tersebut. Bukan tidak mungkin sudah seperti itulah gambaran diriku. Mirip kerbau. Rasa takut pun makin menyeruak di sekujur diri. Namun, kukuatkan diri untuk mencerna suara yang berkumandang dalam mimpi tadi. Jika ada delapan lubang yang harus aku tutupi, jelas itu juga merupakan petunjuk, hanya delapan lubang itu lubang apa? Kuping, hidung, mulut, pusar, mata? Atau lubang-lubang yang lain? Bagaimana pula menutupnya? Sampai pagi aku tidak dapat tidur memikirkan mimpi aneh itu. (Bersambung)