<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>CATATAN BAWAH SADAR</title>
	<atom:link href="http://www.neurosains.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.neurosains.com</link>
	<description>FIKSI, ILUSI, DAN HALUSINASI</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 19:49:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>41. SI MUKA HITAM</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1163</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1163#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 18:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1163</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu benar-benar mencekam. Di sepanjang jalan dari Pasar Minggu menuju rumah, pikiranku benar-benar terganggu dengan mahkluk hitam yang menurut Tono tampaknya hendak merasuki diriku lagi. Tono tidak menjelaskan mahkluk tersebut secara lebih rinci dan aku pun memang tidak mampu melihatnya, namun gambaran-gambaran visualnya walau secara samar-samar dapat tertangkap oleh diriku. Terbayang-bayang olehku ia berdiri di setiap jembatan penyeberangan memperhatikan diriku dan aku tentu saja masih terus memikirkan mahkluk tersebut, apa dan mengapa ia sampai merasuki diriku dan mengapa ia pula sampai keluar dari diriku. Paling tidak, keluarnya ia dari diriku mengindikasikan ada sesuatu yang telah aku perbuat sehingga melemahkan daya pengaruhnya dan ia tidak mampu menguasai diriku lagi. Lebih dari itu, ia tidak berdaya untuk merasuki diriku, kecuali berharap aku untuk melakukan sesuatu yang membuat dirinya dapat merasuki diriku kembali. Lama aku merenung sampai akhirnya aku berdebar-debar sendiri. Jelas, ada dua hal besar yang telah aku lakukan beberapa bulan terakhir, yaitu sholat dan melepaskan diri Yanti. Aku telah mengakhiri perselingkuhanku dengan dirinya. Kemungkinan besar, dua perbuatanku itu yang membuatnya melemah dan dengan sendirinya keluar dari jasadku. Dengan kata lain, dosa-dosa yang aku perbuat tampaknya memperkuat kekuatan-kekuatan bahkan membuat roh-roh jahat merasuki diriku. Sebaliknya, setiap perbuatan baik yang aku lakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/08/Muka-Hitam.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1180" title="Muka Hitam" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/08/Muka-Hitam.jpg" alt="" width="154" height="162" /></a>Malam itu benar-benar mencekam. Di sepanjang jalan dari Pasar Minggu menuju rumah, pikiranku benar-benar terganggu dengan mahkluk hitam yang menurut Tono tampaknya hendak merasuki diriku lagi. Tono tidak menjelaskan mahkluk tersebut secara lebih rinci dan aku pun memang tidak mampu melihatnya, namun gambaran-gambaran visualnya walau secara samar-samar dapat tertangkap oleh diriku.  Terbayang-bayang olehku ia berdiri di setiap jembatan penyeberangan memperhatikan diriku dan aku tentu saja masih terus memikirkan mahkluk tersebut, apa dan mengapa ia sampai merasuki diriku dan mengapa ia pula sampai keluar dari diriku. Paling tidak, keluarnya ia dari diriku mengindikasikan ada sesuatu yang telah aku perbuat sehingga melemahkan daya pengaruhnya dan ia tidak  mampu menguasai diriku lagi. Lebih dari itu, ia tidak berdaya untuk merasuki diriku, kecuali berharap aku untuk melakukan sesuatu yang membuat dirinya dapat merasuki diriku kembali.<span id="more-1163"></span></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Lama aku merenung sampai akhirnya aku berdebar-debar sendiri. Jelas, ada dua hal besar yang telah aku lakukan beberapa bulan terakhir, yaitu sholat dan melepaskan diri Yanti. Aku telah mengakhiri perselingkuhanku dengan dirinya. Kemungkinan besar, dua perbuatanku itu yang membuatnya melemah dan dengan sendirinya keluar dari jasadku. Dengan kata lain, dosa-dosa yang aku perbuat tampaknya memperkuat kekuatan-kekuatan bahkan membuat roh-roh jahat merasuki diriku. Sebaliknya, setiap perbuatan baik yang aku lakukan terasa pula memperlemah kekuatan-kekuatan setan tersebut sehingga mampu mengusirnya. Tubuhku bagai terminal tempat kejahatan dan kebaikan bertemu, tempat lalu lintas dua kekuatan yang terus dan terus bertarung.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Aku menghela nafas dan menyulut rokok. Timbul pertanyaan di dalam diriku, sebenarnya, ada seberapa banyakkah kekuatan jahat yang bersarang di tubuhku? Jika menurut Pak Tursimin  ia telah mengusir beberapa siluman yang menggangguku, berapa banyak lagi yang masih tertahan di jasadku? Atau, bila dugaanku di atas benar, seberapa banyak pula dosa-dosaku sehingga makhluk-mahkluk halus itu rasa-rasanya tidak pernah berhenti menggangguku? Lagi pula, setelah pulang dari rumah Pak Tursimin, tidak sebagaimana yang dikatakannya bahwa ia telah mengusir beberapa siluman dari tubuhku, sebaliknya tubuhku terasa  kurtang nyaman. Rasanya, tidak banyak perubahan yang terjadi sehingga timbul juga keragu-raguan di dalam diriku. Seandainya sudah ada beberapa siluman terusir dari tubuhku, tentu tubuhku akan lebih enak. Namun, bagaimanapun, aku masih yakin, Tono pasti tidak mengelabuiku bahwa Pak Tursimin dapat membantu mengobati driku. Besok, aku harus kembali untuk dimandikan, melanjutkan pengusiran siluman yang kata Pak Tursimin masih ada ditubuhku.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Aku tiba di rumah menjelang tengah malam. Aku masih belum dapat mengusir bayangan-bayangan mahkluk hitam yang menurut Tono hendak merasukiku kembali. Namun, jelas aku sudah merasa lebih baik ketimbang masih di jalanan tadi. Karena itu, yang menjadi pikiranku, justeru tentang Pak Tursimin yang besok akan memandikanku. Aku benar-benar berharap bahwa pemandian itu dapat menolongku. Sebagai mana penjelasan Pak Tursimin, pemandian diriku itu untuk pembersihan diri. Terbayang olehku, setelah pemandian tersebut, tubuhku akan jauh lebih nyaman dan kalaupun dalam proses tersebut menyakitkan sebagai mana pernah dijelaskan Tono, tubuh dapat seperti terbelah dua, aku betul-betul sudah siap. Aku sudah tidak tahan dengan kondisi nafas yang masih terengah-engah seperti sekarang karena tubuh terus-menerus terasa penuh dengan uap air.</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;"><strong>***</strong></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Setelah melewati hujan yang deras, aku baru menemukan rumah Pak Tursimin. Aku benar-benar hampir tersesat. Jalan yang aku lalui bersama Tono kemarin malam benar-benar tidak dapat aku kenali lagi. Untunglah ada beberapa orang yang aku tanya mengenal Pak Tursimin sehingga aku dapat menemukan rumahnya. Namun, menurut Pak Tursimin, hal itu merupakan sesuatu yang wajar. Kekuatan jahat yang ada dalam diriku mengendalikan diriku untuk menghindari Pak Tursimin agar aku tidak memperoleh pembersihan sore itu.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Akhirnya, aku  pun dimandikan Pak Tursimin dalam keadaan berpakaian kain putih yang disediakannya. Aku disiramnya dengan air kembang setelah mengikutinya membaca beberapa kata semacam doa yang tidak begitu aku ingat. Dingin sekali. Hanya sekitar setengah jam kemudian, upacara itu selesai. Setelah mengeringkan tubuh, aku dipersilakannya untuk minum kopi panas di ruang depan. Lalu, Pak Tursimin menjelaskan bahwa dengan memandikan diriku tadi, ia berharap beberapa kekuatan jahat dapat dibersihkan. Bahkan, sesaat kemudian, ia memejamkan matanya sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajah. Dengan setengah menunduk, ia diam. Lalu, dengan mengangguk-angguk, Pak Tursimin memastikan bahwa diriku sudah lepas dari gangguan siluman.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Pak Tursimin kemudian menceritakan tentang pekerjaannya. Hampir setiap hari banyak orang berobat ke rumahnya. Rupanya, gangguan-gangguan siluman sungguh sudah meluas. Ia mengganggu rumah tangga orang, ia juga menimbulkan penyakit, perceraian, dan bahkan kematian. Menurut Pak Tursimin, kemampuannya itu dia peroleh melalui suatu cara yang ajaib. Pada suatu malam, ketika ia pulang ke rumah, ia melewati jalan raya Bogor. Tiba-tiba, ketika ia menyeberang, semua berubah menjadi hutan. Di sekelilingnya tidak ada lagi jalan raya. Yang dia lihat hanya pepohonan di mana-mana. Sejak itu, ia mampu melihat alam gaib. Ia dapat melihat berbagai macam siluman, mulai dari siluman ular sampai ke siluman yang berkepala manusia dengan kaki kuda.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Aku mendengar ceritanya dengan telaten. Namun, yang paling mengesankan ialah ketika ia mengatakan bahwa ia penah bertemu dengan Sunan Kali Jogo. Waktu itu, ia sedang berada di Blok M, ketika sesorang mendatanginya dalam wujud yang mengagumkan. Dan, sayang, kata Pak Tursimin, ia tidak sempat bercakap-cakap dengan Sunan Kali Jogo itu. Setelah itu, ia tidak pernah melihatnya lagi.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Aku mengangguk-angguk. Cerita-cerita semacam ini bagiku, dulu,  tentu saja tidak masuk diakal. Namun, sekarang, aku coba memahaminya dengan cara pandang yang lain. Bagaimanapun, kejadian-kejadian semacam itu ada secara individual dan tersebar secara sosial. Karena itu, timbul kembali pertanyaan-pertanyaanku, apakah orang yang telah mati dapat mendatangi orang-orang yang masih hidup sebagaimana leluhurku mendatangiku beberapa waktu lalu? Hal-hal semacam ini tentu saja mengguncangkan keyakinan-keyakinanku tentang kematian, tentang alam setelah mati, dan  tentang gangguan-gangguan jin. Karena itu, aku tidak ingin cepat-cepat menyimpulkannya. Sebaliknya, aku justeru kian ingin tahu tentang hal-hal tersebut melalui Pak Tursimin. Maka kami pun mengobrol sampai larut malam. Kami pun saling bercerita tentang diri masing-masing.</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">***</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Di sepanjang jalan sampai di rumah, aku masih terus memikirkan Pak Tursimin. Namun,  selanjutnya, tentu aku memikirkan tentang diriku sendiri. Anehnya, walaupun telah dimandikan dan bahkan menurut Pak Tursimin aku sudah bersih, tetap saja aku merasakan gangguan-ganguan pada diriku. Ketika pulang tadi, saat mau naik ojek di Pasar Rebo, kepalaku rasanya besar sekali. Dan, yang menakutkan, terasa sesuatu ditusukkan tepat di kepalaku, berputar seperti bor, menerobos sampai ke tulang belakang. Sakitnya luar biasa.  Bahkan, malam itu, ketika tiba di rumah, terdengar suara benda-benda bergulir di atas kamar kerjaku yang beratapkan bahan seng.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Aku ketakutan. Cepat aku mengambil wudhu dan mendirikan sholat. Namun, sholatku pun tidak dapat khusuk karena gangguan-gangguan tersebut semakin menghebat. Di atas kamarku terdengar suara-suara benda berjatuhan. Namun, setelah sholat, ketika aku keluar dan naik ke pagar untuk melihat apa yang sesungguhnya terjadi, tak tampak apa-apa. Selain memang gelap, juga karena pandanganku sangat terbatas oleh daun pepohonan yang menjulur di atas rumah. Karena itu, aku kemudian masuk kembali ke kamar. Dan, bunyi-bunyi benda berjatuhan itu pun terdengar lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1163</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Masuk dan Keluar WC</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1156</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1156#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 06:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY QUOTES]]></category>
		<category><![CDATA[Doa Masuk dan Keluar WC/Kamar mandi]]></category>
		<category><![CDATA[Doa Pengusir Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1156</guid>
		<description><![CDATA[“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan laki-laki dan wanita.” (Bukhari, Muslim). Setiap muslim yang hendak memasuki WC atau kamar mandi disunnahkan membaca doa itu. Doa itu menunjukkan, WC adalah tempat berkumpul syetan laki-laki dan syetan perempuan. Karena itu, jangan berlama-lama di WC. Jangan menjadikan WC sebagai tempat ‘beristirahat’ atau ‘hiburan’. Beberapa orang menjadikan WC tempat membaca koran,  melengkapinya dengan buku-buku, dan bahkan menambahkan sound system untuk mendengarkan musik. Beberapa orang lagi, ada yang sempat  menghabiskan sebatang rokok di WC. Orang-orang ini telah dipermainkan syetan. Karena itu, sebelum memasukinya, seseorang perlu minta pertolongan Allah. Hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat keberadaan syetan. Hanya Allah yang mampu melindungi. Karena itu, setelah ke luar WC atau kamar mandi berdoalah, “Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkan aku.” (Tirmizi, Nasa’l, Ibnu Majah). Doa ini menunjukkan, segala pembersihan yang terjadi di WC, buang air kecil, buang air besar, dan mandi, dapat menghilangkan penyakit-penyakit.  Karena itu, seluruh adab dan tata cara sebelum masuk, di dalam, dan ke luar WC perlu dipelajari secara baik. Perlu diajarkan sejak masa kanak-kanak untuk mencegah mereka bermain dan berlama-lama di WC. Beberapa penyakit gangguan syetan dan penyakit jiwa, insya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">“<em>Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan laki-laki dan wanita.</em>” (Bukhari, Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap muslim yang hendak memasuki WC atau kamar mandi disunnahkan membaca doa itu. Doa itu menunjukkan, WC adalah tempat berkumpul syetan laki-laki dan syetan perempuan. Karena itu, jangan berlama-lama di WC. Jangan menjadikan WC sebagai tempat ‘beristirahat’ atau ‘hiburan’. Beberapa orang menjadikan WC tempat membaca koran,  melengkapinya dengan buku-buku, dan bahkan menambahkan <em>sound system</em> untuk mendengarkan musik. Beberapa orang lagi, ada yang sempat  menghabiskan sebatang rokok di WC. Orang-orang ini telah dipermainkan syetan.</p>
<p><span id="more-1156"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, sebelum memasukinya, seseorang perlu minta pertolongan Allah. Hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat keberadaan syetan. Hanya Allah yang mampu melindungi. Karena itu, setelah ke luar WC atau kamar mandi berdoalah, “Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkan aku.” (Tirmizi, Nasa’l, Ibnu Majah).</p>
<p style="text-align: justify;">Doa ini menunjukkan, segala pembersihan yang terjadi di WC, buang air kecil, buang air besar, dan mandi, dapat menghilangkan penyakit-penyakit.  Karena itu, seluruh adab dan tata cara sebelum masuk, di dalam, dan ke luar WC perlu dipelajari secara baik. Perlu diajarkan sejak masa kanak-kanak untuk mencegah mereka bermain dan berlama-lama di WC.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa penyakit gangguan syetan dan penyakit jiwa, insya Allah, dapat diobati dengan mengikuti sunnah-sunnah tersebut. Bacalah doa-doa yang ada agar hidup menjadi lebih aman dan sehat. Jangan lupa, ketika masuk, melangkah dengan kaki kiri lebih dahulu dan ketika ke luar, melangkah dengan kaki kanan disusul doa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1156</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>40.PENGUSIR SILUMAN</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1140</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1140#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 15:37:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Siluman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1140</guid>
		<description><![CDATA[Dadaku berdegup kencang ketika meletakkan telepon. Bagaimanapun, aku masih ingat cerita Tono. Ia dulu pernah mengalami hal yang mirip denganku karena faktor keturunan. Tapi, waktu itu ia masih kecil. Kakeknya telah ikut membantu dirinya untuk mengeluarkan kekuatan jahat yang ada di dalam tubuhnya. Yang paling aku ingat, menurut Tono, jika aku mau melakukan hal itu, aku harus siap-siap menahan rasa sakit karena tubuh waktu itu akan seperti terbelah dua.  Hal ini tentu saja membuat aku ketakutan. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana rasa sakit saat tubuh terbelah dua. Namun, tentu lebih menakutkan bila harus hidup dengan berbagai kekuatan di dalam tubuhku. *** Dua hari kemudian, aku menghubungi Tono. Ia mengatakan, Pak Tursimin, sahabatnya, bersedia untuk menolong dan menerimaku. Nanti malam, kata Tono, ia akan mengantarku ke Pak Tursimin. Dari rumahnya, ia akan naik motor  dan menemui aku di depan sebuah rumah sakit di Cijantung, Jakarta Timur. Tentu saja aku merasa gembira dengan berita itu. Aku berharap dapat segera mengakhiri penderitaanku. Karena itu, tanpa keberatan sama sekali aku segera menyetujui usul Tono. Sehabis Isa, malam itu, aku menunggu Tono di tempat yang dijanjikan. Tidak seberapa lama kemudian, Tono tiba dengan motornya. Ia masih seperti dulu. Walau sudah sekitar enam bulanan tidak bertemu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/07/40f.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1152" title="40f" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/07/40f.jpg" alt="" width="201" height="199" /></a>Dadaku berdegup kencang ketika meletakkan telepon. Bagaimanapun, aku masih ingat cerita Tono. Ia dulu pernah mengalami hal yang mirip denganku karena faktor keturunan. Tapi, waktu itu ia masih kecil. Kakeknya telah ikut membantu dirinya untuk mengeluarkan kekuatan jahat yang ada di dalam tubuhnya. Yang paling aku ingat, menurut Tono, jika aku mau melakukan hal itu, aku harus siap-siap menahan rasa sakit karena tubuh waktu itu akan seperti terbelah dua.  Hal ini tentu saja membuat aku ketakutan. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana rasa sakit saat tubuh terbelah dua. Namun, tentu lebih menakutkan bila harus hidup dengan berbagai kekuatan di dalam tubuhku.</p>
<p><span id="more-1140"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>***</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dua hari kemudian, aku menghubungi Tono. Ia mengatakan, Pak Tursimin, sahabatnya, bersedia untuk menolong dan menerimaku. Nanti malam, kata Tono, ia akan mengantarku ke Pak Tursimin. Dari rumahnya, ia akan naik motor  dan menemui aku di depan sebuah rumah sakit di Cijantung, Jakarta Timur. Tentu saja aku merasa gembira dengan berita itu. Aku berharap dapat segera mengakhiri penderitaanku. Karena itu, tanpa keberatan sama sekali aku segera menyetujui usul Tono.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehabis Isa, malam itu, aku menunggu Tono di tempat yang dijanjikan. Tidak seberapa lama kemudian, Tono tiba dengan motornya. Ia masih seperti dulu. Walau sudah sekitar enam bulanan tidak bertemu, ia tidak banyak berubah. Ia masih sederhana dan sopan sebagai mana kebanyakan orang Jawa. Wajahnya pun masih bersih dengan kumis tipisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Udah lama?” tanyanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nggak, Mas. Kurang dari setengah jamlah,” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menepikan motornya dan memandangku, “Wah, kemarin itu, ketika  Bapak menelepon saya, kepala saya sakit sekali.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa?” tanyaku heran.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara hati-hati, Tono menjelaskan. Sejak berhubungan dengan diriku, ia ternyata telah mendapat serangan-serangan yang mendadak selama dua hari terakhir ini. Bahkan, sebelum aku menghubunginya, kepalanya sudah terserang rasa sakit yang luar biasa. Tampaknya, menurut Tono, ada kekuatan-kekuatan yang berusaha keras mencegah dirinya untuk menemuiku, apa lagi untuk memberi pertolongan. Namun, yang lebih mengejutkanku ialah ketika Tono menceritakan, sejak tadi, mulai dari Pasar Minggu, ia melihat ada sosok mahkluk berwajah hitam yang selalu mengikuti dirinya. Sosok itu, menurut Tono, sempat ia lihat berdiri di beberapa jembatan yang ia lalui. Menurut pengamatan batinnya, mahkluk berwajah hitam itu berasal dari diriku dan tampaknya ia ingin sekali kembali merasuki jasadku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghela nafas. Jantungku berdebar menahan rasa takut. Sekilas, bayangan mahkluk itu secara visual muncul dalam benakku. Aku sendiri kadang merasa heran, aku memang tidak mampu melihat secara gaib sebagai mana yang dilakukan Tono maupun Wawan, namun sering kali aku mampu menangkap kilasan-kilasan obyek secara visual. Wajah mahkluk itu memang hitam. Namun, goresan-goresan warna putih juga  tampak di wajahnya. Aku tidak dapat melihatnya secara jelas karena visualisasi wajah itu sangat cepat sekali muncul dan pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, kita langsung ke Pak Tursimin saja,” suara Tono menyadarkanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tono menghidupkan motor. Aku naik ke boncengan. Motor meluncur ke arah Mall Cijantung. Namun, cerita Tono tadi tetap saja mengganggu perasaanku. Bagaimanapun, kalau mahkluk itu telah berada di luar jasadku, jelas ada sesuatu yang membuat dia di luar. Lalu, kalau ia ingin kembali merasuk ke dalam diriku, jelas ada sesuatu yang juga dapat membuat dia merasuki diriku. Aku tidak tahu hal apa yang dapat membuat dia masuk dan ke luar dari diriku. Aku masih meraba-raba dan masih harus merenunginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melewati Komplek Kopasus dan beberapa tikungan, sekitar 20 menit, akhirnya Toni menghentikan motor di sebuah rumah kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah sampai,” katanya sambil turun dan memarkir motor di depan rumah tanpa pagar itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, Tono melangkah lebih dahulu ke pintu rumah yang terbuka dan memberi salam.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengikuti dirinya dan juga mengucap salam.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar orang menjawab salam kami. Sesosok tubuh tinggi ke luar dari pintu tengah. Ia mempersilakan kami masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan Tono masuk ke ruang tamunya yang hanya sekitar dua kali tiga meter. Tono memperkenalkan aku dengan Pak Tursimin. Lalu, kami pun duduk</p>
<p style="text-align: justify;">Aku amati wajah Pak Tursimin. Wajahnya masih muda. Usianya sekitar 40 tahun. Pak Tursimin duduk di hadapan kami. Ia menyalakan rokok.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berbasa-basi sesaat, Tono kemudian menceritakan masalah yang aku alami. Pak Tursimin mendengarkan dengan telaten sambil sesekali mengangguk-angguk. Lalu, kalau ada yang tidak jelas, ia langsung bertanya padaku. Aku juga ikut menjelaskan beberapa hal penting, antara lain, aku ceritakan padanya bahwa peristiwa yang aku alami ini baru saja beberapa bulan terakhir. Aku ceritakan juga masalah gerakan-gerakan tubuhku yang tak terkendali dan masalah gangguan-gangguan dalam pandanganku. Sudah tentu, aku tidak menceritakan masalah-masalah yang terjadi antara aku dengan Yanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Tursimin kemudian aku lihat meletakkan rokoknya di asbak. Ia menyatukan kedua telapak tangan dalam posisi orang yang sedang menyembah. Ia memejamkan mata. Aku jadi teringat Wawan. Apa yang dilakukan Pak Tursimin betul-betul mirip Wawan. Hanya, dari mulut Pak Tursimin, lamat-lamat aku dengar keluar semacam doa. Lafaznya tidak jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat kemudian, ia mengangguk-angguk, “Gangguan siluman,” desisnya pelahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia kemudian mengambil sepotong bambu tipis yang panjangnya  kira-kira satu setengah meter. Bambu itu sejak tadi memang sudah tersedia, tersandar di tembok, di samping tempat duduk Pak Tursimin. Setelah mohon maaf dan minta izin padaku, sambil berdiri, ujung bambu itu ia tekankan kebagian belakang kepalaku. Sesuatu yang agak berat, berasal dari dalam tubuhku, terasa tertarik, mengikuti gerak ujung bambu itu. Aku coba mengikuti gerak dari dalam tubuh itu sampai bambu itu turun ke pinggang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melenguh kesakitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak lama. Hanya beberapa menit kemudian Pak Tursimin sudah mengangkat bambunya dan duduk kembali, “Sudah keluar!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang keluar?” tanyaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Silumannya,” sahut Tono.</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Tursimin mengangguk-angguk. Ia menjelaskan ada beberapa siluman jahat yang ternyata mengganggu diriku. Beberapa siluman, katanya, memang suka mengganggu manusia sehingga menimbulkan berbagai macam gangguan, termasuk penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan dokter. Pak Tursimin kemudian menyebutkan berbagai macam siluman, antara lain, siluman ular, siluman buaya, dan siluman monyet. Siluman-siluman ini paling sering mengganggu manusia. Ia mengganggu manusia karena siluman itu memang ada yang berwatak jahat, ada juga karena ia terganggu oleh kehadiran manusia. Misalnya, karena terganggu tempat tinggalnya, terganggu anak-anaknya. Karena menurut Pak Tursimin, pada prinsipnya, para siluman itu juga memiliki kehidupan yang mirip manusia. Mereka juga memiliki keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama kami berbincang-bincang. Apalagi ketika Tono berdiskusi tentang proses kelahiran nabi Adam dengan Pak Tursimin. Aku yang mendengarnya betul-betul takjub dengan kemampuan batin mereka. Mereka betul-betul mampu melihat hal-hal gaib tersebut secara visual. Biasanya, cukup dengan memejamkan mata dan membaca beberapa doa, mereka sudah mampu melakukan itu. Jelas, dalam batin, kadang terbesit juga untuk mempelajari ilmu-ilmu semacam itu. Namun, aku harus menghadapi kenyataan, ilmu yang ada pada diriku saja masih tidak dapat aku pahami. Malah, dapat dikatakan, diriku masih dalam keadaan disusupi siluman.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, aku coba kembali menanyakan kondisiku kepada Pak Tursimin. Ia mengatakan bahwa beberapa siluman telah ia usir pergi, namun beberapa masih kuat bersemayam dalam diriku. Karena itu, katanya, besok aku harus kembali. Besok ia akan memandikanku. Mandi kembang. Mandi kembang ini, kata Pak Tursimin, dapat menolong aku untuk membersihkan diri dari gangguan siluman.  Untuk itu, aku harus menyiapkan kain putih dan membeli sejumlah kembang yang diperlukan. Tapi, kalau aku keberatan, katanya, ia dapat menyiapkan kain putih dan kembang-kembang yang diperlukan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebaiknya, biar mudah, Bapak saja yang menyiapkan semua,” kataku, “nanti biayanya biar saya yang bayar.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau begitu, baik. Baik!” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berbincang-bincang beberapa saat lagi, tak lama kemudian, aku dan Tono mohon pamit pada Pak Tursimin. Kali ini, aku ikut Tono sampai ke Pasar Minggu. Menurut Tono, ia tidak ingin aku diganggu oleh mahkluk hitam yang mengikutinya sejak berangkat tadi. Sementara itu, Tono mungkin juga tidak menyadari bahwa sesungguhnya, aku memang tidak berdaya apa-apa. Aku sendiri dalam kondisi ketakutan bahwa mahkluk itu kemungkinan dapat merasuki diriku kembali. Karena itu, bisa bersama-sama dia sampai di Pasar Minggu, jelas sudah sangat membantu diriku. (<em><strong>Bersambung</strong></em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1140</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>39. ZHIHAR</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1112</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1112#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 23:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Leluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Lintasan Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Zhihar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1112</guid>
		<description><![CDATA[Malam semakin luruh. Wajahnya yang gelap menebar di sepanjang jalan. Mobil Junaedi meluncur dengan kecepatan sedang mendekati Terminal Bis Kampung Melayu. Di kiri jalan, beragam penjual makanan dengan berbagai jenis dagangan sibuk melayani pembeli. Cahaya lampu mereka menerangi jalanan. “Wah, Bapak ngajarnya betul-betul sabar, ya,” suara Junaedi memecah keheningan. “Sabar gimana?” Junaedi menjelaskan, caraku mengajar pelahan-lahan selama hampir dua jam tadi, betul-betul memerlukan stamina yang prima. Karena, sebagian besar mahasiswa adalah orang-orang yang baru selesai bekerja, orang-orang yang telah kelelahan, baru pulang kantor. Apalagi, dengan belajar di malam hari, situasi dan kondisi mereka memang berat. Semua orang dalam kelelahan secara fisik. “Yah, namanya juga tugas,” kataku. Junaedi tersenyum. Aku melepas pandangan ke depan. Entah mengapa, wajah Dwirawati kembali terbayang, tapi masih tidak begitu jelas. Walau aku coba mempertegas, yang muncul masih tetap: Ada sepotong wajah dari masa silam. Gerimis di malam hari. Dua tangan yang saling bergenggaman. Dan, selanjutnya, tetap gelap. “Kamu tinggal di mana?” tanyaku pada Junaedi. “Saya di Lenteng, Pak!” “Dekat rumah saya, dong.” “Ya, karena itu saya tadi mengajak Bapak. Bapak ‘kan pernah cerita waktu pertama kali masuk, kalau Bapak tinggal di Lenteng. Pulang dan pergi mengajar naik kereta.” “Ya. Ya, betul.” Mobil terus meluncur. “Kalau mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/07/zhihar-cbs.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1127" title="zhihar cbs" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/07/zhihar-cbs.jpg" alt="" width="143" height="140" /></a> Malam semakin luruh. Wajahnya yang gelap menebar di sepanjang jalan. Mobil Junaedi meluncur dengan kecepatan sedang mendekati Terminal Bis Kampung Melayu. Di kiri jalan, beragam penjual makanan dengan berbagai jenis dagangan sibuk melayani pembeli. Cahaya lampu mereka menerangi jalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah, Bapak ngajarnya betul-betul sabar, ya,” suara Junaedi memecah keheningan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sabar gimana?”</p>
<p><span id="more-1112"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Junaedi menjelaskan, caraku mengajar pelahan-lahan selama hampir dua jam tadi, betul-betul memerlukan stamina yang prima. Karena, sebagian besar mahasiswa adalah orang-orang yang baru selesai bekerja, orang-orang yang telah kelelahan, baru pulang kantor. Apalagi, dengan belajar di malam hari, situasi dan kondisi mereka memang berat. Semua orang dalam kelelahan secara fisik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yah, namanya juga tugas,” kataku.</p>
<p style="text-align: justify;">Junaedi tersenyum. Aku melepas pandangan ke depan. Entah mengapa, wajah Dwirawati kembali terbayang, tapi masih tidak begitu jelas. Walau aku coba mempertegas, yang muncul masih tetap: Ada sepotong wajah dari masa silam. Gerimis di malam hari. Dua tangan yang saling bergenggaman. Dan, selanjutnya, tetap gelap.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu tinggal di mana?” tanyaku pada Junaedi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya di Lenteng, Pak!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dekat rumah saya, dong.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, karena itu saya tadi mengajak Bapak. Bapak ‘kan pernah cerita waktu pertama kali masuk, kalau Bapak tinggal di Lenteng. Pulang dan pergi mengajar naik kereta.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya. Ya, betul.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mobil terus meluncur.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau mau dengar musik, bisa diputar, Pak,” Junaedi menawarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nggak usah.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Atau mau mendengar tausiah aja,” Junaedi memberi pilihan, “tausiah dari Aa Gym. Bagus, Pak!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapa itu Aa Gym?”</p>
<p style="text-align: justify;">Junaedi menjelaskan, Aa Gym adalah seorang ustad muda yang mulai terkenal. Tausiah-tausiahnya sangat menyentuh hati. Lalu, ia memutarkan kaset yang berisi tausiah Aa Gym.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku coba mendengar. Tapi, hanya sekilas, aku merasa tidak begitu tertarik. Lagi pula, aku memang baru mendengar nama Aa Gym.  Namun, bersamaan dengan itu, terasa sesuatu bergerak di dadaku, bergelung-gelung, kemudian meluncur di leher. Aku merasakan tubuhku bagai dilewati ular raksasa. Sementara, yang paling mengerikan, di dalam dada kananku terasa ada sesuatu yang berputar-putar. Kadang-kadang berputar ke kiri, kadang berputar ke kanan. Semua hanya dapat aku rasakan tanpa dapat aku lihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku beristighfar dalam hati. Gerakan-gerakan di dada kananku semakin kuat. Aku menghela nafas. Kalau saja tidak mengingat kehadiran Junaedi, mungkin sudah kubiarkan tubuhku menggeliat-geliat menahan rasa nyeri dan rasa sakit. Semua itu terpaksa aku tahan sampai Junaedi menurunkanku di pasar Lenteng Agung.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengucapkan rasa terimakasih, terburu-buru aku menyeberang. Langit malam telah semakin kelam. Kira-kira pukul sebelas saat itu ketika  aku melintasi rel kereta api yang membujur dingin. Terasa sepi menyergap diri dan terasa sedih menyergap di hati.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h1 style="text-align: center;"><strong>***</strong></h1>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tanggal 4 April 2002.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini, aku bermimpi. Ini mimpiku yang kedua setelah bermimpi tentang diriku yang berkepala kerbau. Malam ini, aku melihat dengan jelas isteriku sedang duduk di lantai. Rambutnya panjang, wajahnya masih muda, dan cantik sekali.  Bersamaan, saat itu, aku juga mendengar suara yang sangat jelas: jika kau mengambil isterimu sama artinya kau mengambil isteri ayahmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena keras dan jelasnya suara itu, aku sampai tersentak bangun. Sesaat, aku tercenung. Aku tidak perlu mengingat-ingat lagi, suara itu masih terngiang-ngiang di telinga. Aku tatap kamarku sambil pelahan-lahan menyesuaikan pandangan mata dengan kegelapan yang menyelimutinya. Dalam hati, timbul pertanyaan tentang makna mimpi tersebut. Bagaimana mungkin kalau aku mengambil isteriku, itu artinya sama dengan aku mengambil ibuku? Jelas sudah bahwa isteriku tidak sama dan memang bukan ibuku. Lalu, kenapa hal itu masih harus disampaikan lewat mimpi pada diriku?</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, setelah berpikir-pikir, terlintas di benakku tentang zhihar. Isi ucapan dalam mimpi itu rasanya memang sangat dekat dengan masalah zhihar, yaitu tindakan seorang suami yang mengungkapkan bahwa istrinya menyerupai (secara hukum) wanita yang haram dinikahinya, antara lain, ibu, saudara wanita dan seterusnya. Baik dengan menyebutkan kata punggung atau bagian tubuh yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Tindakan menyamakan isteri dengan ibu dalam zhihar adalah bermaksud untuk mengharamkan hubungan suami istri. Zhihar terjadi bila seorang suami ingin mengharamkan istrinya dengan mengucapkan kalimat &#8220;Kamu seperti punggung ibu saya&#8221;. Dahulu, bila orang Arab mau mengharamkan diri dari istri, ia mengatakan hal itu. Sehingga, hukum menggauli istrinya menjadi haram seperti haramnya seseorang menggauli ibunya sendiri. Namun, saat itu, hukumnya hanya sebatas pada menjadikan seorang wanita menjadi tidak halal bagi suami dan juga dia tidak bisa menikah dengan laki-laki lain. Lalu, di dalam Islam, hukum itu dirubah menjadi sumpah yang harus ditebus dengan kafarat.</p>
<p style="text-align: justify;">Masalah zhihar ini sempat aku baca di sebuah buku fikih Islam selama bulan puasa tahun lalu. Karena itu, dengan cepat aku bangun dan  menyalakan lampu.  Lalu, aku mencari buku fikih Islam tersebut dan kembali mencari tentang zhihar. Setelah memastikan artinya sekali lagi, aku pun mulai berpikir-pikir lebih jauh, apakah aku pernah menzhihar isteri? Kalau tidak, mengapa aku bermimpi seperti itu. Kalau aku pernah menzhihar isteriku, apakah aku berdosa? Apakah aku telah melanggar hukum Islam? Lalu, bagaimana mengatasinya?</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai pertanyaan mulai muncul di benakku, susul-menyusul. Lamat-lamat, aku jadi ingat juga, kalau tidak salah, memang ada beberapa kali aku mengatakan kepada isteriku bahwa kalau ia menegurku saat aku melakukan kesalahan-kesalahan, gayanya mirip ibuku. Karena itu, pagi-pagi sekali, ketika isteriku baru bangun, aku ceritakan mimpiku. Lalu, aku tanyakan, apakah aku pernah menyamakan dirinya dengan ibuku?</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, beberapa kali. Kalau Abang lagi marah, pasti ngomongnya begitu. Menyama-nyamakan aku dengan Umi,” jelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masak, sih?” tanyaku memastikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghela nafas. Kepalaku terasa bagai dipelintir. Sesuatu terasa bergerak di dada kananku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa, Bang?”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku ceritakan kepada isteriku tentang kejadian di mobil Junaedi, mahasiswa yang memberiku tumpangan semalam. Aku ceritakan, aku merasa telah terjadi perubahan lagi di bagian dada dan leherku. Terasa, di dada kananku ada sesuatu yang berputar ke  kiri, berputar ke kanan. Tubuh rasanya semakin kosong tanpa organ. Dadaku bagaikan kapas, bahkan detak jantung pun tidak menggetarkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lebih baik Abang cepat mencari bantuanlah. Coba berobat,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia kembali menawarkan agar aku minta bantuan  guru mengaji anak kami. Aku tidak menolak,  tidak juga mengiyakan. Malah, aku coba menjelaskan kepada isteriku bahwa aku mau minta bantuan Tono dahulu, orang yang aku kenal semasa prajabatan. Karena itu, dengan segera, aku menelepon Tono.</p>
<p style="text-align: justify;">Agak lama juga aku menunggu sampai akhirnya telepon di angkat seseorang. Tono. Dengan segera aku menceritakan masalahku kepadanya. Tanpa basa-basi, aku memohon bantuannya. Toh, dulu, sebelum berpisah di akhir masa prajabatan, ia memang telah menawarkan bantuannya kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tono tidak banyak berkata-kata, melainkan ia memintaku untuk bersabar. Ia akan menghubungi dahulu sahabatnya, pak Tursimin, yang menurutnya dapat menolongku. Dulu, katanya meyakinkan, pak Tursimin juga pernah membantunya. Ia minta aku menghubunginya dua hari lagi. Aku menyanggupi. (<em>Bersambung)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1112</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>38. WAJAH DARI MASA SILAM</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1072</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1072#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 19:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Ilusi Warna Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Leluhur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1072</guid>
		<description><![CDATA[Kepergian Wawan tidak begitu membawa pengaruh yang besar terhadap diriku.  Toh, selama dua tiga bulan bekerja ini, ia memang sudah jarang berdiskusi denganku. Aku sudah lebih banyak menangani persoalan-persoalan sendiri. Lagi pula, isteriku masih tetap mau mendengarkanku meski ia kadang tampak jenuh dan mulai menyingkir bila ceritaku sudah mulai melampaui batas-batas pemikirannya. Ia memang dapat melakukan itu secara mudah. Namun, bagi diriku, menyingkir dari hal-hal yang melampaui batas-batas pemikiranku, benar-benar sulit. Aku tetap tidak mampu menghindar karena semua itu adalah kenyataan bagi diriku. Karena itu, ketika Bu Karana masih minta tolong untuk mengobati penyakit matanya, dengan sangat yakin aku mengarahkan telapak tanganku ke mata orangtua tersebut. Terasa ada sesuatu yang halus keluar dari kedua matanya. Hawa yang dingin. Begitu juga ketika Anto, suami adik iparku, minta aku menangani ayahnya yang menderita sakit kaki, aku berusaha mengobati orangtua tersebut dengan mengarahkan telapak tanganku ke arah kakinya yang sakit. Aku merasakan ada suatu kekuatan yang luar biasa dari dalam diriku yang “menyerap” penyakit di kaki ayah Anto. Terasa hawa dingin mengalir dari tubuhnya, tertarik ke arah telapak tanganku. Beberapa saat, hawa dingin itu rasa-rasanya tidak pernah habis. Bahkan, ketika sudah lebih dari satu jam aku berusaha mengatasi hal itu, hawa diingin itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/06/38.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1123" title="38" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/06/38.jpg" alt="" width="140" height="141" /></a>Kepergian Wawan tidak begitu membawa pengaruh yang besar terhadap diriku.  Toh, selama dua tiga bulan bekerja ini, ia memang sudah jarang berdiskusi denganku. Aku sudah lebih banyak menangani persoalan-persoalan sendiri. Lagi pula, isteriku masih tetap mau mendengarkanku meski ia kadang tampak jenuh dan mulai menyingkir bila ceritaku sudah mulai melampaui batas-batas pemikirannya.</p>
<p><span id="more-1072"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ia memang dapat melakukan itu secara mudah. Namun, bagi diriku, menyingkir dari hal-hal yang melampaui batas-batas pemikiranku, benar-benar sulit. Aku tetap tidak mampu menghindar karena semua itu adalah kenyataan bagi diriku. Karena itu, ketika Bu Karana masih minta tolong untuk mengobati penyakit matanya, dengan sangat yakin aku mengarahkan telapak tanganku ke mata orangtua tersebut. Terasa ada sesuatu yang halus keluar dari kedua matanya. Hawa yang dingin. Begitu juga ketika Anto, suami adik iparku, minta aku menangani ayahnya yang menderita sakit kaki, aku berusaha mengobati orangtua tersebut dengan mengarahkan telapak tanganku ke arah kakinya yang sakit. Aku merasakan ada suatu kekuatan yang luar biasa dari dalam diriku yang “menyerap” penyakit di kaki ayah Anto. Terasa hawa dingin mengalir dari tubuhnya, tertarik ke arah telapak tanganku. Beberapa saat, hawa dingin itu rasa-rasanya tidak pernah habis. Bahkan, ketika sudah lebih dari satu jam aku berusaha mengatasi hal itu, hawa diingin itu masih terus terserap olehku. Kemana aku melangkah, terasa alirannya mengikuti diriku. Sampai akhirnya, ketika aku merasakan tubuhku menjadi penuh dengan hawa-hawa dingin yang <em>anyep</em>, aku menghentikan pengobatanku. Tubuhku seakan-akan penuh dengan uap air.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu, aku merasakan kemampuanku semakin meningkat. Namun, di sisi lain, berbagai pertanyaan bergolak di dalam sanubariku. Yang, paling menakutkan, penyakit-penyakit orang yang aku obati terasa terserap olehku, sedangkan aku tidak mampu mengeluarkannya kembali. Terasa tubuh menjadi tidak enak. Aku tidak mampu menceritakan perasaan-perasaan yang tidak enak ini. Yang jelas, rasa-rasanya, tubuh bagaikan tidak berisi. Segala organ tubuhku rasa-rasanya telah lenyap.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku ceritakan semua ini pada isteriku, ia kembali mendengarkan dengan penuh perhatian, namun sampai ke hal-hal yang melampaui batas pemikirannya, sekali lagi, aku lihat ia mulai menyingkir. Aku dapat memaklumi sikapnya. Bila sudah begitu, aku biasa ke kamar kerja, menyalakan komputer. Kadang, mendengarkan lagu, kadang melanjutkan penulisan diktatku, namun selama beberapa minggu ini, aku juga lebih suka mengutak-atik Al Quran digitalku. Aku menjadi lebih sering mendengarkan murotal-murotal dari berbagai imam. Suara-suara mereka masing-masing memiliki kekhususan tersendiri. Namun, siapapun mereka, mendengarkan ayat-ayat suci itu, ternyata sangat mempengaruhi gerakan-gerakan di kepalaku. Aku mendadak kadang-kadang berputar-putar di kamar, kadang-kadang pula, tubuhku bagai ditarik ke kiri dan ke kanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku kemukakan hal ini kepada isteriku, ia  menyarankan pula aku untuk meminta bantuan guru mengaji puteriku. Mungkin saja ia dapat membantu, “Siapa tahu, dia memiliki doa-doa tertentu,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sarannya itu aku dengarkan dengan baik, namun saat itu juga aku ingat dengan Tono yang aku kenal semasa prajabatan dahulu. Karena itu, aku katakan pada isteriku, “Jangan sekarang, nanti sajalah, aku akan coba menghubungi Tono yang dulu satu prajabatan denganku.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukannya jika lebih cepat akan lebih baik?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, biar nanti aku menghubungi Tono dulu.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><strong>***</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p>Malam itu, sebagai mana biasa, aku baru saja selesai mengajar ketika Dewi kembali menyongsongku di meja dosen. Walau para mahasiwa lain telah berhamburan keluar kelas karena telah kemalaman, ia dengan santainya berdiri di depan mejaku.</p>
<p>“Ada apa?” tanyaku sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas.</p>
<p>“Bapak lapar, nggak?”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Hm, Dewi mau ngajak Bapak makan,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dadaku berdegup kencang. Aku berdiri, menatap wajah mahasiwaku itu. Rambutnya yang tergerai menambah gelap kontur wajahnya yang samar karena membelakangi lampu. Entah bagaimana, wajahnya  pelahan-lahan berubah disaput cahaya kuning yang juga entah datang dari mana. Hanya dalam satu kedipan mata, aku telah melihat gadis yang lain di depanku, luar biasa cantik. Namun, beberapa bagian dari wajahnya, kini, lebih aku kenal dari pada minggu lalu dan sangat aku kenal betul. Mulai dari kelopak matanya yang khas sampai ke bibirnya yang memiliki lekukan tersendiri, betul-betul membuat aku seperti bertemu dengan dirinya.</p>
<p>“Dwira…,” desisku.</p>
<p>“Apa, Pak?”</p>
<p>Aku tersentak, “Ah, nggak. Ng, terimakasih. Terimakasih,” ucapku, “saya memang lapar, tapi harus buru-buru ngejar kereta.”</p>
<p>“Wah, Dewi jadi makan sendiri, dong,” katanya.</p>
<p>“Yah, mungkin lain kali aja,” kataku sambil cepat-cepat melangkah keluar kelas, “kalau mau ramai, mending kamu makan di rumah aja,” lanjutku sembarangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia tersenyum, melangkah di sampingku. Walau sudah aku kuatkan diriku, tidak terasa keringat dinginku keluar juga berjalan di sisinya. Bagaimanapun, dalam tangkapan batinku, ada sesuatu yang seakan-akan telah  merasuk pada diri Dewi. Aku kenal betul dengan cara-caranya merayuku. Cara-cara yang telah ia gunakan selama dua puluhan tahun terakhir  ini baik melalui diri Natalia, Meiti, dan bahkan pada diri Yanti. Dan, sayangnya, baru  kali ini aku dapat menangkap caranya yang luar biasa dalam merayuku, yaitu ikut mempengaruhi pandangan mataku dengan menggunakan kontur wajah Dwirawati. Ia menciptakan semacam halusinasi dalam diriku tentang Dwirawati pada wajah Dewi. Iblis!</p>
<p style="text-align: justify;">Dwirawati adalah seorang gadis yang aku kagumi dua puluhan tahun lalu. Sejenak, pikiranku pun melayang ke tahun 1978: Ada sepotong wajah dari masa silam. Gerimis di malam hari. Dua tangan yang saling bergenggaman. Gelap.</p>
<p>“Wah, Bapak jangan melamun!” suara Dewi mengejutkanku.</p>
<p>Aku menghela nafas. Tanpa sadar, kami telah berada di pinggir jalan, di depan   Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba. Aku mendadak salah tingkah.</p>
<p>“Udah, ikut Dewi makan aja ya, Pak?”</p>
<p>“Wah, terimakasih, saya harus buru-buru,” ulangku.</p>
<p>Ia menatapku dengan mata penuh harap.</p>
<p>Saat itulah, sebuah mobil keluar dari gerbang kampus dan berhenti di depan kami. Sebuah wajah muncul dari balik kaca mobil, Junaedi, mahasiswaku juga.</p>
<p>“Pak, mau pulang?”</p>
<p>“Ya, mau pulanglah,” kataku.</p>
<p>“Mau ikut?”</p>
<p>Langsung saja aku mengiyakan. Aku bagaikan terbebas dari beban yang luar biasa berat. Saat itu juga aku mohon pamit pada Dewi. Selanjutnya, dalam sekejap, aku sudah meluncur bersama Junaedi.</p>
<p>(<em>Bersambung</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1072</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>37. TRANSISI</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1055</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1055#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 15:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Leluhur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Setiap sholat, tubuhku kini,  kadang-kadang,  hampir saja terlempar. Setiap aku ruku, kepalaku terasa didorong dengan kuat dari arah depan. Aku tidak tahu apa atau siapa yang mendorong kepalaku itu. Yang jelas, kalau tidak aku tahan, tubuhku akan terlempar, terjengkang ke belakang dan sholatku menjadi batal. Namun, kalau aku tahan, kepalaku rasanya “melesek” ke dalam. Sakitnya luar biasa.  Begitu juga ketika sujud, semakin aku membenamkan diri ke lantai di saat-saat sujud, semakin kuat tekanan balik terhadap tubuhku. Perutku, kadang, bagaikan ditinju dari perut bumi. Dan, yang paling menyedihkan, bumi bagaikan menolak sujud-sujudku, menolak tubuhku. Menahan tekanan yang kuat dan melelahkan itu, tidak heran aku sering merintih di saat-saat sujud. Merintih kesakitan. Kalau tidak kuat-kuat aku mencengkram lantai, niscaya tubuhku dapat terlontar. Tidak heran, setiap usai sholat, sajadahku sudah terlipat-lipat berantakan. Karena itu, hampir setiap saat aku selalu berpikir dan berpikir, merenung dan merenung, mencari sebab-musabab yang membuat diriku seperti itu. Kadang, aku berharap, dalam situasi-situasi yang menakutkan, aku dapat segera mendiskusikannya bersama Wawan. Namun, kesibukan Wawan yang telah bekerja membuat aku mulai terbatas untuk bertemu dengan dirinya. Ia lebih sering pulang malam. Pekerjaannya sebagai layoutman, disainer grafis di sebuah tabloid yang berkantor di daerah Kota, Jakarta Utara, sungguh menyita enerjinya. Apalagi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/05/TRANSISI-1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1066" title="TRANSISI 1" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/05/TRANSISI-1.jpg" alt="" width="142" height="153" /></a>Setiap sholat, tubuhku kini,  kadang-kadang,  hampir saja terlempar. Setiap aku ruku, kepalaku terasa didorong dengan kuat dari arah depan. Aku tidak tahu apa atau siapa yang mendorong kepalaku itu. Yang jelas, kalau tidak aku tahan, tubuhku akan terlempar, terjengkang ke belakang dan sholatku menjadi batal. Namun, kalau aku tahan, kepalaku rasanya “melesek” ke dalam. Sakitnya luar biasa.  Begitu juga ketika sujud, semakin aku membenamkan diri ke lantai di saat-saat sujud, semakin kuat tekanan balik terhadap tubuhku. Perutku, kadang, bagaikan ditinju dari perut bumi. Dan, yang paling menyedihkan, bumi bagaikan menolak sujud-sujudku, menolak tubuhku. Menahan tekanan yang kuat dan melelahkan itu, tidak heran aku sering merintih di saat-saat sujud. Merintih kesakitan. Kalau tidak kuat-kuat aku mencengkram lantai, niscaya tubuhku dapat terlontar. Tidak heran, setiap usai sholat, sajadahku sudah terlipat-lipat berantakan.</p>
<p><span id="more-1055"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, hampir setiap saat aku selalu berpikir dan berpikir, merenung dan merenung, mencari sebab-musabab yang membuat diriku seperti itu. Kadang, aku berharap, dalam situasi-situasi yang menakutkan, aku dapat segera mendiskusikannya bersama Wawan. Namun, kesibukan Wawan yang telah bekerja membuat aku mulai terbatas untuk bertemu dengan dirinya. Ia lebih sering pulang malam. Pekerjaannya sebagai <em>layoutman</em>, disainer grafis di sebuah tabloid yang berkantor di daerah Kota, Jakarta Utara, sungguh menyita enerjinya. Apalagi, setelah pulang kerja, kini, ia lebih sering mampir di rumah Roso. Alydrus, sahabatnya, aku dengar telah bekerja di sana, membantu kios komputer milik putera Roso. Setelah itu, barulah malam-malam sekali Wawan pulang ke rumah. Terpaksa aku harus mencari penyelesaian masalahku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kesulitan-kesulitan seperti itu, dengan sendirinya, aku pun secara tidak langsung melibatkan isteriku untuk mendengarkan hal-hal yang terjadi pada diriku. Aku mulai menceritakan tentang gerak-gerak aneh di kepala yang tak mampu aku lihat. Aku mengeluhkan uap air yang terasa mengalir dalam setiap tarikan nafasku. Aku juga  menceritakan aliran-aliran panas yang menyelimuti sekujur tubuhku. Juga, cerita tentang penafsiran mimpi berkepala kerbau, serta segala kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadang, kutangkap cahaya mata isteriku yang kian meredup karena kelelahan mendengar cerita. Kadang, tertangkap juga cahaya matanya yang seakan-akan tidak percaya mendengarkan cerita. Hal-hal semacam ini tentu saja sesekali membuat aku merasa kesal dalam hati. Aku merasa dianggap mengada-ada. Seakan-akan aku sedang mengalami gangguan jiwa. Namun, siapa pula yang dapat mempercayai cerita-ceritaku? Siapa lagi yang mau menjadi pendengar cerita-ceritaku yang penuh dengan kegaiban? Dan, yang utama, siapa pula yang tahan mendengarkan aku bercerita tentang diri sendiri selama berjam-jam?</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sampai hafal sekali, kalau isteriku merasa bosan atau jenuh, ia biasa beranjak dari kursi, lalu buru-buru ke belakang. Mules, katanya atau beranjak memasak air atau mencuci piring. Setelah itu, ia tidak pernah kembali lagi. Aku pun biasa tinggal sendiri dan segera beranjak ke kamar kerja, menghidupkan komputer.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, walau sesekali kesal, aku juga merasa berterimakasih sekali kepada isteriku. Ia masih mau mendengarkan cerita-cerita dan keluhan-keluhanku. Lagi pula, akhir-akhir ini, aku memang lebih memiliki waktu banyak di rumah. Dulu, ketika masih ada Yanti, aku kadang pulang hingga larut malam. Sekarang, kalau tidak karena mengajar malam, sebelum Mahgrib, aku sudah di rumah. Awal-awal memang terasa agak canggung dan membingungkan. Aku tidak tahu berbuat apa. Apalagi, jam mengajarku di beberapa kampus juga mulai berkurang. Namun, lambat-laun, aku juga menjadi terbiasa dengan waktu yang lebih luang itu. Terasa, waktu beristirahat dan menyiapkan bahan-bahan kuliah menjadi lebih banyak. Terasa, secara fisik aku merasa lebih segar. Tapi, yang utama, beberapa hal yang selama ini lepas dari perhatianku, pelahan-lahan muncul. Aku mulai memperhatikan kamar tidur yang sempit. Tampak cat temboknya yang kusam mulai terkelupas. Guguran kapur dan pasir tembok yang runtuh tersebar di sana-sini. Sementara anak dan isteriku tidur di antara kekumuhan itu. Namun, yang mengejutkanku, sempat isteriku juga mengingatkan bahwa ada banyak janji yang telah aku buat, terutama dengan puteriku, namun janji itu tidak pernah aku penuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Abang pernah janji akan mengajaknya makan steak,” kata isteriku mengingatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa lagi?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Abang juga pernah berjanji mengajaknya jalan-jalan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggaruk-garuk kepala, coba mengingat berbagai janji kepada isteri dan anakku. Karena itu, dengan segera aku memutuskan untuk merenovasi kamar tidur dan mengajak anak isteriku untuk makan steak di Margonda, Depok. Untuk merenovasi rumah, aku paksakan mencari dana pinjaman walaupun bunganya cukup tinggi. Aku pikir, tidak apa-apa jika untuk kepentingan keluarga. Sedangkan untuk mengajak puteriku makan steak, uangku yang masih tersisa beberapa ratus ribu rupiah, aku pikir sudah cukuplah. Dengan demikian, dua persoalan utama, masalah memperhatikan anak isteri dan menepati janji kepada mereka sudah mulai aku selesaikan.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>***</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan kamar pun di mulai. Namun, alih-alih membangun kamar, ide kemudian berkembang untuk melebarkan rumah dengan menambahkan ruang makan dan ruang keluarga. Lalu, dua minggu kemudian, ketika semua pondasi telah hampir selesai, ide berkembang lagi, yaitu meningkatkan rumah menjadi dua tingkat. Tambahan biaya tidak aku pikirkan lagi, pembangunan pun terus dilanjutkan.  Maka,   tidak heran, dalam waktu sekitar sebulan ini, timbunan tanah bertumpuk di belakang kamar kerjaku. Kotor. Karena itu, suasana kerja menjadi agak terganggu. Untunglah, beberapa pekerjaan, terutama skripsi-skripsi mahasiswa yang aku bimbing telah selesai. Jika tidak, ditambah dengan keterbatasan Wawan yang telah bekerja, jelas beban akan semakin berat. Apalagi, ketika malam itu Wawan pulang lebih cepat dan mengatakan, ia mendadak “ditugaskan” kantornya untuk mengisi posisi di kantor cabang Semarang, tentu saja di samping bersyukur, aku merasa kaget.</p>
<p style="text-align: justify;">“Akhirnya, aku harus pulang juga,” kata Wawan, “sekarang, memang sudah waktunya Abang sendiri,” kata Wawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, kalau jalannya memang sudah begitu, mau diapakan?” kataku, “yang penting, kau sudah dapat pekerjaan dan sekarang, pekerjaan itu di Semarang lagi. Kau jadi pulang kampung.”</p>
<p style="text-align: justify;">Wawan tersenyum. Ia menjelaskan, ini merupakan kesempatan aku untuk menata kembali diriku. Aku juga akan lebih leluasa menata kembali rumah tangga. Lagi pula, untuk berhubungan dengan leluhurku, aku memang sudah tidak begitu memerlukan Wawan. Pertama, aku memang sudah tidak menghendaki hal tersebut. Kedua, ketika aku tanyakan kembali kepada Wawan tentang seperti apa para leluhur yang dihubunginya itu dan berharap ia masih dapat menegaskan beberapa pesan-pesan mereka, Wawan sempat mengalami kesulitan untuk mengingat. Ia mengatakan, ia sudah lupa sama sekali tentang hal tersebut. Ingatannya bagai dihijab sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Artinya, Wawan hampir-hampir melupakan semua yang berhubungan dengan “penampakan” para leluhurku. Bahkan ketika ia pernah mencoba untuk menghubungi mereka lagi, Wawan merasakan ada dua kekuatan yang saling berusaha hadir dalam “tangkapan” visualnya sehingga ia gagal menghubungi para leluhurku. Namun, yang jelas, mereka memang telah membuat Wawan melupakan semua peristiwa yang pernah ia sampaikan padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mereka pernah mengatakan,” kata Wawan, coba mengingat-ingat, “setelah ini, mereka meminta aku untuk melupakan semua peristiwa yang terjadi antara Abang dengan mereka. Atau, kalau tidak, mereka yang akan membuat aku melupakan semua itu.” (<em><strong>Bersambung)</strong></em></p>
<p><!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1055</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menahan Pandangan</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1040</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1040#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 12:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[MY QUOTES]]></category>
		<category><![CDATA[An Nur]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Seksual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1040</guid>
		<description><![CDATA[Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.(An-Nur:30) Pernah melihat orang buta dan mengenalnya? Orang buta secara umum memiliki kelebihan dalam penginderaan lain. Bisa jadi pendengaran, juga bisa penciuman, dan bisa juga tangkapan batin. Mata yang buta dapat menguatkan dan melahirkan kemampuan-kemampuan lain. Kemampuan lain timbul untuk mengimbangi kebutaan mata. Orang yang menahan pandangan, tidak jauh berbeda dengan orang buta. Ia membutakan matanya untuk hal-hal tertentu yang dilarang Allah. Matanya memang mampu melihat segala sesuatu, namun ia menahan pandangannya untuk tidak melihat hal-hal tertentu. Hal ini tentu lebih sulit dari pada orang yang buta. Orang buta tidak perlu menahan pandangan karena matanya memang buta. Orang yang memiliki mata normal memerlukan usaha dan perjuangan untuk  menahan pandangan. Ia harus tahu mana yang boleh dipandang dan mana yang dilarang. Ia  perlu mengendalikan diri. Namun, dengan cara ini, insya Allah, potensi penginderaannya yang lain akan berkembang dan kuat. Tangkapan batin semakin akurat. Ia memiliki ketajaman firasat. Ayat dalam surat An Nur itu juga mengisyaratkan, pandangan mata sangat berhubungan dengan memelihara kemaluan. Jelas, dengan menahan pandangan, Allah akan memberikan kesehatan pada mata dan kemaluan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/04/huge-logo-asli.gif"><img class="size-full wp-image-1041 alignright" title="huge-logo asli" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/04/huge-logo-asli.gif" alt="" width="62" height="62" /></a>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi m</em>ereka.<em> </em>S<em>esungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.</em><em>(An-Nur:30)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pernah melihat orang buta dan mengenalnya? Orang buta secara umum memiliki kelebihan dalam penginderaan lain. Bisa jadi pendengaran, juga bisa penciuman, dan bisa juga tangkapan batin. Mata yang buta dapat menguatkan dan melahirkan kemampuan-kemampuan lain. Kemampuan lain timbul untuk mengimbangi kebutaan mata.</p>
<p><span id="more-1040"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang menahan pandangan, tidak jauh berbeda dengan orang buta. Ia membutakan matanya untuk hal-hal tertentu yang dilarang Allah. Matanya memang mampu melihat segala sesuatu, namun ia menahan pandangannya untuk tidak melihat hal-hal tertentu. Hal ini tentu lebih sulit dari pada orang yang buta. Orang buta tidak perlu menahan pandangan karena matanya memang buta. Orang yang memiliki mata normal memerlukan usaha dan perjuangan untuk  menahan pandangan. Ia harus tahu mana yang boleh dipandang dan mana yang dilarang. Ia  perlu mengendalikan diri. Namun, dengan cara ini, insya Allah, potensi penginderaannya yang lain akan berkembang dan kuat. Tangkapan batin semakin akurat. Ia memiliki ketajaman firasat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat dalam surat An Nur itu juga mengisyaratkan, pandangan mata sangat berhubungan dengan memelihara kemaluan. Jelas, dengan menahan pandangan, Allah akan memberikan kesehatan pada mata dan kemaluan. Pandangan mata menjadi lebih bersih, tajam, dan fokus.  Kemaluan menjadi terjaga, terbebas dari gangguan-gangguan seksual. Dan, lebih dari itu, Ia memberikan cahaya-Nya. Dia Pemberi cahaya bagi langit dan bumi. Orang yang menahan pandangan akan diliputi Nur Allah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1040</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>36. PERPISAHAN</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1024</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1024#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 02:01:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Lintasan Pikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Hal-hal semacam itu bukan kejadian-kejadian sederhana yang dapat diungkap dan diselesaikan secara segera, melainkan kejadian-kejadian pelik yang gaib, yang hanya dapat aku inderai sendiri, tidak oleh orang lain. Tidak heran kalau kemudian, beberapa orang lalu bereaksi secara negatif. Aku tidak mungkin mendiskusikan hal ini secara terbuka dengan semua orang. Selain, Wawan, Alidrus, Zainan, dan isteriku, dapat dikatakan, hampir tidak ada orang lain yang dapat diajak berdiskusi. Alidrus sendiri kadang masih bereaksi secara negatif. Juga isteriku, terkadang masih ragu dengan kejadian-kejadian yang aku alami. *** Pagi itu, entah mengapa, sebelum berangkat mengajar ke Bidara Cina, Pancoran, aku terdorong menyempatkan diri mampir ke indekosan Yanti. Namun, ketika tiba di sana, aku mendadak terkejut. Baru saja tiba di depan kamarnya, aku mendengar suara Yanti sedang berbicara dengan seorang pria di kamar. Aku menghentikan langkah dan duduk di teras, di depan kamar. Memang, pintu kamar Yanti tidak tertutup rapat, tapi kejadian itu tentu saja mengundang amarahku. Hampir saja aku meledak ketika Yanti keluar kamar, coba menjelaskan kedatangan pria itu kepadaku. Menurut dia, temannya itu baru ia kenal di Jakarta beberapa minggu ini. Ia datang hendak minta tolong Yanti untuk menukar uangnya. Tentu saja, aku tidak dapat menerima penjelasan Yanti. Aku menyadari, aku sudah tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/04/perpisahan1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1068" title="perpisahan1" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/04/perpisahan1.jpg" alt="" width="142" height="142" /></a>Hal-hal semacam itu bukan kejadian-kejadian sederhana yang dapat diungkap dan diselesaikan secara segera, melainkan kejadian-kejadian pelik yang gaib, yang hanya dapat aku inderai sendiri, tidak oleh orang lain. Tidak heran kalau kemudian, beberapa orang lalu bereaksi secara negatif. Aku tidak mungkin mendiskusikan hal ini secara terbuka dengan semua orang. Selain, Wawan, Alidrus, Zainan, dan isteriku, dapat dikatakan, hampir tidak ada orang lain yang dapat diajak berdiskusi. Alidrus sendiri kadang masih bereaksi secara negatif. Juga isteriku, terkadang masih ragu dengan kejadian-kejadian yang aku alami.<span id="more-1024"></span></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu, entah mengapa, sebelum berangkat mengajar ke Bidara Cina, Pancoran, aku terdorong menyempatkan diri mampir ke indekosan Yanti. Namun, ketika tiba di sana, aku mendadak terkejut. Baru saja tiba di depan kamarnya, aku mendengar suara Yanti sedang berbicara dengan seorang pria di kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghentikan langkah dan duduk di teras, di depan kamar. Memang, pintu kamar Yanti tidak tertutup rapat, tapi kejadian itu tentu saja mengundang amarahku. Hampir saja aku meledak ketika Yanti keluar kamar, coba menjelaskan kedatangan pria itu kepadaku. Menurut dia, temannya itu baru ia kenal di Jakarta beberapa minggu ini. Ia datang hendak minta tolong Yanti untuk menukar uangnya.  Tentu saja, aku tidak dapat menerima penjelasan Yanti.  Aku menyadari, aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan dirinya. Bahkan, ia sendiri telah menjalin hubungan dengan Firli. Ia sudah milik orang lain. Namun, rasa amarah dan ketersinggunganku tetap saja tidak dapat aku tutupi. Aku merasa, Yanti tidak etis membawa seorang pria ke kamar, apalagi ia baru mengenal pria itu. Namun, yang paling penting, kamar yang ia tempati itu masih dalam tanggunganku, termasuk dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, setelah pria asal Bali itu pulang, aku memarahi Yanti. Kami bertengkar di pagi itu. Akhirnya, aku tidak dapat menahan diri lagi. Aku minta Yanti untuk segera meninggalkan Jakarta. Aku tidak mau lagi menanggung segala risiko keberadaannya di kota ini. Ia terhenyak sejenak dengan keputusanku. Namun, bagiku, keputusan itu yang terbaik. Aku mengambil keputusan itu karena aku merasa hampir tidak sanggup menahan dorongan dari dalam diriku. Ada sesuatu yang terasa muncul, yang terasa mendadak siap menerkam Yanti setiap saat. Identitas keduaku memancarkan amarah yang luar biasa. Kalau aku tidak sanggup menahan, mungkin aku sudah kelepasan tangan, melakukan kekerasan fisik terhadap Yanti. Ini yang paling aku takutkan selama beberapa bulan terakhir ini. Karena itu, walau Yanti aku lihat sulit menerima keputusanku, aku tetap menguatkan diri menyuruhnya untuk pulang ke Semarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku sempat aku membatin, kalau saja ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam diriku, tentu ia akan minta pulang dengan segera. Amarahku sudah mencapai puncak. Bisikan-bisikan aneh terus-menerus melintas silih berganti, membujukku untuk memukul Yanti. Sebagai mana yang aku duga, iblis muncul, datang dari segala sudut. Gangguan yang luar biasa. Pikiranku sungguh-sungguh semerawut. Ia datang tidak lagi dalam bentuk bisikan, melainkan menyatu dalam pikiranku. Ia melintas dengan segala argumen dan bujuk rayu. Gagal menyuruhku memukul Yanti, ia muncul dengan argumen lain, membujukku mencegah kepergian Yanti untuk pulang ke Semarang. Beberapa kecemburuan di pampang secara visual dalam benakku. Muncul gambaran-gambaran Yanti bercumbu dengan Firli. Tidak mempan dengan gambaran itu, gambaran-gambaran erotis bersama yanti ditebarkan dalam benakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir-hampir aku tidak dapat menahan diri. Ketika Yanti mengatakan aku sudah tidak menyayanginya, aku hanya dapat menghela nafas. Buat apa aku harus menjelaskan semua yang sedang terjadi pada diriku. Tidak ada seorang normal pun yang mampu memahami dan menerima argumenku. Justeru, aku menyuruh Yanti pulang  karena aku menyayanginya. Aku tidak mau dia terluka, kalau pun secara batin sudah, tapi secara fisik tidak layak. Karena itu, omelan, gerutuan, dan bahkan makian Yanti tidak aku layani. Dia harus pulang. Dan, aku terus bertahan dengan argumen itu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari berlalu. Hubunganku dengan Yanti semakin memburuk. Pertemuan kami terasa menjadi kaku. Akhirnya, Yanti sendiri dengan yakin memutuskan untuk pulang ke Semarang. Aku memang agak terkejut, tidak menyangka secepat itu. Namun, aku juga tidak mau menghalang-halangi kepergiannya. Karena itu, setelah mempersiapkan segala keperluannya, mulai dari menyiapkan koper, mengepak barang-barang, dan membelikan tiket kereta, aku pun menjemputnya hari itu di tempat indekos. Satu per satu barang-barangnya aku keluarkan dari kamar ketika Yanti mulai berpamitan dengan ibu pemilik rumah. Bersamaan dengan itu, semacam gelembung udara yang besar dan lembab terasa lepas dari dadaku. Nafas terasa lebih kering dan resik. Namun, anehnya, tubuh ikut menjadi ringan dan aku merasakan seakan-akan seluruh isinya lenyap. Tubuh terasa kosong tanpa isi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa, Pak?” tanya Yanti mendadak, “kok, pucat?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak apa-apa,” kataku, “mari kita berangkat!”</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan yang sama terus berlangsung di sepanjang perjalanan dari Stasiun Lenteng Agung menuju Gambir. Selama di dalam kereta, tubuh masih terasa kosong. Dada dan perut terasa berongga, tanpa organ. Tentu saja rasa ini sangat mengganggu keseimbangan tubuhku. Untung, kereta api yang penuh penumpang membuat gerak-gerakku tidak begitu mencolok karena tubuhku kadang bergerak berat ke depan dan kadang terasa memberat ke belakang. Seperti separuh balon yang berisi air.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku baru lega ketika tiba di Gambir. Namun, untuk menarik nafas panjang, rupanya belum sempat. Begitu tiba di di sana, beberapa menit kemudian, pengumuman bahwa kereta akan segera berangkat mendadak terdengar. Aku dan Yanti tidak sempat lagi berbicara secara panjang lebar. Setelah mengucap beberapa kata dan menekankan beberapa janjiku, ia menenteng kopernya. Aku mengikuti dari belakang, mengantar Yanti sampai ke dalam kereta.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku taruh tasnya di tempat barang, di atas tempat duduk. Sejenak, aku menatap Yanti. Aku berpesan agar ia berhati-hati selama di perjalanan. Lantas,  aku segera keluar dari kereta. Sesaat kemudian, kereta mulai bergerak pelahan-lahan dan lalu semakin cepat,  semakin cepat. Dari kaca jendela, samar-samar aku melihat wajah Yanti. Aku melambaikan tangan di antara gemuruh kereta. Lalu, ia pun menghilang. Kereta bergerak semakin cepat. Bersamaan dengan itu, di bagian dada, terasa segumpal udara basah yang menggelembung ke luar dari tubuhku. Aku rasakan perubahan batin yang tidak begitu nyaman, namun tubuhku secara fisik mengisyaratkan, semua tindakan yang diambil selama ini sudah benar. Aku yakin, di belakang hari nanti, kehidupan akan semakin lebih baik.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Aku jadi belajar, setiap kepergian Yanti, ternyata membawa perubahan-perubahan secara fisik-batin. Secara fisik, setiap aku melepaskan kepergiannya ke Semarang, terasa gelembung-gelembung uap air yang besar keluar mulai dari dada sampai bagian perut. Ada sesuatu yang lenyap sejalan kepergiannya. Hal ini memberikan kenyamanan secara fisik walau aku sendiri tidak mampu melihat seperti apa wujud benda yang terasa bagaikan gelembung-gelembung uap air itu. Sedangkan secara batin, perpisahan dengan Yanti memang tidak nyaman. Namun, ketidaknyamanan itu harus dipahami sebagai sesuatu perubahan yang baik. Sebagai salah satu usaha melepaskan perbuatan-perbuatan buruk. Karena itu, segala sesuatu yang tidak enak secara batin, belum tentu buruk. Kita, kadang, harus mengalahkan perasaan-perasaan kita. Lagi pula secara fisik, sebagai mana aku rasakan, memang ada kenyamanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyamanan-kenyamanan fisik itu kemudian baru berubah menjadi kenyamanan perasaan dan batin setelah beberapa waktu. Namun, sejalan dengan itu pula, pergerakan-pergerakan kasat mata di tubuhku menjadi semakin kuat. Semakin aku berupaya merubah diri menuju kebaikan yang aku yakini, gangguan tampak semakin meningkat dan berlapis-lapis. Aku bagaikan melepas hijab demi hijab yang tidak pernah habis. Sering terpikir olehku, betapa diri ini begitu sulit untuk mendekati Ar Rahman, Sang Pencinta. Apakah karena kekotoran tubuh dan batinku sehingga setiap aku menghadap kepada-Nya, tubuh bagaikan remuk redam? (<em><strong>Bersambung)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1024</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>35. JERITAN DAN ORANG GILA</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=1015</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=1015#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 07:45:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Lintasan Pikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=1015</guid>
		<description><![CDATA[Setelah pulang kerja sore tadi, karena gerah, ia mandi. Setelah mandi, ketika melewati dapur yang terletak di belakang, menurut Wawan, ia mendengar suara anak-anak kecil. Semakin ia dengar dengan seksama, suara-suara itu semakin nyata, yaitu suara anak-anak kecil yang menjerit-jerit, “Ramai sekali suara mereka,” kata Wawan, “mereka menjerit-jerit minta tolong.” “Memangnya mereka kenapa?” “Tidak begitu jelas,” kata Wawan. Namun, cerita Wawan itu dengan cepat mengingatkanku pada peristiwa beberapa bulan lalu ketika aku, dia, dan isteriku melintasi bangunan Desa Putera. Waktu itu, ketika menjelang subuh, setelah bertemu dengan Kum Kum, si orang gila, mendadak aku juga mendengar suara yang sama di sekitar Desa Putera. Suara banyak anak-anak, tapi bukan menjerit-jerit, melainkan menangis. Waktu itu, hanya aku yang mendengar suara-suara tersebut. Isteriku mengatakan, ia tidak mendengar suara apa-apa, namun ia tidak juga menutup kemungkinan bahwa yang aku dengar itu benar adanya. Karena, katanya, kami memang sedang melewati panti asuhan anak-anak yatim piatu yang dikelola Desa Putera. Beberapa saat aku membahas masalah itu bersama Wawan, “Menurut penglihatanku, Bang,” katanya kemudian, “ini juga suatu petunjuk. Aku melihat, Abang tampaknya memang perlu memperhatikan anak-anak yatim-piatu. Ini merupakan obat bagi penyakit yang Abang alami sekarang.” Aku diam. Bisa saja pendapat Wawan itu benar. Sampai sekarang, memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/03/jeritan-copy.jpg"><img class="size-full wp-image-1021 alignleft" title="Jeritan dan Orang Gila" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/03/jeritan-copy.jpg" alt="" width="137" height="138" /></a>Setelah pulang kerja sore tadi, karena gerah, ia mandi. Setelah mandi, ketika melewati dapur yang terletak di belakang, menurut Wawan, ia mendengar suara anak-anak kecil. Semakin ia dengar dengan seksama, suara-suara itu semakin nyata, yaitu suara anak-anak kecil yang menjerit-jerit, “Ramai sekali suara mereka,” kata Wawan, “mereka menjerit-jerit minta tolong.”</p>
<p><span id="more-1015"></span></p>
<p style="text-align: justify;">“Memangnya mereka kenapa?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak begitu jelas,” kata Wawan. Namun, cerita Wawan itu dengan cepat mengingatkanku pada peristiwa beberapa bulan lalu ketika aku, dia, dan isteriku melintasi bangunan Desa Putera. Waktu itu, ketika menjelang subuh, setelah bertemu dengan Kum Kum, si orang gila, mendadak aku juga mendengar suara yang sama di sekitar Desa Putera. Suara banyak anak-anak, tapi bukan menjerit-jerit, melainkan menangis. Waktu itu, hanya aku yang mendengar suara-suara tersebut. Isteriku mengatakan, ia tidak mendengar suara apa-apa, namun ia tidak juga menutup kemungkinan bahwa yang aku dengar itu benar adanya. Karena, katanya, kami memang sedang melewati panti asuhan anak-anak yatim piatu yang dikelola Desa Putera.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat aku membahas masalah itu bersama Wawan, “Menurut penglihatanku, Bang,” katanya kemudian, “ini juga suatu petunjuk. Aku melihat, Abang tampaknya memang perlu memperhatikan anak-anak yatim-piatu. Ini merupakan obat bagi penyakit yang Abang alami sekarang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku diam. Bisa saja pendapat Wawan itu benar. Sampai sekarang, memang aku belum pernah sekalipun berurusan dengan anak yatim. Masalahnya, kalau waktu itu aku mendengar suara anak-anak menangis karena melintasi daerah Desa Putera, sekarang yang terdengar oleh Wawan adalah suara anak-anak menjerit di belakang rumahku. Karena itu, yang terlintas di benakku adalah, kira-kira dahulu ini daerah apa? Siapa yang pernah menetap di daerah pinggiran Srengseng Sawah yang berbatasan dengan Universitas Indonesia ini? Apa yang telah terjadi sehingga anak-anak itu menjerit minta tolong?</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa, Bang?</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku lagi mikir, dahulu, ini daerah apa? Siapa yang pernah tinggal di sini?</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa nggak nanya sama Mbak aja, Bang?” usul Wawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, bagaimanapun, isteriku tentu lebih mengetahui tentang sejarah dan seluk-beluk daerah ini, khususnya rumah ini. Karena rumah ini adalah rumahnya. Rumah mertuaku. Sejak kecil sampai dewasa, ia dibesarkan di daerah ini.  Jadi, ia tentu akan lebih dapat bercerita banyak. Karena itu, dengan agak tergesa-gesa aku memanggil dirinya. Ketika ia sudah duduk bersama kami, aku ceritakan sekilas penangkapan Wawan tadi sore di dapur belakang. Lalu, aku minta isteriku menceritakan tentang rumah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejenak, ia menatapku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ng. Apa Abang nggak takut?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Memang kenapa?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia memandang ke arah Iwan, lalu menatapku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, ceritakan saja,” kataku dengan nada tak sabar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Begini,” kata isteriku berusaha menjelaskan, “Aku ragu bercerita bukan karena apa-apa. Tapi,  karena Abang selama ini aku lihat selalu takut sama orang gila.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersentak. Mendadak jantungku berdegup, “Apa masalah ini berkaitan dengan orang gila?”</p>
<p style="text-align: justify;">Isteriku mengangguk.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dan Wawan saling berpandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hening sejenak.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, dengan perasaan antara takut bercampur penasaran, aku minta isteriku untuk segera menceritakan soal rumahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelahan-lahan isteriku memulai cerita. Menurut isteriku, rumah yang kami tinggali sekarang terletak di atas bekas halaman dari sebuah rumah sakit jiwa. Dulu, sebelum di bangun, tanah rumah ini hanya sebuah kebun yang luas, sedangkan rumah sakit jiwa itu sendiri terletak sekitar 200 meter dari rumah sekarang, sejajar mesjid Al Barokah yang mulai sering aku kunjungi. Menurut isteriku, seingat dia, rumah sakit jiwa tersebut terdiri dari empat barak penampungan dan para karyawannya juga dulu tinggal di sekitar barak. Dalam perkembangannya kemudian,  rumah sakit jiwa itu lalu dipindahkan ke wilayah Grogol, Jakarta Barat dan sampai sekarang, masih menjadi tempat penampungan orang yang menderita gangguan jiwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Isteriku menghela nafas, menyelesaikan ceritanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu, apa suara-suara jeritan itu berhubungan dengan orang-orang gila pada waktu itu?” tanyaku memandang ke arah Wawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Wawan memejamkan matanya. Pelahan-lahan ia menggeleng.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memandang ke arah isteriku. Ia juga kemudian menegaskan, sejauh yang ia tahu, dalam 35 tahun terakhir ini, tidak pernah terjadi sesuatu pun di belakang rumah. Apalagi soal anak-anak, ia memang tidak pernah melihat mereka bermain atau melakukan apa pun di wilayah tersebut yang dulu adalah sebuah kebun kosong. Malah, orang-orang gila yang dirawat di barak sekali pun, jarang sekali sampai bermain di halaman sejauh 200-an meter dari tempat penampungan mereka. Kadang, baru beberapa meter saja keluar, mereka telah “ditangkap” para petugas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku meneguk kopi dengan perasaan lega. Artinya, tidak pernah terjadi peristiwa yang menyeramkan di dapur belakang rumah. Lalu, kalau begitu, jeritan anak-anak yang minta tolong itu suara siapa dan apa maknanya?</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai larut malam, walau kami masih terus mengobrol, jawaban yang memuaskan tetap tidak kami temukan. Bagiku sendiri, walau Wawan masih terus mengingatkan masalah tersebut berkaitan dengan anak-anak  yatim piatu, kenyataannya, secara jelas isteriku malah bercerita tentang perkara orang gila. Karena itu, diam-diam aku coba menenangkan diri. Masalah ini bukan terjadi secara kebetulan. Secara beruntun, selama beberapa bulan, persoalan orang gila memang terus-menerus mengikutiku kalau tidak mau disebut menghantui. Paling tidak, selama belasan tahun aku mempelajari psikologi, aku memang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam gejala gangguan jiwa. Secara khusus, terus-terang, aku tidak pernah menangani orang gila. Pertama, masalah tersebut bukan secara spesifik menyangkut bidang ilmuku, psikologi sosial, tapi psikologi klinis. Kedua, aku bukan seorang sarjana psikologi. Karena itu, ketika harus berhubungan dengan masalah ini, aku betul-betul awam, apalagi masalah ini muncul dalam bentuk kejadian-kejadian. Allah seakan mengirimkan pesan-pesan tertentu melalui kejadian-kejadian yang justeru menimbulkan rasa takut di batinku. Aku merasakan dosaku benar-benar tidak termaafkan. Kalau saja tidak ingat nasihat Wan Ahmad ketika bertemu dia semasa prajabatan, aku mungkin sudah berputus asa atas ampunan Allah. Masih terbayang Wan Ahmad yang tersenyum ketika menjelaskan Allah itu Maha Pengampun.  Allah tidak marah kepadaku. Allah akan memaafkan dosa-dosaku. Ia menjagaku. Aku tidak perlu kuatir. Islam adalah Agama cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, ada apakah di balik semua peristiwa-peristiwa ini? Kadang, lama aku merenung, ternyata untuk merubah diri dari satu titik ke titik lain yang lebih baik, bukan satu hal mudah. Memutuskan hubungan dengan Yanti juga tidak menyelesaikan masalah. Aku sholat pun masih tidak menyelesaikan masalah. Begitu banyakkah masalah yang ada pada diriku sehingga masalah yang muncul saling susul-menyusul? Kalau memperhatikan proses-proses yang terjadi selama beberapa minggu terakhir ini, mungkin benar dosa-dosaku sangat banyak. Nyatanya, tubuhku tidak henti-hentinya mengeluarkan aliran-aliran panas bagaikan uap air yang menyesakkan walaupun aku  terus menerus “mengurasnya” dengan sholat-sholatku. Rasa-rasanya, aliran-aliran panas itu tidak ada habis-habisnya. Apalagi, benda-benda asing di kepalaku pun terasa semakin banyak bergelindingan. Sungguh-sungguh menakutkan. Kadang, aku hampir terkecoh juga dengan kejadian-kejadian itu. Justeru kalau aku sholat, rasa-rasanya “mereka” semakin kuat dan semakin banyak. Karena itu, kadang terlintas juga diriku untuk menghentikan sholat. Tapi, aku tahu juga, bisikan-bisikan aneh dan lintasan pikiran yang menyesatkan ini memang berasal dari mereka yang selalu berusaha menguasai pikiranku. Kalau saja setelah sholat aku merasa tidak nyaman, mungkin aku dapat mereka tipu. Justeru setelah sholat, biasanya, aku merasa nyaman dan merasakan kesegaran. Walau hanya sejenak sebelum aliran dan uap panas itu bergerak-gerak luruh kembali. <strong>(Bersambung)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=1015</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>34. JERITAN-JERITAN</title>
		<link>http://www.neurosains.com/?p=999</link>
		<comments>http://www.neurosains.com/?p=999#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 13:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammad Fauzy</dc:creator>
				<category><![CDATA[FICTION]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Hawa Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Kundalini]]></category>
		<category><![CDATA[Lintasan Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Masruri]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi Berkepala Kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Gila]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat Berjamaah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.neurosains.com/?p=999</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, 15 Maret 2002 Hari ini, ibuku berangkat haji. Aku sangat menaruh harapan pada dirinya agar mendoakan aku sembuh dari segala jenis penyakit yang bersemayam di dalam diri. Dan, tentu saja, aku berharap, ketika pulang nanti, ia membawa air Zam Zam. Bagaimanapun, Air Zam Zam mengandung banyak khasiat. Aku yakin, penyakitku dapat disembuhkan air ajaib itu. Ibuku mengangguk, mengiyakan, “Tapi, kau jangan lupa,” katanya, “kau juga harus berhati-hati menjaga diri.” “Ya,“ jawabku. Ibuku pun lalu berangkat bersama rombongannya. Ketika pulang ke rumah, ucapannya masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku memang harus terus berhati-hati menjaga diri. Setiap saat, setiap detik, segala kemungkinan dapat saja terjadi pada diriku. Setiap saat, kesadaranku dapat hilang, berganti dengan kesadaran lain. Kekuatan-kekuatan asing di dalam diriku tampaknya tidak pernah berhenti hendak mengecohkan pikiran, perasaan, dan segala keyakinanku. Bagaimanapun, mengenang kejadian di Kampung Melayu beberapa waktu yang lalu, selalu membuat diriku was-was dan ketakutan. Was-was dan ketakutan tidak mampu menguasai diri. Tidak pernah terbayangkan olehku, kalau saja aku sampai sholat di trotoar sore itu, jelas tidak ada bedanya aku dengan sejumlah orang gila yang kadang aku lihat sholat di jalanan. Namun, setiap kejadian yang tidak menyenangkan tentu mengandung hikmah. Sejak kejadian di Kampung Melayu, aku mulai merasakan, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/02/jeritan2-copy.jpg"><img class="size-full wp-image-1012 alignleft" title="jeritan" src="http://www.neurosains.com/wp-content/uploads/2010/02/jeritan2-copy.jpg" alt="" width="137" height="138" /></a>Jakarta, 15 Maret 2002</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, ibuku berangkat haji. Aku sangat menaruh harapan pada dirinya agar mendoakan aku sembuh dari segala jenis penyakit yang bersemayam di dalam diri. Dan, tentu saja, aku  berharap, ketika pulang nanti, ia membawa air Zam Zam. Bagaimanapun, Air Zam Zam mengandung banyak khasiat. Aku yakin, penyakitku dapat disembuhkan air ajaib itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-999"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibuku mengangguk, mengiyakan, “Tapi, kau jangan lupa,” katanya, “kau juga harus berhati-hati menjaga diri.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya,“ jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibuku pun lalu berangkat bersama rombongannya. Ketika pulang ke rumah, ucapannya masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku memang harus terus berhati-hati menjaga diri.  Setiap saat, setiap detik, segala kemungkinan dapat saja terjadi pada diriku. Setiap saat, kesadaranku dapat hilang, berganti dengan kesadaran lain. Kekuatan-kekuatan asing di dalam diriku tampaknya tidak pernah berhenti hendak mengecohkan pikiran, perasaan, dan segala keyakinanku. Bagaimanapun, mengenang kejadian di Kampung Melayu beberapa waktu yang lalu, selalu membuat diriku was-was dan ketakutan. Was-was dan ketakutan tidak mampu menguasai diri. Tidak pernah terbayangkan olehku, kalau saja aku sampai sholat di trotoar sore itu, jelas tidak ada bedanya aku dengan sejumlah orang gila yang kadang aku lihat sholat di jalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, setiap kejadian yang tidak menyenangkan tentu mengandung hikmah. Sejak kejadian di Kampung Melayu, aku mulai merasakan, dengan cara sholat di Mesjid, ternyata pernafasanku terasa lebih nyaman. Uap-uap air yang memenuhi pernafasanku menjadi berkurang. Namun, setelah sholat, biasanya, pernafasanku menyempit kembali. Dengan tubuh yang masih terus dipenuhi oleh aliran-aliran hangat, aku bagai orang yang kekurangan oksigen. Karena itu, sebagai bantuan, aku terus berzikir dan juga mulai mencari keterangan-keterangan tentang sholat berjamaah. Namun, yang paling penting bagiku ialah terus berupaya mencari penjelasan tentang mimpiku beberapa waktu lalu. Mimpi tentang aku berkepala kerbau dengan beberapa lubang yang harus aku tutupi itu, sungguh amat mempengaruhi pikiranku. Aku yakin, itu merupakan suatu petunjuk. Hanya, lubang apa saja yang harus kututupi, aku belum tahu. Untunglah, ada sebuah buku yang aku peroleh melalui isteriku dapat memberikan gambaran, walau tidak terlalu tepat, namun paling tidak, ia dapat menuntun aku  mendekati arti mimpi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Isteriku membelikanku sebuah buku yang menjelaskan titik-titik hawa nafsu yang terdapat pada diri manusia. Kalau lubang-lubang yang harus aku tutupi itu adalah titik-titik lubang hawa nafsu,  dalam buku yang dikarang Masruri itu, dijelaskan ada tujuh titik hawa nafsu: Amarah Bis-Su, Kamilah, Mutmainnah, Lawwamah, Mardiyah, Rodhiyah, dan Mulhamah. Masing-masing hawa nafsu itu memiliki tempat tertentu di tubuh manusia. Karena jumlahnya ada tujuh, titik-titik itu pun terdapat pada tujuh lokasi di tubuh manusia. Jadi, bukan delapan sebagai mana yang muncul dalam mimpiku. Karena itu, satu lubang lagi titik hawa nafsu apa? Pertanyaan ini tidak terjawab. Akhirnya, buku Masruri itu pun kuanggap sangat terbatas untuk membantuku memahami mimpi yang terdahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Wawan pulang kerja malam itu, aku pikir, aku dapat mendiskusikan hal itu dengan dirinya. Namun, melihat situasi dirinya yang tampak lelah, aku mengurungkan niat. Wawan sudah beberapa hari ini bekerja. Aku gembira juga melihat dia mampu berdiri sendiri walau masih sebatas baru mencoba. Karena itu, walaupun tidak dapat membicarakan hal diriku dengan dirinya, aku tidak begitu kecewa. Selama beberapa hari ini, sesungguhnya, ia telah berubah menjadi manusia baru. Wawan telah menjadi seorang pekerja, segala aktivitasnya mulai terikat waktu, termasuk waktunya untuk berbincang-bincang bersamaku menjadi kian berkurang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejalan dengan itu, aku semakin menyadari, telah terjadi perubahan-perubahan yang aku sendiri tidak mampu menduganya. Ada kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan-perubahan itu. Termasuk perubahan pada diri Yanti. Aku tidak tahu, apakah setelah peristiwa di Kampung Melayu itu, ia berpikir positif atau negatif tentang diriku. Aku sendiri tidak begitu menghiraukan penilaiannya. Positif atau negatif, tetap saja aku yang menanggung akibat-akibat perbuatanku. Yang jelas, tidak lama setelah itu, ia mengatakan kepadaku, mantan pacarnya sewaktu SMA hendak melamar dirinya. Aku tidak merasa keberatan dan sama sekali sudah tidak memiliki alasan untuk berkeberatan, malah ada rasa syukur, Allah telah mencarikan jalan keluar yang tepat bagi permasalahan dirinya. Paling tidak, ia telah menemukan tempat yang sesuai dengan situasi dirinya sebagai seorang gadis dewasa. Karena itu, ketika ia minta aku menemaninya bertemu Firly, mantan pacarnya, aku pun tidak menolak. Dengan berbagai macam perasaan, siang itu juga, aku mengantar ia bertemu dengan mantan pacarnya itu di stasiun Gambir.</p>
<p style="text-align: justify;">Yanti mengenalkan mantan pacarnya itu kepadaku. Setelah itu, aku biarkan mereka mengobrol berdua di kantin stasiun. Aku sendiri, dengan tubuh penuh aliran-aliran hawa hangat dan kadang-kadang panas, hanya mondar-mandir memperhatikan kereta api yang lalu-lalang silih berganti, keluar masuk stasiun Gambir. Aku merasakan, gerakan-gerakan di atas kulit kepalaku semakin kuat dan semakin sering. Sebagaimana aku katakan, gerakan-gerakan itu seperti semut, tapi bukan; seperti kutu, tapi juga bukan. Dan, yang lebih menakutkan, setiap kuraba, tidak ada apa-apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama juga Yanti mengobrol dengan Firly. Setelah senja, barulah ia mengakhiri pertemuannya dan pulang bersamaku. Namun, sejak itu, gerakan-gerakan di kepalaku kian terasa kuat dan “real”. Sangat tidak enak, tapi, dengan pelahan-lahan, beberapa hari ini, aku berusaha mencoba hidup dengan cara itu. Termasuk, ketika menemani Yanti belanja di Blok M, terasa gerakan-gerakan di kepalaku semakin banyak dan satu per satu berjatuhan. Yang paling tidak pernah dapat aku lupakan ialah ketika pada suatu malam, ketika makan bersama Yanti di Blok A, benda-benda yang bergerak itu terasa kian banyak, lalu terasa bergelindingan dari atas kepalaku satu-per satu. Aku merasa ketakutan, tapi aku tidak mampu menjelaskannya kepada Yanti. Lagi pula, bagiku, semua itu masih misteri. Apakah yang berjalan cepat secara mengelinding dan berjatuhan itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika aku renungkan,  walau untuk menjelaskan kejadian-kejadian itu penuh dengan kesulitan, namun aku masih memiliki suatu pemahaman tertentu di dalam batinku. Benda-benda yang bergerak dan kemudian luruh dari kepalaku itu paling tidak dapat aku identifikasi keberadaannya, yaitu sejak aku mulai menyadari hak-hak dan kewajibanku terhadap Yanti dan keluargaku. Sejak aku mulai bersikap proporsional terhadap dirinya setelah aku marah kepada Yanti di rumah makan Padang pada malam itu. Rupanya, kesadaran-kesadaran itu sangat erat kaitannya dengan gerakan-gerakan aneh di kepalaku. Semakin aku longgar dan melepaskan Yanti dengan kemandiriannya, semakin luruh juga benda-benda yang bergerak di kepalaku. Ketika berbelanja di Blok M, aku biarkan Yanti untuk membayar sendiri barang-barang yang dibelinya. Biasanya, aku yang membayar. Kalau ia membayar sendiri, aku marahi dia. Begitu juga ketika makan di Blok A, aku biarkan dia makan sedikit sesuai keinginannya, tidak seperti biasa, aku selalu memarahinya untuk makan yang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua itu ternyata sangat berpengaruh pada keberadaan diriku. Pelahan-lahan, aku mulai merasakan ada “sedikit” kenyamanan dalam diriku. Tapi, sejalan dengan itu, ketakutan akan gila masih terus menghantui diriku. Bukankah semua itu hanya aku yang merasakannya? Tidak ada yang tahu. Jangan-jangan, semua yang terjadi itu hanya halusinasi. Hanya aku yang merasakannya, tidak ada yang mampu memahaminya. Perasaan-perasaan ini tentu saja membuat aku ketakutan. Dengan membaca beberapa pendapat tentang penyakit jiwa, aku coba meyakinkan diriku bahwa aku masih normal. Sama sependapat denganku, Wawan juga menganggap aku masih normal. Malah, katanya, “Abang  tidak sakit, hanya tenaga energi Kundalini Abang tampak sedang bangkit.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tenaga apa? Kundalini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Wawan mengangguk-angguk. Ia menjelaskan sedikit bahwa tenaga Kundalini ini sangat dicari-cari orang dan sangat diyakini dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain, untuk penyembuhan berbagai macam penyakit dan sebab itu cara membangkitkan tenaga Kundalini ini tentu saja sangat dicari-cari orang. Tidak banyak orang yang mampu mengatasinya. Kebanyakan, kata Wawan, setelah energi Kundalininya bangkit, orang tersebut mengalami gangguan jiwa karena tidak mampu menguasainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mendengar Wawan dengan penuh tanda tanya dan karena itu menyimaknya secara seksama. Baru kali ini aku mendengar tentang energi Kundalini. Sambil mendengar ia bercerita, aku menghisap rokokku sebatang demi sebatang. Asap memenuhi ruang kerjaku. Wawan juga sesekali menghembuskan kepulan asap rokoknya sambil menikmati kopi yang telah disiapkan isteriku. Makin malam, ceritanya makin ramai. Namun, yang paling mengejutkanku ialah ketika ia bercerita tentang kejadian yang dialaminya tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah pulang kerja sore tadi, karena gerah, ia mandi. Setelah mandi, ketika melewati dapur yang terletak di belakang, menurut Wawan, ia mendengar suara anak-anak kecil. Semakin ia dengar dengan seksama, suara-suara itu semakin nyata, yaitu suara anak-anak kecil yang menjerit-jerit, “Ramai sekali suara mereka,” kata Wawan, “mereka menjerit-jerit minta tolong.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Memangnya mereka kenapa?” <strong>(<em>Bersambung)</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.neurosains.com/?feed=rss2&amp;p=999</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
